8 bulan lalu · 403 view · 4 min baca menit baca · Buku 25708_63497.jpg
flickr.com

Mencari Socrates Abad 21

Socrates selalu menjadi rujukan dalam berbagai literatur filsafat. Ironisnya, filsafat dewasa ini justru menjauh dari sosok Socrates. Sebagaimana ilmu-ilmu lain, filsafat tak luput dari institusionalisasi pendidikan. Dayanya yang sejati kerap mesti dikorbankan, entah demi klise “kemajuan” atau sekadar keniscayaan dapur yang harus mengepul.

Kenyataan itu menciptakan perbedaan antara “berfilsafat” dan “mengajarkan filsafat,” antara “filsuf” dan “dosen filsafat.” 

Kalau dulu Socrates berfilsafat dengan berkeliling kota, berdiskusi dengan orang dari berbagai latar belakang, kini para dosen filsafat hanya perlu memberi kuliah di ruang kelas kepada para mahasiswa filsafat. Kalau dulu Socrates tak menulis apa pun, kini para dosen filsafat semakin sibuk menulis—entah demi kepuasan pribadi atau sekadar taraf hidup yang lebih layak.

Ini bukan keluhan baru. Sudah sejak abad 19, suara-suara seperti itu mengkristal dalam sebuah kalimat dari Henry David Thoreau, “Zaman ini ada profesor-profesor filsafat,” tulisnya dalam Walden,“tetapi bukan filsuf.”


Carlos Fraenkel adalah seorang dosen filsafat di Universitas McGill, Kanada. Sebagai dosen, ia tidak dapat tidak mengikuti arus filsafat yang kian terpusat ke dunia kampus. 

Namun di tengah kesibukannya sebagai dosen, Fraenkel tak melupakan Sokrates. Bukunya yang terbaru, Teaching Plato in Palestine, mengungkapkan kesetiaannya yang kreatif terhadap sosok Socrates. “Mengajarkan Plato” mungkin biasa-biasa saja. Tetapi “di Palestina”, itulah yang istimewa. Ambisi Fraenkel jauh melampaui idaman rutin pemburu karir akademik: berfilsafat, bukan sekadar mengajarkan filsafat.

Buku ini punya daya tarik, baik dalam hal isi maupun cara penyajian. Dalam hal isi, Fraenkel mengajukan sebuah argumen yang ringkas namun tetap tajam. Menurutnya, filsafat dapat mengubah ketegangan yang muncul dari keragaman (budaya, agama, dan sebagainya) menjadi suatu “budaya debat” (xiv). Tentu, budaya debat ditujukan bukan sekadar demi kenikmatan berdebat, melainkan demi mencari kebenaran dan memperjuangkan perdamaian.

Itulah mengapa Fraenkel tak hanya mempromosikan budaya debat, melainkan juga mengundang kita memupuk “keutamaan berdebat” (virtues of debate): “menghargai kebenaran lebih daripada memenangkan suatu argumen” serta “berupaya sedapat mungkin memahami sudut pandang lawan bicara” (xvi).

Kemajemukan budaya, sosial, dan agama yang kian semarak meniscayakan hal itu. Bagi Fraenkel, kemajemukan itu suatu berkah: ia menantang kita untuk sadar bahwa apa yang paling benar menurut kita belum tentu benar bagi orang lain. 

Perjumpaan dengan liyan menantang kenaifan kita. “Dalam arti tertentu,” kata Fraenkel, “kita dapat memandang diri kita beruntung hidup pada sebuah masa ketika masyarakat semakin heterogen dan multikultural, dan globalisasi mendorong kita berinteraksi melintasi batas nasional, kultural, religius, dan batas-batas lain” (149).

Dalam hal cara penyajian, Fraenkel cukup piawai. Suguhannya cukup ramah bahkan bagi orang yang tak punya latar belakang filsafat. Fraenkel menulis bukan dengan lagak seorang mahaguru, melainkan dengan kisah yang hidup. 

Kalau Nietzsche pernah berujar, “Dari semua yang tertulis, aku hanya menyukai apa yang ditulis oleh seorang dengan darahnya” (artinya tulisan yang dijiwai oleh pergulatan personal si pengarang), Teaching Plato in Palestine barangkali termasuk tulisan semacam itu.

