…poin-poin kewirausahaan yang tertampung dalam tatanan sebuah organisasi pada masa mendatang.

Lapak Sederhana Potret Wirausaha

Petang hari menjelang malam minggu, saat tengah bersepeda pulang menuju rumah. Tiba-tiba pemandangan rangkaian tulisan ‘Sedia Pisang Goreng’ pada sebuah lapak kecil di pinggir jalan, menghentikan kayuhan kedua kaki saya di atas pedal-pedal sepeda.

Seorang anak lelaki masih usia sekolah dasar terlihat menjaga tatanan irisan pisang raja yang digoreng tepung, memanjang. Masih hangat, mungkin rumah si anak berada di dekat lapak pinggir jalan ini. 

Tampaknya si anak kecil ini membantu orang tuanya, yang sedang menggoreng pisang di dapur rumah. Lalu mengantar pisang goreng matang ke lapak di depan, menatanya bertumpukan, menarik minat siapapun yang memandang.

Saya mengincip sedikit ujung pisang goreng yang dijajakan. Enak, rasanya manis dan renyah dalam setiap gigitan. Tak lama, ada orang-orang mendatangi lapak ini, dengan keperluan sama, menjumput pisang-pisang goreng panjang-panjang, lalu membayar tunai, dengan uang.

Sang anak tampak antusias, tangkas dan cermat memenuhi pesanan orang-orang yang lebih tua usia. Juga, tampak terampil menghitung uang yang diterima, serta tak keliru memberi uang kembalian. Melayani permintaan banyak orang, sama sekali tanpa keluhan.

Dalam perjalanan pulang, pikiran saya pun mengembara, betapa pemandangan lapak kecil penyedia pisang goreng panjang-panjang itu menyajikan fenomena nyata akan terjadinya proses penyediaan kebutuhan, yang lalu diimbangi dengan pembayaran sebagai imbalan.

Selama tak ada keluhan, baik ketika transaksi berjalan atau beberapa saat setelahnya, maka serah terima pisang goreng sebagai barang dagangan, komoditi, telah berjalan lancar menuai kepuasan bagi penjual pun pelanggan.

Terbayang pula betapa si anak yang masih sangat belia, masih punya kesempatan panjang untuk menimba pengetahuan pun pengalaman.

Semangat kerja si anak ini, bila diperkaya dengan sedikit pengetahuan tentang inovasi kualitas komoditi, dari pisang Raja mentah yang tak sekedar menjadi olahan pisang goreng saja, melainkan juga pisang keju coklat, pisang gepek bakar, pisang sale sampai getuk pisang, maka dalam 5 hingga 10 tahun mendatang, si anak bakal lebih menuai banyak keberhasilan.

Apalagi, jika si anak diajari merangkai Narasi pemikat pisang sebagai produk dagangannya, yang kelak bisa dikembangkan menjadi olahan makanan dalam kemasan, yang lalu dijual sebagai komoditi ekspor, ke negeri-negeri orang.

“Pisang ini tak hanya menyehatkan karena mengandung gizi terbaik, namun juga pisang ini adalah produk tanaman andalan dari sebuah pelosok negeri Khatulistiwa, yang ditanam dan dipanen oleh orang-orang pedalaman yang berperilaku sangat menghargai kelestarian alam dan lingkungan.”

Agar, olahan pisang yang menghidupi keluarganya, tetap bertahan, berkelanjutan dan semakin berkembang, karena mindset produk yang tertanam.

Potret segenggam pisang Raja goreng tepung berbentuk irisan panjang, produk jualan si anak kecil dalam lapak sederhana, tak hanya menawarkan kenikmatan. Namun juga membuahkan gagasan inovasi menjadi produk unggulan.



…menghargai saran, tanpa pernah menganggap setiap kritikan dari pelanggan sebagai ungkapan yang memojokkan.

