Ketika Ramadan memasuki paruh kedua, umat Islam di seluruh dunia mencari dan memburu malam Lailatul Qadar. Yakni malam yang telah disebutkan dalam al-Qur’an lebih baik daripada seribu bulan, malam yang di dalamnya para malaikat turun dengan membawa kedamaian dan kesalamatan (Q.S. al-Qadar: 3-5).

Ulama berbeda pendapat mengenai kapan sejatinya malam Lailatul Qadar itu terjadi. Dalam kitab Irsyād al-‘aql, karya Muhammad al-‘Imādi diterangkan bahwasannya ada 16 varian pendapat tentang waktu Lailatul Qadar, di antaranya: Bulan Ramadan malam ke-21, malam ke-23, malam ke-25, malam ke-27, malam ke-29. Pendapat lainnya mengatakan bahwa Lailatul Qadar diturunkan hanya pada masa al-Qur’an diturunkan di zaman Nabi, namun ini pendapat yang lemah.

Di antara sekian banyak pendapat, yang paling kuat ialah: malam Lailatul Qadar turun pada malam yang dirahasiakan di antara sepertiga akhir bulan Ramadan, yang juga diperkuat hadis Nabi Muhammad: “Iltamisū Lailatal Qadri fi al-‘Asyr al-Awākhir min Syahr Ramadhān” (carilah malam Lailatul Qadar itu dalam sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan).

Dari semua pendapat yang ada, semuanya adalah hasil ijtihad para ulama, karena al-Qur’an sendiri tidak secara nash menggariskan kapan turunnya malam Lailatul Qadar. Tentunya ada hikmah di balik kerahasiaan ini, yakni agar umat Islam mencarinya selama kurun waktu sepertiga akhir bulan Ramadan, dan tidak memilih-milih malam tertentu untuk menghadap kepada Allah.

Juga menekankan aspek “usaha” yang sungguh-sungguh dalam mencarinya, serta pengharapan penuh terhadap balasan dari malam Lailatul Qadar (Imānan wa Ihtisāban). Di antara umat-umat Nabi terdahulu, hanyalah umat Nabi Muhammad yang mendapatkan keistimewaan malam Lailatul Qadar ini, yaitu beribadah satu malam lebih baik pahalanya dibandingkan seribu bulan, atau setara dengan 83 tahun.

Hal ini dikarenakan, rentang usia yang dimiliki oleh umat Nabi Muhammad relatif lebih pendek dibandingkan umat-umat Nabi sebelumnya yang bisa mencapai ratusan tahun. Sehingga Allah memberikan keistimewaan malam Lailatul Qadar untuk kita (umat Muhammad) agar kita dapat menyamai ibadah umat-umat sebelum kita, meskipun dengan selisih usia yang jauh berbeda.

Dengan agungnya keistimewaan malam ini, dan juga janji balasan yang besar dari Allah, menjadikan sebuah keniscayaan, jika kita mengisi malam-malam sepertiga akhir Ramadan kita dengan berserah diri kepada Allah, melepaskan baju-baju keangkuhan dan keduniawian untuk tunduk dan bersujud dalam kuasa Tuhan yang merajai semesta alam.

Betapapun Lailatul Qadar diturunkan oleh Allah pada suatu malam yang kita tidak bisa menerka dan memastikannya, namun setidaknya yang bisa kita lakukan hanyalah beribadah dan memohonkan ampun atas segala khilaf yang telah kita lakukan pada masa-masa sebelumnya.

Yang menjadi menarik untuk kita cermati adalah keistimewaan satu malam yang lebih baik dan lebih agung daripada seribu bulan, atau setara dengan sekitar 83 tahun. Lantas timbul sebuah pertanyaan, apakah dengan beribadah satu malam saja bisa menggantikan dosa-dosa ke depan yang selama 83 tahun akan kita lakukan?

Bisakah kita mencukupkan diri untuk memburu Lailatul Qadar dengan ibadah semaksimal mungkin di sepertiga akhir Ramadhan setiap tahunnya, namun mengabaikan ibadah di hari-hari yang lain ? Maka di sini boleh kita menduga, bahwa sejatinya spirit dari Lailatul Qadar bukanlah terletak pada kapan ketentuan malam Lailatul Qadar itu diturunkan.

Tapi lebih kepada spirit untuk menggapai rida Ilahi, spirit untuk berbenah, yaitu sebuah upaya yang terus-menerus untuk keluar dari kealpaan-kealpaan dan dosa yang sebelumnya sering kali dilakukan.

Sehingga dampak dari Lailatul Qadar tersebut tidak hanya berimbas pada bertambahnya catatan pahala di tangan malaikat saja, tetapi juga perubahan perilaku secara totalitas pasca-Ramadhan, untuk perubahan yang lebih baik, baik itu hubungannya dengan ibadah kepada Tuhannya, ataupun ketika berinteraksi terhadap sesamanya.

Artinya, tanda-tanda yang paling jelas apakah kita tahun ini mendapatkan Lailatul Qadar atau tidak, maka bisa kita lihat pasca Ramadhan, apakah semakin ringan melakukan kebaikan atau sebaliknya?