Tema ini tentang Islam Nusantara, terkesan isu lama, namun seiring dengan bertebarannya orang-orang yang menyebarkan dan memojokkan istilah Islam Nusantara, maka diperlukan jawaban dan klarifikasi sesuai kadar fitnah yang ditebarkan, meminjam istilah ilmu bilagoh “Ta’kid bi hasab al-inkar“ (dikuatkan sesuai dengan kadar penolakannya)

Penamaan (nomenklatur) Islam Nusantara bukan untuk mengkotak-kotakkan Islam seperti tuduhan mereka-mereka yang tidak paham atau gagal paham, karena sejak masa generasi sahabat dan tabi’in, istilah Islam yang pakai embel-embel sudah ada, misalnya dikenal Ansor dan Muhajirin, kalau memang yang dilihat adalah hakikatnya yaitu, kenapa namanya harus ada istilah Ansor dan Muhajirin?

Begitupun pada era pendiri Mazhab Maliki dan al-Syafi’i, dikenal juga istilah “Amal ahli Madinah” di mana Imam Malik berpendapat bahwa cara beragama Ahli Madinah dapatkan dijadikan hujjah bahkan didahulukan daripada Qiyas dan Hadis Ahadi, karena Madinah ialah Darul Hirah yang mana Al-Qur'an diturunkan, Nabi Muhammad saw dan sahabat hidup di Madinah, penduduk madinah lebih mengetahui tentang sebab-sebab penurunan Al-qur'an

Namun pendapat ini ditolak oleh murid Imam Malik sendiri, yaitu Imam al-Syafi’i.

Menurutnya, pendapat ini adalah bentuk monopoli dan karena mereka hidup di luar madinah juga sama dengan manusia tempat lain, dan memang terbukti secara perbandingan ulama-ulama yang muncul dari luar Madinah lebih banyak daripada dari madinah, misalnya Imam al-Syafii’ dari Irak, Imam al-Bukhari dari Bukhara, Ibn Malik pengerang Alfiyah lahir dan hidup di Andalus (Spanyol).

Ya kalau memang yang dilihat secara hakikatnya bahwa Islam itu satu, begitupun manusia (orang) hakikatnya satu yaitu “al-Hayawan Natiq” (hewan yang dapat berbicara/berpikir), dalam isitilah ilmu Mantiq, namun untuk memudahkan identitas dan klasifikasi maka dimunculkan istilah orang Indonesia, orang Amerika, sudah masuk ke Indonesia pun diklasifikasi pula, menjadi orang sunda, orang Jawa dan lain-lain

Wal hasil penamaan islam dan embel-embelnya adalah sebuah keniscayaan, yang bertujuan sebagai identitas atau pengklasifikasian, meskipun pada awalnya penulis lebih memilih istilah “Muslim Nusantara”  bukan “Islam Nusantara”

Islam Nusantara dikupas menurut Ilmu gramatikal bahasa Arab (Nahwu-Saraf)

Salah satu yang dikenalkan dalam Ilmu Nahwu adalah Idofat yang berarti menggabungkan dua lapad supaya menghasilkan makna takhsis atau makna ta’rif,  dimana  lapad yang pertama disebut Mudof dan yang kedua disebut mudofileh

Misalnya lapad Bait (Rumah) dan kata Allah, jadi Baitullah artinya Rumah milik Allah, begitupula lapad Khotam (cincin) dan Hadid  (besi) jadi Khotamu hadidin artinya Cincin dari Besi, dan lapad Mukr (siasat) dan lapad al-Lail (malam) jadi Mukrulail artinya siasat di malam hari.

Alhasil ada 3 makna yang keluar dari perpaduan mudof dan mudofileh, yaitu makna lam (milik), makna “min” (dari), dan makna fi (di/dalam)

Makna yang terkandung dalam Islam Nusantara

Perpaduan Idofat dari kata Islam dan Nusantara jadi Islam Nusantara jika mengacu pada ketentuan mempunyai salah satu dari 3 makna di atas maka, terdapat 3 arti kemungkinan: 1) Islam milik Nusantara, 2) Islam dari Nusantara, dan 3) Islam di Nusantara

Islam Nusantara jika di artikan versi 1, yaitu Islam milik Nusantara, tentu hal ini tertolak karena bahwasanya Islam bukan milik Nusantara tapi milik seluruh manusia sebagai rahmat semesta alam (rahmatan lil alamin),

Begitu pula jika Islam Nusantara diartikan versi 2, Islam dari Nusantara, maka arti ini juga tertolak karena sumber Islam bukan Nusantara tapi secara Geografis dari Timur Tengah dibawakan dari tempat kelahiran Nabi Muhammad saw. dan secara sumber dari al-Quran, Hadis, Ijma dan Qiyas

Yang paling relevan, atau mendakati, Istilah Islam Nusantara dengan versi yang ketiga yaitu “Islam di Nusantara” artinya cara keberagamaan Islam di Nusantara

Konsepsi Islam di Nusantara ini hari-hari sudah diisyaratkan oleh almarhmun Gus Dur, dengan nama Islam Ramah bukan Islam Marah, Islam yang Toleran bukan Islam yang Arogan, Islam yang mengajak bukan Islam mengejek, tidak seperti Islam yang di pahami dan dipraktekan mereka menjadi Islam sebagai alasan untuk peperangan dan memperebutkan kekuasaan