Berbicara kebenaran tidak akan ada kata mutlak atau absolut di dalamnya. Kebenaran-kebenaran yang ada di dalam pikiran manusia hanya akan mentok sampai pada batas relatif. Makanya kebenaran satu orang dengan orang lainnya pasti berbeda karena sesuai dari sudut pandang mana ia melihatnya.

Terus mengapa di Indonesia atau bahkan di belahan dunia lainnya, kebenaran bisa membuat antar kelompok manusia bisa bertengkar hebat. Malah harus saling berperang satu sama lain demi berebut kebenaran itu.  Kebenaran kan harusnya bisa membawa ke arah perdamaian abadi. Ini kok malah ke arah sebaliknya.

Kebenaran harusnya berjalan beriringan dengan kebaikan dan kebijaksanaan. Kalau kebenaran berdiri sendiri tanpa adanya kebaikan. Maka kebenaran hanya akan menimbulkan bencana pertikaian luar biasa. 

Peribahasa Jawa, bener lan pener. Benar dan baik itu harus saling mengisi. Kebenaran itu input dan hasil atau output dari kebenaran adalah kebaikan.

Walaupun sumber teologinya sama yaitu Al-Quran, tetapi interpretasi atas ayat Al-Quran itulah yang menimbulkan banyak versi. Ulama ini mengatakan seperti ini, ulama lainnya mengatakan seperti ini. Selama masih dalam koridor Al-Quran, maka tidak bisa disalahkan. 

Makanya perlunya sinau bareng itu supaya bisa saling mengetahui argumentasi yang membuat seorang manusia bisa berpendapat seperti itu.

Karena setiap pemahaman atas ayat-ayat Al-Quran itu berbeda-beda. Sebaiknya harus saling menerima perbedaan penafsiran dengan penuh lapang dada. Sehingga akan menghindarkan perdebatan sengit dan saling beradu argumentasi yang pada akhirnya hanya bisa menimbulkan konflik horizontal yang tiada ujungnya.

Beberapa pekan yang lalu ada pula ustaz yang berkata kalau langsung belajar agama Islam kepada Rasulullah. Pengakuan-pengakuan yang sangat tidak bisa dibuktikan dengan sanad atau riwayat bisa membuat gaduh di kalangan umat. Kok bisa-bisanya langsung meloncat belajar ke Rasulullah tanpa menghiraukan guru-gurunya yang mengajarkan huruf hijaiah.

Saya pribadi sering menghadiri sinau bareng Cak Nun maupun forum Maiyahan seperti Padhangmbulan di Jombang dan BangbangWetan di Surabaya. 

Dari berbagai kesempatan itulah saya memetik mutiara yang sering diucapkan. Apa yang benar, bukan siapa yang benar. Karena menurut beliau, kebenaran itu sangat luas dan bisa ditemukan pada apa pun yang ada di alam semesta. Tidak terbatas pada siapa sebagai subjek kebenaran.

Kata Cak Nun, kebenaran itu ibarat bumbu dapur yang orang lain tidak perlu tahu. Sedangkan kebaikan itu seperti hidangan yang disuguhkan kepada orang. Kamu berbuat baik kepada siapa saja itu hidupmu sudah selesai. 

Tidak apa-apa pengetahuanmu sedikit tetapi tidak pernah menyakiti siapa saja. Sibuklah memberi dan jangan sibuk untuk diberi.

Terus sekarang di media sosial orang bisa begitu sadisnya mengintimidasi pendapat orang lain yamg mungkin sepengetahuannya memang masih sebatas itu atau dilatar belakangi kefanatikan buta terhadap apa yang selama ini ia anggap benar. 

Kebenaran itu dinamis. Bisa jadi yang kemarin benar, terus hari ini nilai kebenaran itu menurun seiring perkembangan ilmu pengetahuan.

Memang sih banyak membaca bisa membuat orang semakin bisa mentoleransi pendapat orang lain. Problem selama ini kan pertama sudah malas membaca tetapi suka berkomentar di media sosial seolah paling benar sendiri. Pendapat orang lain mesti salah. Apalagi kalau sudah terlalu fanatik. Apa saja yang diucapkan ustaz A atau ustaz B bisa benar atau salah tetap dibela mati-matian.

Orang-orang di media sosial yang sukanya menghujat itu sebenarnya tidak tahu apa-apa. Banyak tahu bukan tahu banyak. Tong kosong nyaring bunyinya. Orang macam ini hanya bisanya menyerang siapa (subjek) yang mengatakan bukan isi atau apa yang ia katakan. 

Apa pun yang dikatakan pasti salah. Kalau sudah ketemu orang kayak begini, mending ditinggal main game online saja. 

Penting sekali memiliki pengetahuan yang luas seluas samudera dan hati yang senantiasa andap asor (rendah hati). Kedua komponen tersebut yang semakin hilang dari peradaban manusia modern ini. Harus biso rumongso ojo rumongso biso

Pengetahuan yang banyak bisa diperoleh melalui membaca buku yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya atau melalui pengajian-pengajian seperti Gus Baha’, Gus Mus atau sinau bareng Cak Nun.

Lebih baik jujur menjawab semisal ditanyai seseorang perihal satu permasalahan hukum. Imam Malik saja yang sebegitu alimnya ketika ditanyai suatu permasalahan hukum yang belum diketahuinya saja, ia menjawab saya tidak tahu. 

Itu sekaliber Imam Malik. Lah kita ini siapa kok segala sesuatu bisa dijawab. Seperti acara di televisi itu. Apa saja yang ditanyakan kok bisa dijawab.

Pada akhirnya kewarasan dalam berpikir dan bertindak harus terus dijaga. Jangan sampai kehilangan akal sehat untuk bisa menyaring informasi yang baik dan buruk. Menerima informasi yang bisa menambah khazanah keilmuan dan hasil akhirnya semakin berbuat baik kepada sesama.