Mahasiswa
5 bulan lalu · 184 view · 3 menit baca · Filsafat 57264_84454.jpg
Unsplash/Gian Reichmuth

Menantang Rasionalitas Bunuh Diri

Fenomena bunuh diri yang “mewabah” akhir-akhir ini menyedot perhatian publik. “Wabah” ini kita ketahui melalui berbagai pemberitaan di media massa. Kasus-kasus bunuh diri beberapa public figure internasional menggugah kesadaran khalayak ramai; sebut saja beberapa di antaranya Anthony Bourdain, Kate Spade, Chester Bennington, DJ Avicii, dan Robin Williams. 

Di negara kita sendiri, peristiwa bunuh diri bukanlah peristiwa yang langka. Baru-baru ini, seorang mahasiswa diduga bunuh diri di salah satu apartemen di pusat kota Surabaya. Bulan Juni lalu, seorang polwan di Batam dikabarkan mencabut nyawanya sendiri dengan cara bunuh diri. Pada bulan Maret tahun lalu, seorang pria di Jakarta bahkan menayangkan peristiwa bunuh dirinya secara langsung melalui Facebook.

Berdasarkan data World Health Origanization (WHO), hampir 800.000 orang mati karena bunuh diri setiap tahunnya. Dalam skala internasional, bunuh diri merupakan penyebab kematian tertinggi ke-18. Bunuh diri dilakukan oleh banyak orang dari berbagai usia, status, golongan, agama, tingkatan ekonomi, dan tingkatan pendidikan. Lantas kita dapat menggarisbawahi bahwa bunuh diri merupakan fenomena dalam skala global. 

Fenomena global ini penyebabnya bermacam-macam, mulai dari masalah dalam relasi sosial, ekonomi, kesehatan fisik maupun mental, hingga krisis eksistensial. Dari beraneka ragam penyebab ini, depresi merupakan penyebab yang paling umum. Namun, ternyata, jika diamati dengan seksama, hampir semua penyebab bunuh diri bermula dari suatu hal: suatu keyakinan atau pemikiran yang keliru.

Berhadapan dengan kenyataan ini, kita dapat memberikan suatu pandangan filosofis yang dapat menantang pemikiran keliru yang menjadi penyebab bunuh diri. 


Untuk memberikan sebuah jawaban atas moralitas dari tindakan bunuh diri, Immanuel Kant, seorang filsuf Jerman dari zaman Pencerahan, mengusulkan agar kita memberikan penekanan pada rasio. Menurutnya, moralitas haruslah bersumber dari rasionalitas. Karena rasionalitas dimiliki oleh semua manusia, maka moralitas haruslah universal pula sifatnya; kita semua merupakan subjek atas hukum moral.

Berkaitan dengan tindakan, Kant mengemukakan bahwa ada dua instruksi (imperative) yang muncul dalam diri kita, yakni yang hipotetis (hypothetical imperative) dan yang kategoris (categorical imperative). 

Hypothetical imperative memberitahu kepada kita hal apa yang harus kita lakukan untuk mencapai tujuan tertentu. Misalnya, “Kalau mau terlihat cantik, maka kenakanlah make up yang pantas dan sesuai.” Instruksi ini hanya berlaku bagi orang yang ingin mencapai tujuan tertentu yang mereka maksudkan dan sifatnya pun tidak wajib untuk dilakukan.

Namun, bagi Kant, moralitas tidaklah demikian. Moralitas tidak memberitahu kita apa yang harus kita lakukan untuk mencapai tujuan tertentu, misalnya, “Kalau tidak mau dipenjara, maka jangan mencuri.” Seharusnya, kita tidak boleh mencuri, terlepas dari keinginan untuk tidak dipenjara. Inilah yang disebut Kant sebagai categorical imperative, di mana prinsip moral kita otonom dari keinginan kita, melainkan berlaku layaknya kewajiban, tidak bersyarat dan mutlak bagi semua agen moral. 

Etika Kantian yang juga kerap dikenal sebagai Etika Deontologi ini dapat diterapkan secara universal karena dasarnya ialah rasio yang dimiliki oleh semua orang tanpa terkecuali, bukan berdasarkan iman kepercayaan tertentu.

Kant memformulasikan categorical imperative ini dalam beberapa cara. Salah satu formulasinya menyebutkan bahwa tindakan kita haruslah didasarkan pada prinsip yang mana semua orang secara universal akan menghendaki tindakan itu pula dalam situasi yang kurang lebih sama. Dalam hal ini, tindakan bunuh diri tidak dapat dibenarkan, karena tidak dapat diberlakukan sebagai sebuah prinsip umum yang berlaku untuk semua orang. Pada dasarnya, setiap orang secara alami memiliki intuisi untuk menjaga dan mempertahankan hidupnya. 

Dalam situasi-situasi sulit sekalipun, seseorang masih akan berpikir panjang untuk memutuskan bunuh diri, dan secara umum manusia akan tetap bertahan dan melanjutkan hidupnya, bahkan dapat mengatasi kesulitan yang ia alami. Singkatnya, tidak semua orang menghendaki untuk membunuh dirinya sendiri ketika dihadapkan pada situasi apapun. 


Dalam bukunya yang berjudul The Metaphysics of Morals, Kant menegaskan bahwa sesungguhnya bunuh diri adalah sebuah tindakan pelanggaran kewajiban seseorang terhadap dirinya sendiri dan karena itulah tindakan ini tidak pernah dapat dibenarkan.

Etika Kantian telah menawarkan pandangannya mengenai tindakan bunuh diri. Ia menantang kita untuk mempertanyakan rasionalitas yang kita bangun untuk membenarkan tindakan tersebut. Namun, tentu, pemahaman filosofis tidaklah akan memadai jika tidak dilengkapi oleh bantuan yang sungguh diperlukan oleh seseorang, baik itu secara finansial maupun sosial, melalui terapi fisik maupun psikologis. 

Setiap masalah yang dihadapi manusia tidaklah menemukan jalan keluarnya dalam tindakan bunuh diri, melainkan dalam diri yang siap untuk terus-menerus ditantang menghadapi kerapuhannya dengan menggunakan rasio yang telah dianugerahkan kepadanya. Keseluruhan hidup kita, sesungguhnya, lebih besar dan agung dari segala kesulitan temporer dan pengalaman menyakitkan yang sedang kita geluti.

Referensi:

Bertens, Kees, Etika, Yogyakarta: Kanisius, 2013.
Hardiman, F. Budi, Filsafat Modern: Dari Machiavelli Sampai Nietzsche, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004.


Artikel Terkait