Menanam Sikap Independen Selagi Muda

Si anak yang saat ini mendapat kesempatan berupa kegiatan yang mengasyikkan, yaitu harus bekerja membantu orang tuanya, sementara teman-teman sebaya usianya masih bermain-main riang canda dan tawa, maka dalam perkembangannya kelak bakal mendapat banyak pembelajaran dalam hal;

  • Kerja keras, tentang bagaimana membagi waktu antara kewajibannya belajar dengan keharusannya membantu orang tua untuk berjualan pisang goreng sebagai olahan panganan.
  • Percaya diri, yang tumbuh beriring dengan masa-masa yang anak-anak seusianya masih sangat bergantung pada orang tua mereka.
  • Pikiran terbuka, buah beradaptasi dengan kebutuhan bahkan tuntutan banyak orang, akan kualitas olahan pisang goreng yang dijajakannya, sehingga menerima segala saran pun kritik sebagai masukan yang berharga.
  • Inovasi, melanjutkan ide-ide yang bermunculan, atas hasil pikiran yang menjadi terbuka, karena menghargai saran, tanpa pernah menganggap setiap kritikan dari pelanggan sebagai ungkapan yang memojokkan. Proses memperkaya kualitas produk pisang pun membuat kegiatan jual beli olahan pisang pun tambah menyenangkan.
  • Konsisten, sikap yang tak mudah bagi anak muda, namun kudu dimiliki sebagai konsekuensi terpilih menjadi sosok yang menekuni kegiatan terkait usaha, sejak belia. Betapa, dalam  perjalanan menjadi bagian usaha jual beli olahan pisang goreng, maka si anak terlatih menyadari bahwa setiap keberhasilan yang diraihnya adalah buah dari proses ketekunan, bukan perolehan secara instan.
  • Pengembangan produk, merupakan tindaklanjut atas tertangkapnya suatu ide lalu mengembangkannya menjadi sesuatu hal yang membuat produk, dalam hal ini pisang goreng, menjadi semakin variatif dan diminati.
  • Komunikasi dan Konsultasi, hasil interaksi yang positif antara si anak dengan banyak orang terkait kepentingan mereka akan eksistensi lapak penyedia olahan pisang goreng yang melezatkan, yang berarti mereka adalah para pemangku kepentingan, stakeholders. Tak hanya belajar menjalin komunikasi namun juga berkenan memberi pun menerima saran sebagai bagian dari proses konsultasi pengembangan produk, yakni; pisang goreng.
  • Berjejaring menjalin kolega sefrekuensi, dalam perjalanan proses menuju pengembangan usaha, maka perilaku si anak dalam mengakomodasi poin-poin tersebut di atas, mulai dari kerja keras hingga komunikasi, membuahkan perkenalan dengan banyak orang, yang satu frekuensi dalam memaknai suatu usaha penyediaan barang dagangan, komoditi, yang bermanfaat. Kelak, keberadaan jejaring yang telah terbina seiring menekuni usaha, bisa menjadi modal pengembangan usaha pula.

Semua hal tersebut di atas adalah, sejatinya adalah poin-poin mendasar tentang kewirausahaan, yang tertampung dalam tatanan sebuah organisasi pada masa mendatang.

Lapak sederhana dengan si anak penjual pisang goreng sederhana itu, ternyata bisa menuai makna sebagai potret generasi revolusi industri 4.0. Suatu era kegiatan ekonomi industri pada suatu generasi berbasis kewirausahaan, yang saat ini tengah menjelang.

Bahkan, kelak keberadaan suatu lembaga usaha bakal memiliki organisasi yang tak spesifik, melainkan fokus pada kapabilitas dan peran para wirausahawan muda di dalamnya, yang berkinerja secara lepas, independen, freelance.



…proses memungut ide, lalu mengubahnya menjadi sesuatu, itu adalah inovasi.

Tatanan Baru Organisasi Masa Depan

Adalah Jacob Morgan, seorang penulis dan pengamat perkembangan perubahan perilaku pelaku bisnis pada masa mendatang, mengemukakan bahwa pengelolaan suatu lembaga usaha tak lagi menggunakan cara yang sama seperti beberapa saat yang lalu, mulai hari-hari ini hingga beberapa saat mendatang.

The Future of Work merupakan satu karya tulis Jacob Morgan yang memperkuat argumennya tersebut di atas. Melalui karya tulisnya tersebut, 14 prinsip yang dipegang oleh suatu organisasi masa depan, diperkenalkan.

Sekumpulan prinsip mengelola suatu organisasi pada masa mendatang, yang apabila diringkas menjadi suatu risalah yang mencakup tiga hal utama, yakni tentang bagaimana bekerja, bagaimana memimpin dan bagaimana menyusun struktur organisasi.

