Perjalanan waktu dari senja ke senja membawa kita pada hitungan akhir dari sepuluh malam pertama. Selanjutnya menapaki sepuluh malam terakhir.

Ramadhan akan segera berlalu, dimana hitungannya bertambah dari hari ke hari. Justru tidak pernha mengecil, hanya membesar. Setelah utuh pada purnama, kini menjauh dengan mengecil kembali untuk wujud menjadi hilal 1 syawal mendatang. Bersamaan dengan datangnya hari kemenangan dari pertempuran dengan hawa nafsu.

Hanya saja, salah satu rahasia yang dikandung Ramadhan terdapat pada malam lailatuqadar. Malam itu nyata adanya walau akan terus menjadi rahasia sepanjang keberadaan dunia itu sendiri. Hanya saja tidak semua penduduk bumi yang muslim akan mendapatkan ketetapan terkait malam itu.

Tetap saja akan menjadi misteri, dimana hamba yang terpilih saja akan mendapatkannya. Walau kita tidak akan pernah tahu siapa sosok penerimanya. Atau bahkan ketika kita mendapatkannya, justru tidak mengenali keberadaanya.

1442 H, Ramadhan dalam sepi. Begitu pula sesekali diselipi dengan kecemasan dan juga kekhawatiran.

Mencarinyapun tak hanya di kesunyian masjid ataupun mushallah. Kini, tetap dapat dilaksanakan di rumah masing-masing. Tarawih ataupun qiyamulail didirikan bersama dengan keluarga inti.

Malam ini kemungkinannya dapat digapai dengan pelbagai keterangan.

Pertama, itu dimulai dengan tanda malam nuzulul quran. Malam dimana quran ketika itu diturunkan. Dalam Alqadar (97: 1-5) bahwa malam diturunkannya Alquran disebut dengan lailatul qadr.

Addukhan (44:3-6) menggunakan kata malam almubaraq. Dimana diterangkan langit pada malam itu segala sesuatunya dengan hikmah. Sekaligus ini juga menjadi peringatan.

Olehnya, malam lailatul qadr tidak saja menjadi malam untuk mendapatkan kebaikan yang menjadi hikmah. Pada saat yang sama, ada refleksi dan instropeksi. Sehingga wujud sebuah kesadaran tersendiri. Tetapi juga penerimanya hanya akan melakukan kebenaran semata dan itu akan melampaui waktu yang tidak pendek, seribu bulan.

Pertanda seribu dapat saja dimaknai sebagai hitungan yang banyak. Tak persis secara eksak bahwa seribu itu menjadi batasan. Bahkan sebagai sebuah hikmah akan menjadi perjalanan kehidupan manusia sang penerimanya. Atau juga melampaui usia biologis yang terbatas.

Dimana usia sosiologis akan terus menghidupkannya dengan percakapan, juga menjadi referensi. Sekaligus menebarkan kebaikan yang tak terbatas.

Kedua, baik Bukhari (4/225) maupun Muslim (1169) mengemukakan riwayat Aisyah bahwa baginda nabi senantiasa mencari malam itu pada sepuluh malam terakhir dengan aktivitas iktikaf.

Sementara itu, Ibnu Umar menegaskan bahwa jangan sampai melewatkan tujuh malam terakhir. Jikalau saja dalam malam-malam sebelumnya sudah berikhtiar untuk menggapainya, namun tetap belum diraih. Ada kesempatan tujuh malam terakhir (Bukhari 4/221 dan Muslim 1165).

Mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Berdialog secara personal. Tidak saja dalam doa, juga wujud dalam tadarrus, berdiam diri (iktikaf), dan qiyamulail.

Pada malam-malam itu, rasul mengintensifkan ibadah. Termasuk membangunkan keluarga. Ini juga dilakukan dengan mengurangi tidur dan justru terus berjaga dengan menghidupkan malam-malam itu (Bukhari 4/233 dan Muslim 1174).

Di masa sebelum pandemi, masjid-masjid dibuka dengan kebersamaan jamaah sekaligus dengan shalat taubah, dan  shalat tasbih. Bahkan diakhiri dengan sahur bersama. Takmir mengorganisir jamaah untuk kebersamaan dalam menjalani malam-malam akhir Ramadhan. Masa sekarang, kesemuanya dilakukan dengan keluarga ini dan di rumah saja.

Pelbagai keterangan yang beragam itu memberikan pilihan-pilihan dan juga spektrum yang luas untuk menggapainya. Tidak terbatas pada satu kemungkinan saja.

Sebagai perjalanan spiritual, maka ini tidak saja hubungan personal dengan Sang Pencipta. Adapun keutamaannya adalah setelahnya. Melampaui bidang sajadah. Dimana kesalehan yang digapai akan tercermin pada laku sosial setelahnya.

Berdampak luas, dan juga dalam kurun waktu yang tidak pendek. Kata seribu bulan menjadi tanda tempo yang keberlangsungannya. Atau juga sebagai tanda sepanjang kehidupan individu muslim tersebut atau juga setelahnya.

Ibnu Katsir memberikan penjelasan bahwa malam lailatul qadr terkait dengan keberkahan. Tidak saja dengan ubudiyah mahdhah. Tetapi dengan majelis ilmu menjadi alternatif untuk menggapainya.

Ketika malam itu disibukkan dengan menuntut ilmu, mengkaji pengetahuan, maka itu jalan yang dapat mengantarkan seorang hamba dalam mencapainya.

Turunnya malaikat ke langit dan memenuhi dua pertiga langit juga menjadi tanda bagi naungan kedamaian untuk para penuntut ilmu. Bahkan sayap-sayap malaikatpun senantiasa menaungi para pencari ilmu pengetahuan (Abu Daud, 3641; Ibnu Majah, 223).

Orang-orang yang berilmu senantiasa rendah hati dan juga membawa kedamaian (Minhaju as-Sawi Syarhu Usul Thariqatu as-Sadati ‘Ali Ba’alawiy, Darul Ilm ad-Da’wah 84-85). Jika ini berlangsung lama dan berdampak sosial, bolehjadi para penuntut ilmu inilah yang menjadi penerima malam “keramat” itu.

Dua penjelasan lainnya juga senanada sebagaimana dikemukakan Abul ‘Abbas Al-Qurthubi dalam Al-Mufhim Asykala min Talkhis Kitab Muslim. Serta Ibnul Qayyim dalam Miftah Dar As-Sa’adah (1: 63) bahwa orang yang belajar adalah orang yang mulia dan terhormat.

Tidak saja itu, mereka juga memuliakan dan menghormati dirinya dengan senantiasa berperilaku baik.

Dengan demikian, bagi para pelajar ini justru yang wujud dari dirinya hanyalah kebaikan dan kehormatan sebagai ciri yang melingkupinya.

Pada saat yang sama, ketika yang terpancar itu hanyalah hikmah, maka mereka sesungguhnya bolehjadi adalah penerima malam lailatul qadr.

Walaupun tidak tahu kapan dan Ketika menggenggamnnya, di saat upaya terbaik dilakukan untuk menuju ke sana, itu sudah merupakan awal dari pencapaiannya.