Saya adalah anak yang tidak pernah bertemu dengan kakek. Kakek dari pihak ibu sudah meninggal saat ibu saya masih kelas 3 SD, sedangkan dari pihak bapak meninggal saat usia saya empat tahun. Tidak pernah bertemu karena kakek tinggal di Surabaya dan saya beserta bapak ibu ada di Palembang.

Saya baru tahu kalau kakek saya dari pihak bapak adalah seorang penulis saat saya SMP. Selain menulis beberapa buku, ternyata Kakek juga seorang pencetus awal lahirnya beberapa majalah. Termasuk majalah berbahasa jawa Jayabaya dan majalah anak Mentari. Untuk selanjutnya marilah kita sebut kakek saya ini dengan 'Embah Darman'.

Sayangnya, tidak ada jejak buku dan naskah-naskah milik Embah Darman di rumah. Entah karena lalai atau apa, sepuluh anaknya dan hampir tiga puluh orang cucunya tidak ada yang peduli dengan hal ini. Mungkin mereka merasa tidak perlu lagi menyimpan dokumentasi tentang karya Embah Darman, toh orangnya sudah tidak ada. Saya juga yakin tidak banyak dari cucunya yang tahu kalau Embah Darman adalah seorang pegiat literasi.

Saya beruntung karena masih bertemu dengan Embah putri, yang memiliki stok kenangan tentang proses menulis Embah Darman. Dari Embah putri juga saya tahu tentang beberapa buku karya Embah Darman, termasuk Bausastra Jawa-Indonesia yang fenomenal dan Serat Centhini. Sayangnya Embah putri pun hanya menyimpan satu hardcopy dari Bausastra Jawa-Indonesia ini.

Saya simpan buku itu baik-baik dan menguatkan tekad bahwa saya harus mencari buku karya Embah Darman lainnya. Setelah lulus sekolah dan mulai ada penghasilan dari bekerja, saya memulai proses berburu buku karya Embah Darman. 

Tidak mudah, buku itu sudah hampir hilang jejaknya. Baru di sekitar tahun 2015-2016 lah, saat relasi pertemanan saya sudah semakin meluas di dunia literasi, beberapa jejak bisa saya temukan.

Ada teman yang ternyata mengenali karya Embah Darman, bahkan ada juga yang menyimpan bukunya. Dari salah satu teman pecinta sejarah yang berdomisili di Malang, saya tahu bahwa Bausastra Jawa-Indonesia milik Embah Darman masih dipakai sebagai sumber literatur di beberapa universitas di Indonesia.

Saya hanya bisa bersyukur saat itu. Saya menangis bahagia karena ternyata masih ada yang menghargai hasil pemikiran Embah Darman walau tak satupun dari keluarganya yang tahu.

Saya sering menjumpai buku karya Embah Darman di market place luar negeri dengan harga selangit, yang tentu saja tidak mampu saya beli. Tapi saya berusaha untuk mencari beberapa lainnya yang ada di Indonesia. Semampu saya.

Saat tinggal di Jakarta kisaran tahun 2017-2018 lalu, bila ada kesempatan dan waktu yang agak luang, saya mencoba berburu ke beberapa perpustakaan. Saya ingin tahu apakah masih ada buku karya Embah Darman di situ. Tak banyak yang bisa saya temui.

Di beberapa perpustakaan daerah yang sempat saya tanyai, saya disarankan untuk langsung datang ke perpustakaan nasional di jalan Merdeka. Para pustakawan itu yakin, perpustakaan nasional pasti punya data lengkapnya di katalog penerbitan.

Saya pun datang ke perpustakaan nasional, bertanya sana-sini pada para pustakawan yang ada. Ternyata buku-buku yang terbit sebelum tahun 1990 sudah didokumentasikan di Perpustakaan lain, tepatnya di Perpustakaan Umum DKI Jakarta, di daerah Kuningan. Sayang sekali sampai akhirnya saya kembali ke Jawa Timur, saya masih belum sempat berkunjung ke sana.

Sedih, iya. Saya merasa tidak tahu apa-apa sama sekali tentang Embah Darman. Lebih sedihnya lagi tidak ada yang bisa saya lakukan selain berusaha mencari pelan-pelan dengan napas pendek-pendek. Yang bisa saya lakukan lainnya adalah berusaha untuk terus menulis. 

Saya yakin apa yang saya punya ini berasal dari beliau. Spirit, keinginan, kegigihan untuk tetap konsisten menulis di diri saya datangnya pasti dari Embah Darman.

Hari ini, 17 Agustus adalah hari ulang tahun Embah Darman. Dulu saya hanya bisa mendengar cerita dari Embah putri bahwa setiap tahunnya ulang tahun Embah Darman pasti dirayakan bersama dengan anak dan cucunya. Selalu minta dibuatkan tumpeng nasi kuning dengan kering tempe terlezat sedunia bikinan Embah putri plus ayam goreng dan telur dadar yang diiris tipis memanjang.

Tahun ini saya ingin merayakan dengan khidmat. Saya janji akan terus mencari dan mengumpulkan kembali karya tulismu, Embah! Selamat ulang tahun.

Terima kasih atas semua yang kautinggalkan untuk saya.

Mungkin saya salah sangka, ternyata saya sudah sering bertemu dengan Embah Darman. Di tulisan beliau.