Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

 Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (urusan) dunia [Al-Qashash/28:77]

Setiap orang dilahirkan dengan jalan takdirnya masing – masing, begitupun dengan caranya menjaga keseimbangan dalam mengejar kebahagiaan negeri akhirat dengan kebahagiaan dari urusan dunianya.

Namaku Yuli, umurku 30 tahun. Aku seorang ibu pekerja yang telah dikaruniai seorang suami dan dua balita. Inilah aku dengan jalan hidup dan caraku dalam mengejar keseimbangan hidupku. Namun dalam beberapa bulan terakhir aku sedang diuji dalam menentukan suatu keputusan. Apakah melanjutkan bekerja ditempat kerja saat ini, atau memulai langkah baru mencari pekerjaan lain yang dapat dikerjakan dirumah.

Beberapa bulan terakhir sering aku menemukan ayat al-qur’an atau nasihat -  nasihat dari media sosial yang tak sengaja aku baca dan menerangkan tentang wanita yang tidak boleh tabarruj’ (berlebih -lebihan dalam berdandan), kemuliaan seorang istri untuk tetap tinggal dirumah, atau tugas utama seorang ibu dan istri.

Jujur Memang ini jadi tamparan keras bagiku, seorang ibu pekerja yang kadang pulang telat karena mementingkan pekerjaannya. Sampai rumah aku sibuk di dapur hingga lupa menyapa anak - anak yang sudah menunggu kepulanganku sejak siang. Jika malam tiba aku lupa untuk menyapa suami ku karena terlalu sibuk mengurusi pekerjaan rumah yang ketika siang hari aku tinggalkan. Hingga akhirnya kadang aku tertidur di dapur sampai aku terbangun pagi lalu melanjutkan aktiftas ku menyiapkan makanan didapur hingga aku berangkat bekerja kembali.

Rasanya terdengar klasik, aku yang setiap kali selesai membaca ayat atau nasihat tersebut merasa termotivasi untuk menjadikan itu sebagai salah satu tujuan utama hidupku. Ya, seorang istri yang tinggal tetap tinggal dirumah. Tetap bekerja dengan bagaimanapun caranya, pekerjaan yang bisa aku lakukan dari rumah dan tetap bisa mengutamakan tugas utama aku sebagai seorang istri dan ibu.

Biasanya setelah itu aku akan mulai mencari informasi di internet tentang pekerjaan yang bisa aku lakukan dari rumah. Kadang ketika sedang melihat – lihat berita di instagram tiba - tiba mataku tertuju pada  pelatihan dengan tema bidang pekerjaan yang memang bisa dilakukan dari rumah. Tanpa fikir panjang akupun mendaftar pelatihan tersebut. Namun tak jarang di pertengahan pelatihan onlineku aku merasa jenuh, menyerah karena bukan ini bidang yang aku cari. Jika sudah seperti itu aku akan kembali fokus pada keseharianku dan terlupa dengan niat awalku.

Aku pun mulai menikmati kembali pekerjaan yang sedang aku jalani saat ini dan beranggapan mungkin ini jalan terbaik. Aku berusaha meyakinkan diri bahwa kerikil saat menjalankan pekerjaan ku adalah hal yang wajar, terlebih ketika aku mendengar motivasi ibu - ibu yang sudah senior dan telah melewati fase kegalauan seperti yang aku rasakan saat ini.

Mereka mengatakan pernah merasakan bagaimana susahnya membagi waktu antara tugas pekerjaan dan tugas rumah. Terlebih jika keadaannya sama sepertiku saat ini, memiliki anak kecil dan memilih tidak memiliki asisten rumah tangga dengan tujuan untuk melatih kemandirian dan tanggung jawab anggota keluarga. Memang bukan hal yang mudah, namun jika kita menjalankan keduanya dengan ikhlas, ingsyaallah dengan sendirinya akan terlewati dengan mudah.

Setiap selesai mendengarkan motivasi tersebut aku selalu merasa tenang dan bisa tetap berada dalam zona nyamanku. Namun tak berjalan lama, seolah memang inilah saatnya aku mendapatkan hidayah. Satu atau dua bulan berikutnya perang batinku mulai muncul kembali, aku akan kembali pada siklus yang sama. Diingatkan kembali mengenai kewajiban utama seorang istri dan seorang ibu, bahkan azab bagi orang - orang yang melampaui batas.

Akupun mulai teringat kembali niat ku dulu yang sudah aku kubur dalam - dalam. Niat untuk bekerja dari rumah dengan tetap mengutamakan tugas ku sebagai seorang istri dan ibu. Tapi aku bingung, pekerjaan apa yang sebaiknya aku pilih, karena setiap aku mencoba belajar hal baru selalu terputus di tengah jalan.

Akupun berada pada puncak keputusasaan, kali ini tanpa fikir panjang aku menyampaikan kepada suami bahwa aku ingin berhenti bekerja dan tinggal dirumah saja. Ternyata tak seperti dugaanku, suamiku dengan mudah menyetujui keputusanku. Hanya ia berpesan agar aku memikirkan Kembali keputusanku, aku diminta mempertimbangkan apakah aku yakin akan kuat diam dirumah dengan sepenuhnya mengerjakan pekerjaan rumah tanpa ada kesibukan yang lain. Sedangkan aku terbiasa bekerja, tentu lama – kelamaan aku akan menjadi bosan dan stress.

Sialnya kekhawatiran suamiku memang masuk akal, karena di komplek perumahan kami hampir semua nya ibu pekerja yang jarang ada dirumah dan anak - anakku masih kecil, tentu aku akan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, pasti aku akan mudah bosan dan stress.

Mengingat hal itu akupun berfikirkeras, aku sadar memang setiap keputusan pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Salah juga kalau aku terus befikir keras namun tidak dibarengi dengan usaha yang nyata. Akupun sudah lelah dan tak mau kembali pada siklus yang membuat kepalaku pusing tujuh keliling.

Saat ini aku niatkan laahaula walaaquwwata illa billah, aku akan berusaha mencari kembali pekerjaan yang bisa aku lakukan dari rumah yang sesuai dengan syari’at Islam agar aku bisa mencapai salah satu tujuan hidupku menjadi istri dan ibu yang shalehah.

Dan aku akan memberikan waktu kepada diriku untuk tetap menjalani pekerjaan ku saat ini hingga aku menemukan pekerjaan yang sesuai dengan tujuan utamaku. Dengan catatan aku harus tetap semangat memperbaiki diri, agar aku bisa tetap mengutamakan suami dan anak anakku walaupun dengan pekerjaanku saat ini dan memperisapkan diri untuk menyambut pekerjaan baru yang menjadi impianku.