Adapun ke-14 prinsip dari suatu organisasi masa depan, adalah sebagai berikut;

1. Tim Kecil Tersebar Mendunia

Terdapat perubahan perilaku organisasi dari yang tadinya bersifat ‘memerintah dan mengalahkan’, menjadi lebih fokus pada tim-tim kecil yang berkinerja tersebar luas di seluruh dunia.

Bahkan, seorang pekerja yang bekerja di area terpencil pun bisa disebut sebagai satu ‘kantor’ di tempat itu.

Dengan demikian, bakat seorang pekerja tak lagi tergantung pada jaraknya dengan kantor pusat.

2. Kinerja Saling Terhubung

Teknologi adalah ‘sistem syaraf pusat’ dari semua organisasi. Dalam hal berkegiatan usaha, maka saat ini setiap perusahaan adalah perusahaan teknologi.

Pada setiap waktu, maka suatu Kinerja harus bisa menghubungkan orang-orang yang tepat dengan banyak informasi, di manapun mereka berada dan menggunakan piranti teknologi informasi apapun.

Dengan demikian, maka diperlukan perangkat teknologi kolaboratif yang tepat agar upaya menghubungkan Kinerja, dapat terwujud.

3. Wiraswasta Internal

Semangat, gairah dan kreativitas si pengusaha, harus dikembangkan di dalam organisasi yang dimilikinya.

Lalu, para pekerja organisasi tersebut kudu mampu menguji coba gagasan-gagasan mereka, melakukan banyak eksprimen, membuat proyek-proyek baru dan bekerjasama dengan orang-orang yang kompeten dalam bidangnya.

Mereka, para pekerja itu, juga perlu memiliki jiwa petarung dan berakal panjang, sebagaimana si pengusaha, sang pemilik organisasi, telah memilikinya.

4. Beroperasi Selayaknya Sebuah Perusahaan Kecil

Sebuah perusahaan kecil, lebih bisa membuat keputusan cepat, tanpa meremehkan birokrasi dan lebih cerdas, serta adaptif.

Sudah bukan saatnya lagi menganggap kegiatan usaha itu bagai perusahaan besar, yang pada kenyataannya kinerja para pekerja hanya memeriksa surel, menghadiri banyak rapat yang membahas isi rapat. Ibaratnya, suatu upaya melaju dalam kubangan lumpur.

 5. Fokus Pada ‘Keinginan’ Daripada ‘Kebutuhan’

Saat ini, pekerja muda yang berbakat, melihat bahwa semua peluang yang ada, adalah demi meraih cara kehidupan yang melebihi para pekerja tradisional, sebelum generasi mereka.

Dengan demikian, agar menarik minat si pemilik bakat, maka organisasi usaha harus mengkreasi suatu lingkungan kerja, yang sedemikian rupa menariknya, hingga membuat para pekerja bertalenta benar-benar ingin untuk berada di sana, daripada mereka butuh untuk berada di sana.

 6. Beradaptasi Untuk Berubah Lebih Cepat

Akhir-akhir ini, benar-benar berlaku pemeo ‘pelaku usaha telat beradaptasi, berarti terpental dari bisnis’.

Menjadi konsekuensi tersendiri bagi si pengusaha bahwa setiap keputusan kudu dibuat tak hanya lebih cepat, namun juga beriring aksi tangkas.

Konsekuensi tersebut juga menuntut agar si pengusaha untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi informasi, menjadi pendukung utama Kinerja.

 7. Inovasi di mana-mana

Inovasi tak lagi datang dari suatu tim kerja. Melainkan bisa datang dari mana saja, termasuk di luar perusahaan.

‘Ide’ dan ‘Inovasi’ juga dua hal yang berbeda.

Ide bisa datang kapan saja. Namun, proses memungut ide, lalu mengubahnya menjadi sesuatu, itu adalah inovasi.

Menjadi tantangan tersendiri apakah suatu organisasi telah memberi peluang kepada siapa saja, guna tampil menyampaikan gagasan. Lalu memberi mereka peluang lagi, agar mengubah ide tersebut menjadi sesuatu yang terwujud nyata dan berguna.

 8. Berlari Menembus Awan

Organisasi  masa depan, ibaratnya harus selalu sanggup ‘berlari menembus awan’, melintasi berbagai ketidakpastian.

Suatu pengibaratan yang justru memacu tindakan agar selalu inovatif dan bersaing, karena memasuki era yang sangat ketat dan kejam, maka keberlanjutan suatu usaha tak bakal bisa diprediksi secara tepat. Apakah setahun? Dua tahun? Tiga tahun? Lima tahun? Sepuluh tahun? Tak bisa dipastikan.

