Masyarakat Indonesia memang suka sekali memelihara hewan di rumah, bahkan seperti sudah membudaya. Kucing, anjing, burung, sampai jenis-jenis hewan ternak seperti ayam, bebek, domba, kambing, dan sapi juga dipelihara.  Dan sejauh yang saya tahu, semua hewan-hewan ini ditempatkan tidak jauh-jauh dari area rumah.

Burung mungkin tidak perlu pelatihan khusus untuk urusan memandikan dan buang airnya. Ini bisa dilakukan oleh pemiliknya dengan mudah karena kandang burung yang sifatnya portable. Begitu juga dengan anjing dan kucing yang bisa dilatih untuk buang air di tempat khusus yang sudah disediakan.

Beda ceritanya dengan beberapa hewan ternak seperti ayam, bebek, atau kambing. Saya belum pernah melihat hewan-hewan ini dilatih untuk buang air di tempat khusus. Dan memang sepertinya tidak perlu seperti itu. Hewan ternak biasa dilepaskan bila pagi datang lalu akan disuruh masuk sebelum malam hari. Di sinilah masalah hadir.

Dulu, saat saya masih kecil, tetangga kami ada yang memelihara bebek dan angsa (kami menyebutnya Soang). Para bebek dan soang ini tidak pernah dikandangkan. Mereka berkeliaran bebas dari hari ke hari. 

Melihat mereka lalu lalang di pelataran rumah pun kami sudah biasa. Yang tidak (akan pernah) biasa adalah pertama, soal suaranya yang berisik minta ampun. Mereka ini, kalau sudah satu berbunyi, maka yang lainnya seakan terinspirasi untuk ikut bersuara. Kwak-kwek kwak-kwek sepanjang siang. 

Kedua, kotorannya. Unggas-unggas berkaki pendek ini, kan, suka sekali berjalan di tanah becek atau lumpur. Jadilah sisa buang air ditambah jejak kaki mereka menjadi combo double yang ajib di halaman rumah. 

Ketiga, soang adalah hewan yang suka nyosor. Saya tidak ingat pernah mengganggu mereka tapi beberapa kali saat saya lewat mereka mengejar saya dengan niat menyosor dan dilakukan secara keroyokan. I hate you, soang. I really do.

Masalah dengan hewan peliharaan tak berhenti sampai di situ. Saat akhirnya saya dan pasangan menyewa sebuah rumah kami berpikir untuk mencari tempat tinggal di area perumahan saja untuk menghindari adanya hewan-hewan peliharaan jenis unggas ini karena anak-anak kami juga masih balita saat itu. 

Ternyata oh ternyata, setahun kemudian, tetangga kami memanfaatkan area kosong di sudut jalan untuk memelihara burung dara.

Burung ini hanya dikurung saat malam hari, setiap pagi sangkarnya dibuka sehingga otomatis mereka akan terbang ke sana ke mari. Bergerombol di halaman belakang lalu terbang berbarengan yang bisa bikin kaget dan meninggalkan jejak kotoran di mana-mana.

Beberapa tahun hidup saya terbebas dari urusan hewan milik tetangga ini sampai akhirnya tetangga belakang rumah ibu saya ternyata memelihara beberapa ekor ayam. Cobaan apa lagi ini, Tuhan?

Ayam-ayam ini tidak pernah secara khusus diberi makan oleh tuannya, mereka dilepas untuk mencari makan sendiri setiap hari. Maka pastinya mereka akan berkeliaran di tempat yang paling dekat yaitu halaman rumah kami.

Suaranya yang berisik, kotorannya yang bertebaran di mana-mana adalah pemandangan sehari-hari. Apa kami senang? Tentu saja tidak dong. Terganggu, iya.

Saya merasa sangat senang saat kapan hari sempat beredar kabar bahwa akan disahkan undang-undang yang menetapkan denda sejumlah uang bagi yang membiarkan hewan peliharaannya masuk ke pekarangan rumah orang lain. 

Selain saya melihat jalan menjadi kaya mendadak, tentu ini akan mengajarkan para pemilik hewan itu untuk lebih bertanggung jawab atas apa yang mereka punya. Tentu mereka tidak mau dong membayar sejumlah uang hanya karena ayamnya menclok di teras rumah tetangga?

Yang bilang bahwa undang-undang ini tidak adil tentulah belum pernah merasakan harus mengepel dan menyapu teras berulang kali hanya karena kotoran hewan yang bukan milik kita, pasti belum pernah merasa susah tidur siang karena suara-suara hewan yang bersahut-sahutan.

Karena saya yakin tidak semua orang merasa nyaman bila mendapati ada hewan yang berkeliaran di halamannya. Kebanyakan pasti akan ngomel dan nggerundel tanpa berani bicara ke tetangga sebagai pemiliknya karena pasti akan menimbulkan keributan. 

Seringnya para pemilik ini tidak terima bila hewan-hewannya diusir atau bila tetangganya ada yang memprotes soal suara atau kotorannya. Mereka akan berdalih 'Namanya juga binatang, biarin saja. Masa gitu aja diributin?'

Untuk itulah saya sangat excited menunggu undang-undang ini hadir. Supaya mereka tidak sembarangan lagi. Supaya mereka bisa lebih memikirkan bagaimana caranya memelihara hewan dengan lebih bertanggung jawab. 

Jangan mau enaknya saja, bisa dapat telur atau daging hewan yang disembelih bahkan bisa dapat uang dengan menjual beberapa dari mereka. Pemiliknya seneng, tetangganya senep.