Mahasiswa
1 bulan lalu · 12 view · 3 min baca menit baca · Gaya Hidup 33989_68943.jpg

Menanti Surabaya Bebas Macet

Akhir-akhir ini publik masih dibingungkan dengan kedua kubu yang saling mengklaim menang dalam ajang pilpers (Pemilihan Presiden) tahun ini. Namun di balik itu semua ada hal yang cukup penting untuk didiskusikan, yakni Surabaya sebagai kota terpadat kedua setelah Jakarta.

Sebagian besar penduduk Kota Surabaya adalah pendatang dari kota lain. Tetapi, kebanyakan penduduk pendatang berasal dari pinggiran Kota Surabaya (Sidoarjo, Mojokerto, Gresik, dan Pulau Madura). Mereka beradu nasib di kota pahlawan demi mencukupi kebutuhan hidup.

Selain itu, penduduk di kota pahlawan ini ada yang ‘numpang’ sekolah. Dengan banyaknya universitas negeri dan swasta menyebabkan penduduk Surabaya menambah dari tahun ke tahun. Dengan banyaknya penduduk, acap kali jalanan di Surabaya selalu padat dan pemerintah tidak dapat mengatasinya.

Polisi dan Dinas Perhubungan hanya dapat berdiri di pinggir jalan yang hanya menyaksikan kemacetan di kota pahlawan ini. Contoh saya yang berangkat dari kampus yang terletak di pusat kota membutuhkan waktu 30 menit. Sedangkan jika di hari libur saya hanya membutuhkan waktu 15 menit saja.

Penyebabnya yakni banyaknya alat transportasi pribadi (mobil dan sepeda motor) yang memadati jalanan kota Surabaya. Meskipun trafic light (lampu merah) itu hijaunya lama tidak dapat mengatasi kemacetan di Surabaya. Saya jadi kasihan melihat Dishub Surabaya yang sia-sia mengatur waktu di trafic light apabila jumlah kendaraan bermotor terus bertambah.


Kemudian, permasalahan ini diperparah dengan iklan-iklan kendaraan bermotor yang menggiurkan sehingga banyak orang untuk menambah atau membeli kendaraan bermotor. Seakan-akan kendaraan bermotor seperti beras yang harus di beli secara rutin. Jika beras memang harus di beli secara rutin tetapi menurut saya kendaraan bermotor tidak perlu di beli secara rutin.

Fenomena ini sering di jumpai di kota-kota besar seperti Surabaya. Setiap ada mobil atau sepeda motor keluaran terbaru masyarakat langsung membeli kendaraan tersebut. hal ini di buktikan dengan banyaknya kendaraan baru di Surabaya. 

Contoh kongkret sepeda motor Honda Vario 125 terbaru di jalanan Surabaya sudah banyak yang memakai. Apalagi banyak produsen sepeda motor yang menawarkan kredit murah. Seakan-akan masyarakat selalu di buat untuk membeli barang yang baru setiap saat entah itu tahun depan, bulan depan , atau setiap hari.

Dengan ini, semua yang dilakukan oleh produsen mencoba untuk memberikan pengetahuan bahwa membeli barang itu harus, wajib, dan sangat di butuhkan. Membeli suatu barang juga merupakan suatu budaya yang cukup lama dan harus di lestarikan. Inilah yang dikatakan oleh Foucault dalam teorinya tentang injeksi pengetahuan.

Menurut Foucault masyarakat bisa di kendalikan dengan permainan wacana. Bentuk permainan wacana itu di sebut dengan disiplin. Disiplin menurut Foucault ini merupakan sebuah permainan wacana yang isinya adalah injeksi pengetahuan. 

Contoh sederhana jika produsen sepeda motor mau berkembang maka produsen sepeda motor akan memberikan ‘wejangan’ kepada masyarakat untuk terus membeli sepeda motor yang baru jika ada sepeda motor keluaran terbaru.

Itulah mengapa masyarakat dengan mudah untuk dikendalikan. Melalui injeksi pengetahuan tentang apa pun masyarakat bisa dikendalikan. Lalu jika masalahnya kepadatan lalu lintas bagaimana mengatasinya?

Melalui teori Foucault ini sebenarnya bisa. Pemerintah tinggal membangun fasilitas transportasi publik yang sangat baik, nyaman, mudah, cepat, dan terjangkau. Selain itu, pemerintah juga dapat memberikan pengetahuan tentang pentingnya menggunakan transportasi publik.

Pemerintah juga dapat memberikan pembatasan kepemilikan kendaraan bermotor dengan meninggikan pajak kendaraan di seluruh wilayah. Sehingga masyarakat menjadi enggan untuk membeli kendaraan bermotor yang baru karena pajak kendaraan yang terus meningkat.

Namun yang terpenting pula harga bahan bakar jika bisa di naikkan sehingga masyarakat juga dapat menghemat bahan bakar. Sebenarnya pemikiran ini bukanlah pemikiran yang kuno. Pemikiran semacam ini suah di terapkan di negara-negara maju. Dengan menerapkan kebijakan ini tentu akan mengubah mindset masyarakat untuk beralih ke transportasi publik.

Kebijakan ini juga baik bagi lingkungan sekitar. Mengapa demikian? Karena dengan masyarakat mengurangi pemakaian kendaraan pribadi maka dapat berkurang polusi udara. Jadi jika semua masyarakat tidak menggunakan kendaraan pribadi maka kualitas udara di kota akan jauh lebih baik dari pada sekarang.


Dengan demikian, dari sini dapat disimpulkan untuk mengurai kemacetan pemerintah harus dengan tegas memberikan kebijakan-kebijakan yang sudah saya tawarkan. Tetapi ini semua harus kembali kepada pemerintah. Dengan di berlakukan kebijakan harapan ke depan masyarakat dapat menerima kebijakan.

Segala kebijakan harus memperhatikan kepentingan bersama bukan kepentingan pribadi atau golongan tertentu. Indonesia merupakan negara yang berkembang. Negara berkembang biasanya masih mengalami perkembangan dalam segala aspek termasuk aspek transportasi.

Apabila menginginkan lalu lintas bebas hambatan bukan di perlebar jalan raya atau membangun jalan bebas hambatan (tol). Tapi pertama-tama pemerintah harus dapat mengubah mindset masyarakat untuk beralih menggunakan transportasi publik. Akhirnya semoga kemacetan yang terjadi di Surabaya dan di kota-kota lain dapat teratasi dengan segera.

Artikel Terkait