Kegiatan mengadaptasi teknologi menjadi satu kunci, agar tetap bisa melakukan perubahan, perbaikan secara lebih cepat daripada pesaing usaha.

9. Wanita Lebih Berperan Sebagai Pemimpin Senior

Dalam kenyataan bahwa wanita punya kelebihan berupa kecermatan melakukan pembelian, serta menyadari bahwa keberadaan wanita di dunia terus meningkat dibanding pria, dari waktu ke waktu, maka bagi organisasi masa depan bakal meruah cara pandang dan perspektif terhadap kemampuan wanita.

Kemudian, atas kemampuan yang menumbuhkan daya saing bagi organisasi, maka pemikiran lebih jauh pun menjadi terbangun dan berkembang menjadi suatu tindakan yang mendorong dan mendukung peran wanita sebagai pemimpin senior suatu organisasi masa depan.

10. Struktur yang lebih rata

Selama ini, tak ada satu organisasi pun tertarik akan ide untuk membuat struktur yang sangat hierarkis, berlapis-lapis, lebih banyak manajemen dan birokrasi, yang mengakibatkan sedikitnya aktivitas kolaborasi.

Namun pada kenyataannya, hingga saat ini, ide berupa hierarki yang kaku dan bagaimana dipaksa untuk tetap menjalankannya pun masih berlaku. Struktur organisasi yang bagus adalah mengakomodasi keseimbangan antara menjadi rata sepenuhnya atau menjadi piramid.

Apabila ternyata pilihan struktur organisasi ternyata berbentuk piramid, maka bukan berarti dalam struktur ini semua mengalir ‘dari atas ke bawah’ semata. Namun, komunikasi dan kolaborasi tetap berjalan baik ‘dari atas ke bawah’ pun sebaliknya, bahkan ‘ke sisi-sisi samping’.

Dengan kata lain, suatu struktur organisasi itu disediakan agar bisa membantu para pekerja mengetahui dimana mereka berada dan partisipasi peran seperti apa yang dapat disumbangkan bagi organisasi, melalui komunikasi dan kolaborasi yang efektif dan tepat.

 11. Banyak Berkisah

Kadang kala, pengusaha pemilik organisasi fokus bertutur kisah hanya kepada pelanggan, agar terbangun kemitraan. Sehingga bisa mendapat umpan balik, memahami kebutuhan pelanggan, lalu merangkul dan mengajak mereka agar membeli produk.

Namun demikian, ternyata merupakan hal krusial pula untuk menyampaikan banyak kisah kepada para pekerja. Karena, para pekerja menginginkan untuk bekerja bagi organisasi, yang mereka percayai memiliki nilai-nilai yang menyatu dengan mereka.

Sehingga, tiada jalan lain yang lebih baik untuk memfasilitasinya, melalui penyampaian kisah-kisah tentang bagaimana perjalanan awal perusahaan, mengapa sampai sekarang masih tetap ada dan ke mana kelak hendak dibawa.

12. Pendemokrasian Pembelajaran

Proses belajar yang sangat terstruktur linear, bukan menjadi pilihan metode pembelajaran yang tepat saat ini.

Kebanyakan tempat usaha, memiliki sistem pengelolaan pembelajaran yang disampaikan secara virtual, berisi konten telah memiliki skenario sehingga mudah ditebak dan membosankan.

Bagi organisasi masa depan, maka beberapa pekerja bisa berperan sebagai guru ataupun murid, yang dapat menumbuhkan proses pembelajaran dari koleganya, setiap saat.

Tentu, cara ini membutuhkan sarana pun prasarana berupa aplikasi teknologi tertentu.

13. Pergeseran Dari Keuntungan Menuju Kemakmuran

Hingga saat ini, ukuran utama keberhasilan bagi suatu organisasi adalah dari sisi financial, berupa pencapaian keuntungan, profit.

Sementara itu, kemakmuran lebih dari sekedar seberapa banyak uang yang dikumpulkan.

Namun, lebih pada hal-hal yang memiliki nilai lebih tinggi dari keuntungan. Antara lain adalah; kesehatan dan kesejahteraan pekerja, keterlibatan dalam masyarakat, keberlanjutan, keanekaragaman, dan partisipasi membuat kebaikan bagi dunia.

