Setiap orang rasa-rasanya selalu mencari kemenangan. Padahal hidup ini adalah sebuah kekalahan. Hidup adalah kompetisi, tak bisa dimungkiri. Kemenangan tidaklah abadi. Jika saat ini kamu menang, mungkin tidak esok hari.

Jika dianggap dengan harta, orang miskin adalah yang kalah. Walaupun demikian, sering kita lihat sesama orang miskin saling berkompetisi. Mencari pemenang di antara orang-orang yang kalah.

Kalau ditanya siapa itu orang miskin, saya tidak tahu jawabannya. Jika dinilai dari penampilannya, bisa jadi adalah pemulung. Walaupun saya sangat tahu tidak semua pemulung itu miskin. Tapi anggap saja demikian.

Pernah suatu ketika saya melihat pemulung berebut nasi bungkus yang dibagikan oleh komunitas berbagi. Suatu hal yang jarang saya lihat ketika mereka mencari barang-barang bekas. Setahu saya, mereka tidak pernah berebut barang bekas. Namun mereka berebut nasi bungkus itu, satu di antaranya tidak puas dengan satu nasi bungkus saja.

Padahal orang-orang di komunitas berbagi itu membawa banyak nasi. Saya rasa jika dibagikan semua, maka nasi itu akan banyak tersisa. Kemenangan itu tentang siapa yang duluan mendapatkan nasi atau siapa yang mendapatkan nasi lebih dari satu bungkus.

Memang ada pemulung yang mengambi lebih dari satu nasi untuk dibagikan ke kerabatnya. Tetapi ada juga yang ingin semua nasi yang didapatkannya dimakan sendiri.

Tidak jauh dari lokasi itu, yang mana adalah pasar tradisional di tengah kota Jogja, saya berjumpa kembali dengan pemulung di sebuah angkringan. Ia bukan salah satu dari mereka. Kali ini saya tidak memperhatikan si pemulung melainkan pedagang angkringannya. Ia sedang menggerutu karena ulah pedagang angkringan tetangganya.

Di sana adalah sebuah kompleks pedagang kaki lima. Banyak pedagang angkringan yang membuka lapaknya.

Seorang ibu pedagang angkringan ngrasani pedagang angkringan di depannya karena ia tidak mau berbagi pelanggan. Katanya, “Aturan kalau nasi kucingnya sudah habis tidak perlu masak lagi, biar kita kebagian pengunjung.” Saya memang melihat nasi kucing di angkringannya masih menumpuk.

Pada hari lain, saya berkunjung ke sana lagi. Kali ini giliran pedagang angkringan yang tidak mau berbagi pelanggan ngrasani pedagang angkringan lain. Katanya, “Kok bisa beli motor baru, emangnya bisa nyicil angsurannya?” dengan nada nyinyir.

Mereka seakan selalu mencari kemenangan dengan merasa paling sukses di antara pedagang kecil. Kemenangan itu dicari di antara orang-orang kalah. Seperti yang kita tahu, pedagang angkringan sering dianggap berada di kasta rendah.

Kemenangan demi kemenangan selalu kita cari tanpa tahu apakah sebenarnya membawa kesenangan atau tidak. Setelah kita menang, selalu ada keinginan untuk menang kembali. Setelah kita kalah, selalu ada keinginan tidak mau kalah lagi. Apakah hidup selalu dibayangi oleh keinginan itu?

Apakah hidup ini adalah sebuah kekalahan? Karena kita tidak pernah meminta dihidupkan. Kita selalu kalah oleh sesuatu yang lebih besar, mungkin oleh pencipta kehidupan ini.

Setelah kita mati, tidak ada sesuatu yang menjamin bahwa kita bisa menang, yakni masuk ke surga. Kita cenderung kalah untuk masuk ke neraka. Karena sepertinya hal itu lebih mudah dilakukan. Kita lebih mudah untuk menjadi kalah.

Mengapa kita justru tidak mencari kekalahan? Ketika semua orang mencari kemenangan, bukankah kekalahan sering diabaikan? Jika kita bisa menerima kekalahan, bukankah itu sesuatu kesenangan?

Karena kesenangan adalah sesuatu yang tidak dicari oleh orang lain. Seberapa besar usaha kita untuk mendapatkan kemenangan, lalu meraihnya, toh pada akhirnya kita akan kalah juga.

Untuk apa berkecil hati jika kita disakiti orang lain. Saat kita berharap sesuatu kepada orang lain tetapi tidak mendapatkannya. Saat itu kita kalah dari orang yang diharapkan. Orang kebayakan melihat sebuah harapan yang pupus adalah kekalahan. Kalau kita bisa menerima harapan yang pupus, bukankah itu sebuah kesenangan? Karena orang lain tidak mencarinya.

Rasanya makin sulit memiliki tujuan sebagai orang kalah. Apalagi di era media sosial seperti saat ini, di mana orang-orang tidak mau kalah. Kita semua seakan ingin unggul dalam hal siapa yang paling hebat, yang paling kaya, dan bahkan yang paling benar pendapatnya.

Itu semua karena kekayaan dianggap tidak melulu soal uang. Ilmu yang dimiliki oleh seseorang terkadang dianggap sebagai sebuah kemewahan. Oleh karenanya, kita senantiasa tidak mau kehilangan kekayaan yang dimiliki. Kalah adu argumen berarti kehilangan harta. Seperti yang kita tahu bahwa di media sosial selalu terjadi konflik pamer “kemewahan” ini.

Apa yang sebenarnya kita cari dengan semua kompetisi ini? Jangan-jangan nanti di surga pun kita tetap berkompetisi? Katanya Tuhan memberikan tempat yang indah itu bagi orang yang mentaati perintahNya dan meninggalkan laranganNya. Bagaimana bisa kita semua bisa masuk di dalamnya tanpa kompetisi? Mungkin itulah mengapa kebaikan pun diperlombakan.

Hidup adalah seberapa besar kita memberi ruang kepada pengharapan. Tergantung kita mau berharap menang atau siap menerima kekalahan. 

Jika kita selalu mencari kemenangan, tentu saja kita akan kalah pada suatu kemenangan yang lebih besar. Kalau kita bisa hidup tanpa beban, menerima kekalahan sebagai sebuah hal yang biasa. Mungkin kita bisa tenang. Tentu saja dengan tidak sengaja melakukan kesalahan dan menyakiti orang lain.