Sepengetahuan saya, keajaiban sosial media awalnya hanya melahirkan generasi narsis. Orang orang aktif di media sosial, pasang foto tampan rupawan, jika tidak punya tampang, mereka memilih pasang foto artis biduan atau oppa-oppa korea. Cari teman, pacar, atau selingkungan banyak dilakukan di media sosial.

Tapi, entah dari mana asal muasalnya, tiba-tiba media sosial menjadi ajang untuk adu otak, aduk pemikiran. Setiap orang memposisikan diri sebagai pihak yang benar, lantas memberi tanggapan. Ada yang sopan dan ada pula yang nantang.

Perlu cukup waktu untuk berkomentar atau membalas tanggapan orang lain karena perang jari-jari tangan tersebut memerlukan waktu panjang sampai kedua pihak merasa puas. Namun, ini jarang terjadi.

Definisi puas di sini adalah ketidakpuasan itu sendiri. Sebab, 2 pihak yang bertengkar di media sosial seringkali salah satunya harus mengalah dan tidak lagi membalas komentarnya. Akibatnya, urat-urat saraf jadi kejelimet karena tak kuasa menahan sirkulasi darah ke otak yang naik ke secara mendadak.

Bisa jadi awalnya perselisihan terjadi semenjak Pilpres 2014. Perselisihan yang harusnya disudahi sejak Pilpres berakhir, ternyata merembet sampai sekarang. Penyebabnya, bisa jadi dari kekalahan lawan politik yang susah move on, dendam kesumat, atau merasa ada ketidakberesan yang perlu disuarakan. Tidak cukup mewakili orang besar dan berpengaruh, masyarakat awam yang berasal dari berbagai profesi, latar belakang ikut nimbrung jadi satu.

Ini juga dimulai dari para penguasa yang mengaku menginvestasikan waktu, uang, tenaga, dan pemikiran mereka hanya untuk bangsa dan negara, katanya. Lalu, dari sini muncul perselisihan kecil yang lambat laun menjadi besar. Walaupun mereka mengaku sama-sama beritikad baik, namun proses dan hasil yang ada tidak selalu baik. Perbedaaan tujuan, visi misi, dan ideologi seseorang yang menyebabkan perselisihan selalu ada dan sulit dihilangkan.

Dalam perang di media sosial, akan selalu ada pihak yang dirugikan, namun banyak pula yang diuntungkan. Media tentu mengambil keuntungan yang besar dari perselisihan ini. Mereka dapat banyak bahan berita yang tentu berpotensi viral dan menggiurkan dari segi iklan.

Akibat dari debat kusir ini, muncul akun-akun media sosial yang khusus digunakan sebagai bentuk dukungan dan pembelaan pada setiap kubu. Di Instagram, muncul akun @politikcrazyid, @obrolanpolitik, dan akun meme-meme politik yang ikut meramaikan pemberitan perselisihan.

Tidak kalah, akun seleb, PNS, pengangguran, para ustaz-ustazah sosmed, sampai anak alay setengah cabe krispy ikut masuk ke dalam lubang perselisihan. Tak ayal, akun Instagram mereka pun penuh dengan like dan ratusan ribu followers yang barang tentu akan menarik perhatian para endorsement peninggi badan, pembesar penis, atau pembesar payudara.

Muncul pula ‘cendekiawan’ media sosial yang mengungkap opini, data, fakta yang akan dikupas setajam silet. Ada Jonru yang menjadi pionir politik dari kubu agamis. Dari kubu lawannya, ada pula Denny Siregar. Muncul juga penulis senior yang ikut terjun dalam perselisihan.

Bahkan, ada orang anonim yang menjadi terkenal. Mereka mendapat lahan pekerjaan baru, diundang menjadi narasumber di forum diskusi dan seminar intelektual. Ini juga nyambung dengan urusan penyewaan hotel dan gedung serbaguna yang akan melonjak naik dipenuhi permintaan booking tempat untuk diadakannya semintar tersebut.

Portal web dan blogging seperti kompasiana kebanjiran tulisan dan pembaca yang memberitakan perselisihan itu. Jelas, pendapatkan mereka akan naik. Tayangan ulang Mata Najwa atau ILC di Youtube yang sudah di monetize dengan iklan Adsense membawa keuntungan yang lebih besar karena ketertarikan orang-orang akan perselisihan.

Warung kopi dan angkringan jauh lebih ramai karena pelanggan lebih suka berlama-lama membahas pemberitaaan yang viral lewat sebuah perselisihan yang tak kunjung usai. Sebegitu menggiurkannya bisnis perselisihan ini, sampai menyebar hoax dan SARA pun ikut kebagian jatah lewat pekerjaan buzzer atau penulis bayaran.

Semua yang terjadi sekarang ini lahir dari kebebasan berpendapat. Lebih tepatnya, kebebasan yang tidak bertanggung jawab. Perselisihan hanya menguntungkan pribadi dan kelompoknya masing-masing, bukan keuntungan bangsa dan negara.

Bayangkan, mau tidak mau, suka tidak suka, inilah yang terjadi. Bisnis ternyata bisa dibentuk dari apa saja, bukan sekadar pada sektor dagang dan jasa yang klasik.

Entah kita harus sedih atau bahagia, namun mungkin saja sektor bisnis perselihan ini sedikit membantu memajukan perekonomian sekelompok orang-orang Indonesia. Perselisihan jadi produk bisnis yang dari daun sampai akarnya bisa menghasilkan pundi-pundi materi.

Coba bayangkan jika Indonesia ini adem ayem saja, tidak ada yang namanya perselisihan seperti yang terjadi sekarang. Indonesia akan dipenuhi oleh kaum alay chili-chilian saja (kurang variatif). Mereka semua, yang ikut andil dalam lubang perselisihan ini, patut bersyukur karena lewat jalan inilah mereka bisa makan dan bertahan hidup di balik kejamnya dunia yang fana ini.