14. Beradaptasi Dengan Pekerja dan Manajer Masa Depan

Merupakan tindakan yang tanpa harus perlu diungkap kata-kata, bahwa organisasi masa depan harus beradaptasi untuk berubah dalam hal bagaimana pekerja seharusnya bekerja dan bagaimana manajer memimpin.

Beberapa hal tentang apa-apa saja yang harus dilakukan oleh pekerja dan manajer masa depan, telah disampaikan sebagai ke-13 prinsip-prinsip sebelumnya, sebelum prinsip ke-14 ini.

Susunan 14 Prinsip Organisasi Masa Depan menurut Jacob Morgan.

Dengan demikian, dari penjabaran ringkas ke-14 prinsip organisasi masa depan sebagaimana tersebut di atas, maka bisa menjadi instrospeksi bagi setiap pemilik organisasi perihal seberapa banyak prinsip yang telah dipegang dan dilaksanakan.



…volatile, karena tempat usaha yang terpangku kepentingannya, tengah ‘berlari menembus awan’…

Persaingan Masa Depan Memorakporandakan Kemapanan

Lebih lanjut, buah pikir Jacob Morgan dalam memprediksi model interaksi dalam organisasi masa depan, terkait dengan perilaku generasi yang berperan didalamnya, kelak.

Konsep organisasi masa depan yang menampung perilaku generasi pasca milenial, Q Generation, yang saat ini masih mengembara ilmu pengetahuan di sekolah pada level dasar hingga menengah.

Prediksi terjadinya evolusi kinerja para pekerja pada organisasi-organisasi masa depan, yang bisa jadi sama sekali berbeda dengan tuntutan kinerja para pekerja pada masa sekarang.

Dari potret ringkasan pemikiran tentang organisasi masa depan, maka kelak diprediksi terdapat perubahan dari focused on outputs, bukan outcome. Bakal lebih pragmatis, cenderung tak menghargai suatu proses selayaknya berlaku saat ini dalam suatu organisasi. Namun, terprediksi kelak bakal mau tak mau menjadi kebutuhan bagi organisasi itu sendiri.

Lebih lanjut, prediksi akan konsep tatanan organisasi pada masa depan, adalah suatu tempat usaha tanpa struktur organisasi. Bahkan, tanpa keberadaan organisasi. Karena, kinerja para pekerja yang tak lagi berorientasi team work, melainkan individual work.

Terbaca pun terdengar aneh, bahwa ada tempat usaha, tapi tanpa organisasi. Terdapat kinerja usaha, melalui peran banyak individu sebagai wirausahawan lepas, freelance entrepreneur, namun tetap dikorporatkan.

Atas prediksi terjadinya perubahan tatanan organisasi masa depan tersebut, maka menjadi wajar pula apabila skema para pemangku kepentingan, stakeholders, turut terprediksi bakal berubah total, dalam kurun 10-an tahun mendatang.

Suatu skema para pemangku kepentingan yang bakal tak semapan sebelum-sebelumnya, melainkan sangat mudah berubah, volatile, karena tempat usaha yang terpangku kepentingannya, tengah ‘berlari menembus awan’, dikelola oleh jiwa-jiwa wirausahawan muda yang bebas lepas, seolah tak terorganisir.

Tak menutup kemungkinan pula, terdapat skema stakeholders yang benar-benar keluar dari kemapanan, yang atas dukungan kemajuan teknologi kolaboratif, maka mereka pun turut terjun menekuni kegiatan usaha yang tanpa organisasi, meski terwadahi sebagai suatu korporat.

Akibatnya, persaingan pun semakin luas, bisa saja kelak terjadi antar generasi tanpa batasan usia akan saling berlomba menelurkan gagasan, lalu membuahkan produk-produk inovatif yang memiliki daya jual.

Oleh karenanya, siapkah kita-kita para orang tua saat ini, dalam cakupan generasi X, mengupayakan penyiapan putra-putri kita, agar berjiwa mandiri dan terasah minat kewirausahaannya?

Agar, bisa beradaptasi dengan keadaan yang kelak bakal semakin ketat penuh persaingan. Dengan tetap mempertahankan niatan untuk mempersiapkan karakter wirausahawan tangguh, dalam konteks turut berlomba-lomba menebar manfaat yang membawa kebaikan.


Bahan bacaan menginspirasi tulisan; thefutureorganization.com