Penulis Lepas
2 bulan lalu · 74 view · 4 menit baca · Cerpen 47816_92144.jpg
1hidayah.blogspot

Menanti Pak Salim

Hari ini, aku senang. Betapa tidak, Pak Salim akan datang ke rumah membawa bantuan untukku. 

Pak Salim adalah kepala desa kami. Sosoknya dekat dengan rakyat. Kedatangannya bukan karena ingin mencari simpati. Bukan pula meminta dukungan kepada keluargaku. Lantaran beberapa bulan lagi dia akan kembali maju mencalonkan kepala desa. Bukan, bukan itu maksudnya! Ini kunjungan rutinnya ke rumah. 

Setiap tiga bulan sekali, dia tak pernah absen datang ke rumah menyalurkan bantuan dari Dinas Sosial untukku. Pak Salim pemimpin amanat. Tak pernah sekalipun ia menyunat bantuan yang diberikan. 

Kulirik jam yang menggantung setia di dinding rumah. Jarum pendeknya terus mendekati angka delapan. Bergegas kuminta emak untuk memandikanku. Aku tak mau jika Pak Salim datang, aku masih dengan keadaan wajah yang kusut. 

Sehabis mandi, emak memakaikan baju yang paling bagus yang kumiliki. Lalu mendorongku ke teras rumah untuk menyambut kedatangan Pak Salim. Kalau sudah begitu, aku akan duduk mantap di kursi roda sampai Pak Salim datang. 

Tetiba benakku melancong pada masa lima tahun silam – saat Pak Salim belum menakhodai desa kami. Setiap tiga bulan sekali, bapak harus bersepeda menuju balai desa mengambil uang dan sembako. 

Pernah hari itu, di tengah perjalanan, jalanan licin. Sepeda yang dibawa bapak terjatuh. Sembakonya berhamburan. Hingga akhirnya sepeda bapak rusak. Untung banyak warga yang menolong. Kalau ingat itu, aku ingin menangis. 

Tidak berap lama, aku tersentak kaget ketika emak menyentuh pundakku. Emak membawakanku sepiring nasi dan lauk seadanya. 

“Tin, ayo makan dulu! Sejak pagi tadi kamu belum makan,” kata emak setelah berdiri di sampingku. 

Aku menggelengkan kepala, pelan.

 “Ayo Tini, makanlah dulu! Sedikit saja. Nanti kamu masuk angin.” 

Aku menggelengkan kepala dengan cepat. Lalu menangis. Emak terdiam. Begitulah kebiasaanku. Kalau tidak senang, maka apapun akan kulakukan. Aku hanya ingin makan bersama Pak Salim walau hanya sebentar. 

Gegas emak berlalu dari pandanganku menuju dapur. Di dapur, emak tengah merebus singkong untuk disediakan pada Pak Salim. Sementara, di sini aku masih setia menanti Pak Salim. Aku yakin, dia akan datang sebentar lagi. 

Sejurus kemudian, kudengar samar-samar deru suara sepeda motor dari ujung jalan. Aku berteriak girang. Itu pasti Pak Salim, pikirku. Jujur, sudah tak sabar aku melihat parasnya yang tampan. Tak sabar rambutku diusapnya penuh sayang. Tak sabar aku memakan singkong bersamanya. 

Namun, rasa senangku perlahan memudar saat kudapati yang mengendarai sepeda motor itu adalah Paman Tasidi – tetangga sebelah. 

*** 

Suara adzan ashar dari corong musola berkumandang. Suara muadzin yang mengumandangkan adzan itu merdu, merdu sekali. Tapi, aku heran. Sampai detik ini, tak kujumpa wajah Pak Salim. Kuharap, wajah yang memancarkan terang sinar rembulan itu kini tengah menuju ke rumah. Membawa bantuan untukku. 

Aku tahu karakter Pak Salim. Dia tidak akan pernah bohong. Dia selalu menepati janji meski sibuk atau hujan sekali pun. Buktinya saja kata bapak. Setahun dilantik menjadi kepala desa, Pak Salim langsung merealisasikan untaian janji kampanyenya. 

Dia turun ke lapangan, melihat dan mendengarkan langsung aspirasi rakyatnya. Dia menambal jalan yang berlubang, membangun jembatan, memperbaiki musola, dan melakukan gebrakan baru di bidang pertanian. Pak Salim memang tipikal pemimpin yang peduli rakyat. 

Emak menyembul dari balik pintu. Emak menujuku dengan membawa nasi dan segelas air minum. Perlahan emak semakin mendekat, mencoba membujukku. “Tin, ayo kamu makan dulu! Kamu belum makan sejak tadi. Mungkin besok Pak Salim akan ke sini!” 

Aku terdiam sejenak. 

“Ayo Tini, makanlah dulu! Nanti kamu masuk angin!” 

Kali ini, aku tidak bisa membohongi emak dan diri sendiri. Perutku sudah amat lapar. Kuminta emak untuk menyuapiku. Seketika itu, gurat wajah emak berubah sumringah. 

Sembari disuapi emak, mataku tak henti melihat sepeda motor yang lewat di depan rumah. Tak sabar aku menunggu kedatangan Pak Salim. Aku yakin, sebentar lagi dia akan datang. 

“Habis makan ini, kamu mandi ya Tin! Setelah itu, kita tunggu lagi Pak Salim di sini,” kata emak dengan lembut. 

Aku mengangguk.

 Emak tersenyum, melihatkan barisan giginya yang masih rapi. 

Belum sempat emak menggiringku menuju kamar mandi, sayup-sayup terdengar suara bapak berteriak memanggil emak dari halaman rumah. 

“Yati…. Yati…!” 

Dari halaman, kulihat bapak berlari-lari kecil menghampiri kami. Napasnya tersengal-sengal. Tiba-tiba emak tercenung, sementara aku menatap wajah bapak tak berkedip.

“Bapak kenapa bajunya ada bercak darah?” tanya emak ingin tahu. 

“Ini darah Pak Salim, Ti!” sahut Bapak. 

“Maksudnya, Pak?” jawab emak bingung mencerna kata-kata bapak. 

‘Sepeda motor Pak Salim ditabrak orang, Ti. Mobil yang menabraknya kabur. Sembako yang dibawanya berserakan di jalan. Sepertinya sembako itu untuk kita,” jelas bapak. 

“Jadi bagaimana sekarang kondisi Pak Salim, Pak?” buru emak. 

Aku memasang wajah ingin tahu. 

“Pak Salim meninggal dunia, Ti. Kepalanya pecah!” jawab bapak pelan sambil menundukan kepala. 

Aku tersentak kaget. Hatiku seperti disambar petir, ditusuk ratusan jarum. Mataku tiba-tba basah, air mataku menetes perlahan. Tubuhku lemas, lemas sekali. 

Seketika kurasakan angin yang menggoyang pucuk-pucuk daun mangga dan reremput di halaman rumah ikut terdiam. Kulihat wajah emak yang mulai keriput ikut pula dibasahi air mata. 

Aku tak tahu harus berbuat apa. Sungguh, aku begitu kehilangan Pak Salim. Aku takut tidak ada lagi sosok yang dapat menggantikan kepemimpinan Pak Salim. Dia pemimpin amanat. Dekat dengan rakyat. Buru-buru emak menenangkanku, lalu mendekapku erat.