Berpikir ulang, merenungi tentang kejatuhan pertama kali manusia di taman firdaus, berarti bahwa saya turut mempertanyakan mengapa manusia ada, darimana asalnya? Banyak teks-teks suci dan teks-teks sejarah menceritakan bagaimana kisah manusia diciptakan, secara lengkap. Tetapi, kok, saya masih mempertanyakan mengapa diri saya ada?

Jawaban yang ditemukan hanya remang-remang dan kabur. Katanya manusia ada untuk merawat bumi, untuk melanjutkan keturunan, untuk saling berbagi, saling mengasihi, demikian narasi kodrat manusia terjelaskan kepada semesta. Tetapi mata dan pikiran saya tidak amnesia; ribuan hektar tanah hutan dibumihanguskan untuk perusahaan besar yang menciptakan limbah dan pengrusakan alam dan manusia secara massive. Kemudian konflik sosial menjadi mendarah daging dalam diri manusia, baik konflik yang berlangsung dengan dirinya sendiri maupun orang lain. Keserakahan akan penguasaan tak terkendalikan.

Inikah jawaban semesta?

Keberadaan agama pun tak turut serta-merta menjawab kegelisahan epistemik yang memunculkan banyak pertanyaan-pertanyaan baru tentang kodrati manusia, justru semakin menimbulkan kengerian dan keterasingan; kengerian karena akan ada manusia-manusia yang akan di neraka dan di surga, serta keterasingan karena terdapat macam-macam agama yang masing-masing mengklaim “paling benar” di muka bumi ini. Seorang manusia akan merasa terasing oleh kelompok manusia lainnya.

Hakekat kebenaran itu sendiri tidak akan didapatkan secara mudah dan gratisan, apalagi mencari kebenaran di mbah google yang menawarkan dogmatis gersang serta kerdil. Semakin hari dunia ini semakin menciptakan suasana nyaman karena dunia semakin dimanjakan dengan teknologi serba ada, mulai dari cara onani paling gampang hingga kepada mencari Tuhan paling praktis. Kepraktisan yang diciptakan adalah kesialan yang dialami oleh manusia-manusia alay masa kini. Semakin banyak posting “Like and Share” di sosial media yang akan menjadi boomerang bagi manusia-manusia yang tidak berpikir panjang.

Saya adalah penggemar karya-karya Foucault, baginya hidup adalah seni, hidup adalah penciptaan diri lewat pelampauan yang terus-menerus. Oleh karena itu, adanya sekat pengkategorian yang membungkus rapi eksistensi manusia sudah semestinya di koyak habis. Dalam hal ini Foucault mengadopsi prinsip genealogis untuk mengobrak-abrik sekat yang dimutlakkan oleh masyarakat luas.

Ikutilah apa kata Foucault; hiduplah layaknya karya seni! Kata para filsuf, kodrat manusia adalah sesuatu yang diciptakan oleh manusia itu sendiri, oleh karenanya manusia dapat mendobraknya. Manusia dapat menciptakan kodratnya sendiri-sendiri, karena tidak ada satupun yang kodrati dalam diri manusia, semua adalah bentukan sosial. Saya kok, setuju dengan pendapat filsuf, ketimbang pendapat seorang pastor yang ketika khotbah mengatakan bahwa yang agama lain tidak akan mendapatkan berkat. Bahkan rumah ibadah merupakan tempat bertumbuhnya dogma-dogma kerdil dan cacat.

Jika terdapat orang yang cacat mental (tidak waras secara psikologi), kemudian dikonstruksi oleh lingkungan sosial bahwa orang tersebut kodratnya menjadi “orang gila”. Kodrati ini kemudian menimbulkan degradasi yang membuat manusia harus dirantai dan dikurung, bukan disembuhkan. Demikian jika seseorang mengakui dirinya sebagai LGBT (Lesbian Gay Bisexual and Transgender), kemudian orang itu akan dieksklusi dari pergaulan sosial, katanya “menyalahi kodrat”.

Edan! That’s really madness.

Permisalan lain yaitu kodrati secara agamis seorang perempuan adalah melahirkan, menuruti perintah suami, dan bermacam narasi lainnya. bagaimana jika gen laki-laki bersemayam di dalam tubuhnya, sehingga perempuan tersebut tidak bisa melahirkan? Kemudian bukan lagi dikatakan kodratnya sebagai perempuan, tetapi kodratnya sebagai “orang sakit” karena tidak bisa ber-anak. Mengapa teks suci kemudian mengharuskan perempuan dikodratkan sebagai “penurut”, bukan panutan dalam rumah tangga? Katanya, kodrat itu pemberian Tuhan.

Berbeda lagi, jika seorang laki-laki yang menyukai laki-laki lainnya, itu bukan dikatakan sebagai kodrat manusia. Bahkan tidak ada satupun narasi kodrat untuk ikhwal ini. Kodrat laki-laki yaitu maskulin, memiliki penis dan memiliki jakun. Lha, kok saya pernah menemukan perempuan berjakun dan berkumis, maskulin pula. Padahal disisi lain saya belum menemukan narasi mutlak kodrat laki-laki “harus menyukai perempuan”.

Bahkan narasi dalam kitab suci sekalipun, tidak terdapat “pemaksaan” bahwa laki-laki harus making love (ML) dengan perempuan. Tetapi manusia lah yang membuat penghakiman itu terhadap manusia lainnya. Sehingga terdapat kelompok manusia yang di cap hina, sampah masyarakat, pendosa. Sejak kapan manusia diberi kuasa untuk menghakimi manusia lainnya?

Nah, apa sebenarnya makna kodrat manusia? Saya juga sedang mencari tahu, dan yang pasti saya bukan anak alay yang dikit-dikit bertanya kepada si mbah google yang diagungkan itu, katanya satu klik di bawah Tuhan—sang maha tahu segalanya.