Perkembangan zaman senantiasa bergulir sepanjang waktu. Perubahan dinamika hidup manusia turut dipengaruhi olehnya. Dalam usaha pencarian informasi, tiap masanya manusia diwarnai dengan berbagai macam cara, mulai dari bertanya kepada tetangga, mencari di koran lokal, hingga berselancar di internet.

Dewasa ini, seiring dengan semakin canggihnya ranah teknologi informasi dan komunikasi, hidup manusia disuguhkan dengan berbagai macam informasi di media digital. Namun, tidak semua informasi itu memiliki sumber yang valid dan kredibel. Kerap kali ditemui berbagai informasi yang dianggap tidak benar.

Di Indonesia sendiri, kasus berita bohong atau hoaks yang sempat geger tak terhitung jumlahnya. Satu dari sekian banyak kasus berita bohong yang paling dikenal dan dikenang—sebagai sebuah peringatan—banyak orang, ialah kasus berita bohong Ratna Sarumpaet.

Ratna Sarumpaet sendiri merupakan salah satu anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi pada gelaran Pilpres 2019 silam. Ratna diketahui terlibat dalam kasus hoaks yang mengatakan dirinya dianiaya oleh sekelompok orang tak dikenal. 

Kabar tersebut viral di media sosial dengan unggahan tangkapan layar percakapan WhatsApp serta foto dirinya dengan wajah yang tampak tidak wajar. Atas insiden itu, Ratna dijatuhi hukuman oleh pihak kepolisian.

Kasus berita palsu yang menimpa Ratna bisa disebut konsep disinformasi. Disinformasi adalah informasi yang tidak benar karena direkayasa sedemikian rupa oleh oknum tertentu dengan motif untuk membohongi masyarakat. Sederhananya, disinformasi merupakan informasi palsu yang sengaja disebarluaskan untuk menipu.

Era Post-Truth

Bisa dikatakan bahwa post-truth tumbuh subur di media digital, khususnya media sosial. Sebuah riset tentang pengguna media sosial yang tertuang dalam laporan berjudul Digital 2021: The Latest Insights Into The State of Digital itu, disebutkan bahwa dari total 274,9 juta penduduk di Indonesia, 170 juta di antaranya telah menggunakan media sosial.

Dengan angka sebanyak itu, tidak sedikit  pengguna media sosial terjebak dalam lingkaran hoaks. Seringkali pengguna media sosial tidak sadar dengan informasi yang telah mereka sebar. Sudah bukan rahasia umum bahwa media sosial menjadi sarana untuk penyebaran informasi palsu, hoaks, fitnah, ujaran kebencian, pemutarbalikan fakta, dan lain sebagainya.

Hidup dengan banjirnya segala informasi merupakan fase yang sulit, di mana kita harus membangun nalar kritis kita untuk membentengi diri dari hoaks yang telah berhasil menghancurkan banyak aspek kehidupan kita. 

Era post-truth memaksa manusia menjadi makhluk yang kritis. Era di mana sebuah fakta sebenarnya dapat menjadi semu dan kebohongan tampak seperti benar. 

Di sinilah nalar kritis manusia berfungsi dalam mengungkapkan kebenaran yang sebenar-benarnya. Manusia dapat memetakan, menanyakan, serta mencari validasi dari informasi yang tersebar di internet.

Dampak post-truth ini jelas terasa. Bila keadaan ini tidak dikendalikan akan sangat berbahaya. Dalam hal ini siapapun bisa dengan mudah menjadi kambing hitam dari hoaks yang sengaja diciptakan. Saat opini publik sudah tercuci oleh doktrin yang salah, maka dengan mudah akan menganggap benar kesalahan yang dilontarkan. 

Besar potensi dari beredarnya disinformasi juga membuat sebuah ilusi bagi pengguna yang seolah-olah sebagai pakar yang serba tahu serta berhak mengomentari, tetapi di balik itu semua, semakin kabur dari fakta yang sebenarnya.

Perlunya merekonstruksi cara berpikir manusia dalam memerangi era post-truth. Tentu tidak mudah usaha dalam mengatur kembali pola pikir yang kritis di tengah gencarnya informasi yang kebenarannya dipertanyakan. 

Rasa “nyaman” yang ditawarkan internet begitu kuat dengan kehidupan saat ini, seolah dua kutub magnet yang sulit dipisahkan. 

Dalam hal ini, usaha merekonstruksi pola pikir membuat kita sadar akan pentingnya informasi yang akurat serta tanggung jawab dalam mencari kebenaran dalam sebuah informasi. Pada akhirnya, kita bisa melihat kebenaran yang sebenarnya.

Literasi Digital

Pesatnya teknologi, khususnya informasi dan komunikasi, diperlukan kemampuan khusus dalam menggunakan teknologi sebijak mungkin agar terciptanya ruang komunikasi yang positif. Literasi digital merupakan salah satu keterampilan yang amat penting saat ini. Dikutip dari buku Peran Literasi Digital di Masa Pandemi,  literasi digital merupakan pengetahuan serta kecakapan pengguna dalam memanfaatkan media digital.

Literasi digital memiliki beberapa prinsip dasar. Menurut Yudha Pradana dalam Atribusi Kewargaan Digital dalam Literasi Digital (2018), ada empat prinsip dasar literasi digital. 

Pertama, pemahaman. Pemahaman dimaksudkan sebagai pentingnya mengetahui sebuah informasi, baik secara implisit maupun eksplisit. Kedua, saling ketergantungan. Media satu dengan yang lainnya tetap berhubungan di mana antara satu dengan yang lain tetap saling melengkapi. Ketiga, faktor sosial. Dalam hal ini, media saling bertukar pesan kepada masyarakat. Keempat, kurasi. Kemampuan masyarakat untuk memilah informasi yang dinilai bermanfaat bagi dirinya.

Dengan memahami dan mempraktikkan literasi digital dalam kehidupan sehari-hari, kita akan skeptis dan bersikap kritis dalam menerima informasi serta tidak menerima informasi secara mentah-mentah. Ada usaha untuk memverifikasi kebenaran dari suatu informasi merupakan kunci dari literasi digital. 

Oleh karena itu, sebagai generasi yang hidup di era post-truth, perlunya membangun benteng tinggi dalam diri  agar muncul kesadaran akan dunia digital serta mengedukasi masyarakat agar tidak mudah terhasut informasi palsu yang akan memecah belah persatuan dan persaudaraan kita.