Teknologi digital yang menawarkan kemudahan dalam segala aspek terkadang membuat terlena. Apa-apa tinggal diketik pada suatu benda, yang hampir 24 jam tak pernah lepas dari tangan. Bahkan, ketika ditanya tentang nomor telepon genggam kepunyaan sendiri pun memori tak mampu menjawab.

Ironi. Digitalisasi menjadi celah untuk kemalasan berpikir sejenak. Padahal kemampuan otak menyimpan memori sama dengan 108419 kemampuan komputer dalam menyimpan data. Manusia sebetulnya tidak perlu bersusah payah mengeluarkan duit demi membeli cakram keras lagi. Mubazir jika kemampuan ini tidak digunakan semestinya. Mudah saja untuk membuat otak lebih giat bekerja: sentuhlah kertas dengan tulisan.

Terkesan sederhana, hubungan manusia dan kertas ibarat simbiosis mutualisme. Kertas tidak  hanya diciptakan untuk memuaskan kebutuhan manusia belaka. Kertas juga butuh menusia untuk mengikrarkan esensi manfaatnya. Tak ada suatu apapun diciptakan sia-sia. Sejumlah faedah dapat dipetik hanya dari selembar kertas. 

Pergeseran zaman ke era perangkat elektronik toh belum mampu membunuh keberadaan kertas. Justru dari tarikan kesimpulan beberapa penelitian didapatkan hasil bahwa goresan pena di atas lebih superior dibanding penggunaan acang atau komputer.

Pertama, kaitannya dengan memori. Proses instalasi memori manusia sejatinya telah dimulai sejak janin berada dalam kandungan. Kemudian semakin bertambah usia maka perkembangan sistem saraf pun semakin kompleks. 

Ternyata, aktivitas menulis tangan di atas kertas ikut andil dalam pembentukan memori. Silakan diamati anak kecil di sekeliling anda, secara naluriah anak-anak akan otomatis bereksplorasi jika diberikan pena dan kertas. 

Ya, manusia memang fitrahnya senang menulis. Menulis hampir tidak bisa dipisahkan dengan masa tumbuh kembang anak. Bahkan, sistem pendidikan Montessori yang sangat mengedepankan kebebasan anak banyak menggunakan kertas. Sedikit cerita, metode pembelajaran ini saat ini menjadi tren di Indonesia. 

Ditambah lagi, sekolah Pangeran George, putra dari Pangeran William merupakan sekolah yang menerapkan metode ini dalam kurikulumnya. Pengaruh tokoh publik mau tak mau juga menjadi faktor fenomena ini mengglobal.

Kembali soal menulis, pada saat menulis tangan hampir seluruh bagian otak teraktivasi meliputi bagian otak kanan dan kiri, otak kecil serta area khusus yang disebut area Exner. Optimalisasi otak terutama pada masa emas sangat penting dalam mempersiapkan generasi emas. Persepsi yang terbentuk saat menulis memicu perekamanan memori yang berguna ketika belajar sesuatu hal baru. 

Pada saat menulis, Area Brocca, pusat bahasa otak, juga akan ikut teraktivasi. Mekanisme inilah yang menggambarkan hubungan kemampuan menulis dengan kesiapan mengeja dan membaca. Anak yang terbiasa menulis maka keterampilan linguistiknya akan berkembang pesat. 

Kecintaan literasi juga akan menguat secara selaras. Bicara soal minat baca di Indonesia sungguh sangat miris. Penelitian PISA (Program for International Student Assesment) tahun 2015 menyebutkan bahwa Indonesia hanya berhasil menempati posisi ke 62 dari 70 negara yang memenuhi kualifikasi. Negara ini tentunya perlu waspada dengan perolehan ini. Minimal ranking ini harus dipertahankan agar tidak semakin terbelakang dan kembali ke zaman buta huruf. 

Ulasan lain tentang menulis di atas kertas menyatakan bahwa anak yang terbiasa menulis tangan akan terbiasa mempelajari soal matematis, pelajaran yang seringkali  dianggap momok. Sensasi menulis akan membangkitkan stimulus dimensi spasial yang diperlukan dalam pelajaran bangun ruang.

Sementara pada dewasa, pengenalan dan repetisi huruf selama proses menulis akan memicu penguatan memori jangka panjang. Aktivasi saraf dalam otak yang timbul selama proses menulis serta merta membantu perbaikan kognitif otak. Dasar ilmiah ini yang digunakan sebagai preventif gejala pikun yang saat ini tidak lagi didominasi kaum lansia.

