Beberapa malam yang lalu ibu saya bercerita. Beliau melihat sepasang lelaki perempuan berjalan santai lewat depan rumah dengan membawa galah seperti mau memetik buah-buahan yang sedang tumbuh subur di depan rumah kami. Memang di tengah jalan umum depan rumah sengaja ditanami beberapa tanaman, yaitu tanaman hias, pohon jambu, pohon mangga, dan pohon sawo. 

Ibu menanam berbagai tanaman tersebut supaya tanah kosong di jalan umum bukan dijadikan tempat penumpukan sampah. Maka tak heran jika beberapa warga sekitar terkadang memetik buah–buahan yang sedang berbuah lebat. Ibu juga tidak keberatan karena memang niatnya tanaman–tanaman tersebut dibagikan untuk tetangga, dan atau warga sekitar yang menginginkan atau membutuhkan buah–buahan. 

“Bu, minta sawonya ya... “ 

“Bu, ini saya petikin sawonya, supaya kebagian.”

Begitu komen dan izin para supir, ojek, bahkan satpam sekolah yang dekat dengan rumah. Karena udah jadi pohon umum, lalu lalang mereka sudah jadi terbiasa bagi kami, dan tetap saja ada yang ingat metikin sawo untuk ibu, padahal ibu juga sudah tidak kepikiran akan kebagian hasil panennya atau tidak.  

Kembali pada pasangan lelaki-perempuan yang sedang lewat tadi, ibu saya yang sejak tadi sedang menyiram tanaman–tanaman kesayangannya itu melihat tindakan mereka secara seksama. Karena merasa asing dengan kehadiran mereka, ibu saya menyempatkan diri bertanya pada perempuan yang berdiri dekat ibu, “ Tinggal dimana, Bu?”.

Si perempuan pun menjawab, bahwa mereka tinggal di seberang blok yang jaraknya lumayan jauh dari rumah kami. 

Ibu pun terdiam sambil tetap menyiram tanaman, dan melihat mereka memetik buah semakin banyak memenuhi tas kresek besar yang sengaja mereka bawa. 

Ibu mulai tergelitik dan bertanya-tanya dalam hatinya, dimanakah budaya malu mereka?

Apakah pantas mengambil buah sawo tersebut tanpa izin?

Lama–lama mereka seperti bisa membaca pikiran ibu. Si perempuan pun akhirnya buka suara lagi untuk mendapatkan izin ibu, “Maaf ya bu, saya minta buah sawonya.” 

Ibu menjawab dengan senyuman. Bulan ini gagal panen, buah sawo habis dalam sekejap dipetikin oleh pasangan lelaki-perempuan tersebut. Tanpa basa basi ucapan terima kasih, mereka melanjutkan berjalan ke tetangga sebelah yang juga mempunyai pohon sawo. Namun kali ini si pemilik tidak terlihat batang hidungnya, maka mereka dengan bebasnya menghabiskan buah sawo secara ilegal. 

Cerita ibu mengingatkan saya pada seorang guru. Beliau pernah bercerita ketika masih tinggal di Ausie. Anaknya sampai memberi citra bahwa orang–orang Indonesia itu tidak mempunyai empati dan tidak punya rasa malu. Sembarangan membuang sampah, mengambil sesuatu tanpa izin. “Indonesian Dad...” begitu komentarnya jika melihat orang Asia membuang sampah sembarangan, saya yang mendengarnya malah jadi malu sendiri. 

Lanjut cerita, Pak Guru juga bercerita, ketika diajak ke kebun apel milik seorang teman di Jepang.

Waktu itu, guru saya sedang diajak temannya yang juga orang Jepang ke kebun apel tersebut. Sambil berjalan, guru saya mengambil sebuah apel yang sudah bergeletakkan di permukaan tanah. Dipikirnya, karena sudah jatuh jadi sah-sah saja diambil tanpa izin. 

Dengan cepat tangan pak guru ditepis temannya sambil berujar “kamu yakin mau ambil apel itu? Padahal belum mendapatkan izin dari pemiliknya?” Wajah pak guru pun memerah, lalu diletakkan kembali apel tersebut ketempat semula. 

Pelajaran berharga dari kisah hikmah tentang pohon apel yang pernah saya dengar, seolah mirip dengan pengalaman Pak Guru. Makna yang luar biasa tentang kisah pemuda yang mencari pemilik kebun apel untuk minta maaf karena mengambil buah apel tanpa izin. Setelah mendapat izin, Pak Guru malah mendapatkan sekarung apel untuk dibawa pulang dan dibagikan pada anak dan istrinya. 

Dari pengalaman kedua orang panutan bagi saya itu, saya bisa mengambil kesimpulan. Rasa empati dan rasa malu itu satu paket. Jika punya rasa malu, tentu ada empati di dalam diri. 

Bagaimana rasanya jika hasil kerja keras menanam pohon sawo dan pohon apel itu diambil begitu saja tanpa permisi pada pemiliknya? tentu aja sakitnya tuh disini. 

Rasa malu itu merasa tidak enak hati karena berbuat sesuatu yang kurang pantas, atau perbuatan yang tidak benar. Yang mirisnya rasa malu itu semakin tipis di temui di zaman milenial ini.

Ada terbesit juga dalam pikiran saya. Apakah karena kondisi pandemi seperti sekarang ini, maka perbuatan pasangan lelaki-perempuan itu dibenarkan karena alasan desakan ekonomi?

Membenarkan sikap mereka yang seenaknya mengambil keuntungan dari orang lain tanpa izin?

Eh, tapi kok saya yang jadi emosi? Karena sawo kesayangan ibu dipetikkin dan habis begitu saja di depan mata kepalanya sendiri. 

Di mana rasa malu? Dimana penghargaan terhadap hasil kerja keras orang lain? Di mana rasa empati?

Saya jadi bertanya pada diri sendiri, perlukah saya pindah ke Ausie supaya memahami arti rasa malu yang sebenarnya? Atau perlukah saya akrab dengan orang Jepang? supaya diingatkan untuk menjalankan etika, meminta izin dulu sebelum mengambil buah apel? 

Karena konon katanya teman dan lingkungan yang baik itu bisa menular. Ah, tetap saja, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Menjadi lebih baik itu adalah keputusan diri sendiri. Kalau belum bisa memaksimalkan etika dan budaya malu setidaknya tidak menyakiti hati orang lain.