Di situlah letak pesona utama buku ini: ia tak sekadar bersabda. Dalam setiap barisnya, terasa bagaimana Fraenkel bergulat dengan latar belakang personal dan dunia di hadapannya. Orang tuanya berasal dari Brasil, namun pada 1960-an pindah ke Jerman, menyelamatkan diri dari rezim diktator militer. Ketika Fraenkel berusia sepuluh tahun, orangtuanya pulang kampung. Alhasil, ia harus mengalami beratnya pindah dari tatanan serba mapan di Jerman ke suasana serba lain di Brasil. 


Pada salah satu kesempatan ia berkisah, “Saya tak terbiasa disambut dengan pelukan dan ciuman dan tak dapat mengerti mengapa terlambat setengah jam ketika kami diundang ke rumah seseorang dianggap sopan” (139).

Sebagian besar buku ini berisi kisah perjumpaan antar-budaya seperti itu. Fraenkel berkeliling ke lima tempat untuk mendiskusikan filsafat. Lima tempat itu bukan tempat di mana filsafat sudah berkembang atau diterima sebagai sesuatu yang lazim. Fraenkel berdiskusi dengan orang-orang muda Palestina di Yerusalem Timur (bab 1), saudara-saudari muda kita setanah air di UIN Alauddin Makassar (bab 2), orang-orang Yahudi ortodoks-eksklusif di New York (bab 3), siswa-siswi SMA keturunan Afrika di Brasil (bab 4), dan masyarakat adat Mohawk di Kanada (bab 5).

Dalam perjumpaan-perjumpaan itu, Fraenkel tak menempatkan diri sebagai profesor maha tahu. Apa yang dilakukannya lebih tepat disebut “berdialog” daripada “mengajar” atau “ceramah.” Sebagaimana Socrates mengganggu kemapanan pengetahuan mitra-wicaranya, demikian pula Fraenkel tampil sebagai pengganggu (gadfly), mempertanyakan berbagai hal yang tak pernah dipertanyakan dalam masyarakat yang bersangkutan.

Fraenkel tak lupa berlaku adil: selain mempertanyakan, ia juga membiarkan diri dipertanyakan. Tak jarang, perjumpaan dengan budaya lain membuatnya sadar akan banyak hal yang diterima begitu saja dalam lingkungan akademik Eropa/Amerika Utara. 

Sikap ini luar biasa. Seorang profesor filsafat membungkuk, belajar dari orang-orang yang berpendidikan lebih rendah darinya, bahkan yang tak berpendidikan. Seorang yang berasal dari peradaban yang kerap dijadikan rujukan sebagai peradaban maju, justru membuka diri terhadap masyarakat yang kerap dianggap terbelakang.

Sikap itu cukup ampuh untuk menangkis tuduhan etnosentrisme—dalam hal ini eurosentrisme—yang rawan dituduhkan kepada Fraenkel (158). Kerap terjadi, niat untuk lepas dari bias etnosentris justru melumpuhkan daya filsafat untuk menilai bahwa ada hal-hal tertentu yang lebih baik, lebih benar, lebih adil daripada yang lain. Lewat pengalamannya, Fraenkel menyumbang sesuatu yang berharga untuk sedikit mengobati kelumpuhan itu.

Dengan demikian, filsafat seperti diundang kembali ke fitrahnya. Michael Walzer, yang menulis kata pembuka untuk buku ini, berkata, “Fraenkel mendambakan sebuah Athena di mana orang tidak membunuh Socrates melainkan meneladaninya” (xi). 


Itulah mengapa, terlepas dari bayang-bayang eurosentrisme, ada satu ilham kecil yang masih tersisa dari Fraenkel: supaya kita, dalam menangani berbagai soal, lebih mengutamakan akal sehat daripada debat kusir dan kekuatan otot.

  • Judul: Teaching Plato in Palestine: Philosophy in a Divided World
  • Penulis: Carlos Fraenkel
  • Penerbit: Princeton University Press
  • Cetakan: II, 2015
  • Tebal: xviii + 229 halaman
  • ISBN: 978-0-691-17336-8

Artikel Terkait