Kedua, berguru pada sang kertas. Selain ajaran tentang memori, kertas merupakan sahabat orang tua dalam mendidik anak. Rekomendasi kesehatan menganjurkan anak tidak menonton layar monitor sampai usia 2 tahun. 

Sampai usia ini, paling tidak orang tua akan  bergantung pada kertas sebagai media pembelajaran. Latihan sensorik, motorik dan koordinasi visual akan terpenuhi saat anak melihat kartu bergambar, melakukan tracing, bermain maze, menggunting, ataupun mewarnai. 

Semakin bertambah usia anak, permainan dengan kertas pun akan semakin beragam. Sebut saja, bermain pura-pura dengan kardus, seni melipat kertas, dan bermain puzzle. Sensasi memegang kertas merupakan stimulus haptik yang merangsang indera perabaan yang kemudian menstimulasi jalinan saraf dalam otak. Rangkaian kejadian ini akan terlewatkan jika menulis dilakukan pada gawai atau komputer.

Ketiga, terapi jiwa dengan kertas. Hasil riset kesehatan dasar pada tahun 2018 menemukan fakta bahwa permasalahan kesehatan mental mengalami banyak peningkatan sejak tahun 5 tahun sebelumnya. Prevalensinya tersebar di 34 provinsi, hampir menggenapi seluruh geografis Indonesia. 

Membicarakan isu kesehatan jiwa sendiri seringkali dianggap hal yang tabu. Berbagai stigma negatif yang menjadi label membuat orang enggan berdekatan dengan permasalahan jiwa. Padahal, orang dikatakan sehat jika mental pun mumpuni. Terlihat simpel namun menulis di atas kertas dapat menjadi salah satu penanganan stres, gangguan cemas, bahkan depresi.

Alunan kata dalam kertas dapat menjadi titik refleksi diri dan relaksasi pikiran. Dengan menulis, seseorang dapat mengeksekusi pikiran negatif, membangkitkan pikiran positif dan dapat mestimulasi cara berpikir dari perspektif berbeda. Dengan kata lain, menulis di atas kertas merupakan proses katarsis diri. 

Melalui tulisan, kita dapat menguraikan stresor yang mejadi pemicu dan menemukan solusi jika berhadapan dengan stres. Pada beberapa masalah mental sebenarnya diri sendirilah yang merupakan dokter terbaik. Kita yang paling mampu memahami diri sendiri. Yang paling penting, menulis memberikan pengalaman batin yang seru yang dapat menjadi mood booster dan menjadi obat antigalau.

Selanjutnya, ekspresi implist dan eksplisit yang tergambar dari tulisan bisa menjadi skrining ide bunuh diri. Usaha bunuh diri merupakan kegawatdaruratan psikiatri dan bisa dicegah dengan memahami kode atau tulisan yang dibuat sebelumnya.

Keempat, umpan balik terhadap fisiologis tubuh. Dari berbagai studi klinis didapatkan hasil bahwa menulis dapat membantu meningkatkan sistem imun pada pasien HIV, asma dan artritis reumatoid. Selain itu, menulis juga dapat menurunkan tekanan darah, memperbaiki fungsi paru dan fungsi hati, memperbaiki insomnia dan mengurangi rasa nyeri.

Kelima, sebagai penunjang diagnosa. Analisis kepribadian dapat ditilik dari hasil tulisan seseorang. Metode ini sudah menjadi ragam keilmuan yang disebut grafologi. Di bidang medis, tulisan tangan dapat membantu konfirmasi diagnosa parkinson, Alzheimer, dan autis.

Keenam, kertas sebagai pantulan religi. Tulisan yang kita bagi pada orang lain dapat menjadi amal jariyah sekaligus celengan menuju surga. Bukankah sebaik-baik manusia adalah pribadi yang bermanfaat untuk orang lain?

Ketujuh, sekaligus yang terakhir adalah kertas sebagai media komunikasi. Menulis merupakan sarana berkomunikasi mereka yang diberi karunia tuna wicara dan tuna rungu. Contoh lain, pada orang introver yang tidak nyaman berbahasa lisan, menulis bisa menjadi alternatif pilihan dalam berinteraksi sosial.

Terlihat bahwa hampir tidak ada kondisi minus keberadaan kertas dalam perannya terhadap proses menulis. Tak ada rekam jejak digital yang terkadang jadi bumerang. Pun tak ada efek sampingnya. 

Menulis dengan kertas relatif murah, mudah dan dapat dilakukan dimana saja. Tak perlu colokan listrik apalagi jadi fakir kuota. Mengutip kata-kata Pramoedya Ananta Toer, menulislah agar berani, menulislah agar dunia mengenalmu dan menulislah agar abadi.