“Tak ada satu pun pasien yang sembuh dengan regimen terapi yang ada. Yang dibutuhkan adalah pengobatan mengubah mindset. Regimen terapi yang ada adalah komplementer. Jika dibalik, 99 persen tidak berhasil.”

Kalimat di atas diucapkan oleh dr. Jisdan, seorang dokter spesialis bedah yang berpengalaman dalam menangani pasien kanker. Dialah dokter yang merawat saya sejak terdiagnosis kanker sekitar 24 tahun yang lalu dan masih menjadi andalan saya untuk konsultasi kesehatan jiwa raga saya hehe. 

Kenapa jiwa raga? Karena baginya, setiap pasien yang datang kepadanya adalah seorang manusia utuh, yang tidak boleh dilihat hanya sebagai seorang yang tengah membutuhkan pengobatan untuk fisiknya. Dr. Jisdan selalu berusaha menyelami sisi kejiwaan pasiennya sebelum menentukan tindakan.

Seperti kita semua tahu, kanker adalah jenis penyakit mematikan. Setiap orang berpotensi mengidap penyakit kanker sebab kanker itu sendiri adalah sel dalam tubuh yang tumbuh secara abnormal sehingga merusak sel normal di sekitarnya serta bagian tubuh lain.

Umumnya kanker tidak menimbulkan gejala pada awal perkembangannya dan baru terdapat gejala setelah mencapai stadium lanjut. Inilah yang menyebabkan banyak kasus kanker sulit untuk ditangani dan berujung pada kematian. 

Kenyataan tersebut pada akhirnya membentuk sebuah ketakutan bagi siapa saja dengan penyakit kanker. Akibatnya ketika tiba-tiba seseorang didiagnosis kanker, yang terbayang pertama kali adalah: kematian.

Itu pula yang dulu sempat saya rasakan saat dokter mendiagnosis saya dengan kanker rectum (anus) stadium lanjut. Ribuan pertanyaan sekaligus bantahan dari dalam diri atas kenyataan yang tidak pernah diduga sebelumnya. Kenapa saya kena kanker dalam usia semuda ini? Apa penyebabnya? 

Bagaimana dengan pengobatannya nanti? Bagaimana jika gagal? Bagaimana dengan kuliah saya? Kalau saya sembuh, bagaimana kehidupan saya setelah kanker nanti? Segala pertanyaan sebagai bentuk penolakan, bergolak dalam jiwa yang bersemayam pada raga yang sangat kesakitan, rapuh, dan lemah.

Di situlah dokter mengambil peran sangat besar pada proses terapi yang saya jalani kemudian, mendampingi saya dan keluarga untuk mulai menata hati dan melangkah. Yang pertama dilakukan adalah mengubah mindset bahwa kanker bukanlah hal yang mustahil untuk dijinakkan. 

Meskipun kenyataannya dokter memiliki data bahwa jenis kanker yang saya alami sangat sulit untuk disembuhkan, bahkan belum pernah ada yang bertahan hidup lebih dari lima tahun di Indonesia.

Ketika mengatakan bahwa saya harus menjalani operasi untuk melubangi dinding perut sebagai anus buatan (ileostomi), yang dijelaskan dokter adalah bahwa ada cara yang baik agar bisa hidup lebih lama. Ya…ileotomi dikatakan sebagai cara yang baik, bukan “hal yang terpaksa dilakukan”. 

Menjelaskannya pun dengan perumpamaan “Kalau kamu keluar dari ruangan ini, yang kamu lakukan adalah lewat pintu kan? Bukan membobol tembok? Begitu pun solusi dari kankermu ini juga sudah jelas ada jalannya, jangan khawatir!” Itulah langkah awal dokter mengubah mindset saya.

Ketika saya harus meninggalkan kuliah saya selama satu semester karena pengobatan yang dijalani akan sangat berat, yang dikatakan dokter adalah bahwa saya cuma perlu waktu untuk memulihkan diri setelah kesakitan yang panjang. Nanti setelah kondisi mulai stabil, boleh masuk kuliah lagi. 

Belakangan baru saya tahu bahwa sesungguhnya secara medis, usia saya bahkan belum tentu sampai semester depan. Tapi dokter memberikan mindset kuat pada saya bahwa ini akan terlewati dan akan baik-baik saja.

Sebelum rambut saya mulai rontok, kulit mulai kering dan menipis, serta muntah puluhan kali setiap mendapat suntikan kemoterapi, dokter sudah membekali saya dengan nasihat bahwa semua terapi yang dilakukan memiliki konsekuensi, layaknya semua pilihan dalam hidup ini. Ya, saya membuat kesepakatan dengan dokter untuk menyebutnya sebagai konsekuensi, bukan efek samping.

Jangan memikirkan yang jauh di depan sana! Jangan memikirkan rambutmu akan rontok karena belum tentu! Kalaupun itu terjadi, ya itu konsekuensi yang wajar dari setiap tindakan. Ayo kita hadapi, kita jalani sampai ujung lorong. Semua ada ujungnya” Sepertinya hanya soal pilihan kata, namun besar sekali pengaruhnya untuk menata mindset..

Setelah melewati enam bulan terapi, dengan banyak pertimbangan, saya diizinkan untuk mulai kuliah lagi sambil meneruskan kemoterapi yang tidak diketahui kapan akan dihentikan. Tentu bukan hal mudah untuk dijalani, tapi dokter mengatakan bahwa saya boleh beraktivitas sebagaimana yang dilakukan teman-teman, asalkan cukup isitirahat, asupan makan yang baik, dan tidak lupa dengan jadwal kontrol ke dokter dan kemoterapi.

Pada kenyataannya kuliah jurusan matematika dan kemoterapi sungguh kombinasi yang jauh dari kata mudah. Tapi berbekal pesan dokter bahwa saya akan baik-baik saja, ternyata bisa juga saya lulus kuliah sekaligus lulus kemoterapi dalam waktu hampir bersamaan. 

Baca Juga: Kanker Plastik

Ratusan suntikan kemoterapi selama nyaris lima tahun dengan rangkaian mual ringan hingga muntah entah berapa ribu kali itu akhirnya selesai. Lagi-lagi mindset berperan penting dalam selesainya dua hal besar dalam hidup saya, yaitu: berdamai dengan kanker dan meraih gelar sarjana.

Inilah yang disebut oleh dokter saya bahwa tindakan terapi justru sebenarnya pelengkap saja. Yang paling utama dari terapi kanker adalah menata mindset. Sayangnya ketika dihadapkan dengan kondisi ini, biasanya kita sibuk memilih dokter yang paling moncer prestasinya dengan bantuan mesin pencarian google. 

Lalu membandingkan beberapa rumah sakit yang akan didatangi, dengan fasilitas terlengkap dan tercanggih. Atau mencari obat alternatif sebanyak-banyaknya dengan harapan akan saling bersinergi mempercepat kesembuhan. Namun lupa untuk mengubah mindset terlebih dahulu.

Dengan memperbaiki mindset, percayalah bahwa kanker akan lebih mudah untuk dilalui. Bukan berarti mengingkari bahwa kanker adalah sesuatu yang serius, tetapi menumbuhkan keyakinan dan pikiran baik bahwa meskipun berat, tapi kanker bisa kita kalahkan dan kita bisa hidup berdamai dengan kanker. 

Kenapa berdamai? Karena selamanya kanker memang tidak pernah benar-benar pergi, hanya sel-sel yang berhasil dijinakkan. Maka setelah berdamai, kembali mindset berperan untuk membuat sel-sel tersebut agar tak tumbuh abnormal kembali.