Etnografer
2 tahun lalu · 528 view · 8 min baca · Lingkungan 50388.jpg
Sumber Foto : Artkimianto.blogspot.com

Menantang Kecerdasan Tradisional Dalam Pengelolaan Hutan

Ilusi Kearifan Lokal

Kearifan lokal atau sering disebut dengan istilah Local Wisdom,  Local Knowledge, atau Local Genius, kerap menjadi tema  yang sering muncul dalam banyak riset sosio humaniora dan studi etnografi berbasis sumberdaya alam yang mencoba menemukan model adopsi relasi antara pengetahuan masyarakat, pengelolaan sumberdaya alam, dan kultur budaya.

Sepanjang kajiannya, para ahli sering mendefenisikannya ke dalam bentuk pengertian yang lebih bersentuhan dengan tingkah laku masyarakat sebagai respon terhadap lingkungan.  Terkait bagaimana pengertian sesungguhnya, apa manfaatnya dalam pengetahuan sosial, serta bagaimana wujud nyatanya dalam kehidupan masyarakat yang saat ini semakin bias nilai, Kearifan Lokal menjadi tema yang paling banyak ditantang untuk  membuktikan bahwa pengetahuan tradisional masyarakat jauh lebih baik dari pada negara dalam urusan kelola sumberdaya alam. 

Tulisan ini mencoba sedikit mengulas kearifan lokal dari sisi yang berbeda dengan menampilkan konstruksi yang lebih sederhana. Dan juga barangkali menjadi bagian dalam usaha menantang euphoria kearifan lokal untuk, sekali lagi, dapat membuktikan tesisnya bahwa pengetahuan tradisional masyarakat masih lebih baik dari Negara dalam mengelola SDA.

Berbicara kearifan lokal berarti kita akan memperbincangkan beberapa istilah dalam ilmu sosial dasar, diantaranya tentang pengetahuan masyarakat, adat istiadat, dan budaya. Pengertian kearifan lokal (local wisdom) dalam kamus terdiri dari dua kata: kearifan (wisdom) dan lokal (local). Dalam disiplin antropologi dikenal istilah local genius. Local genius ini merupakan istilah yang pertama kali dikenalkan oleh Quaritch Wales. 

Dalam Kamus Inggris Indonesia John M. Echols dan Hassan Syadily, local berarti setempat, sedangkan wisdom (kearifan) sama dengan kebijaksanaan. Secara umum maka local wisdom (kearifan lokal) dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya.  

Berbeda halnya dengan Gobyah (2003) dalam sebuah artikel berjudul “ Berpijak Pada Kearifan Lokal “ (balipos.co.id) yang lebih transenden dengan mengatakan bahwa kearifan lokal (local genius) adalah kebenaran yang telah mentradisi atau ajeg dalam suatu daerah.

Kearifan lokal merupakan perpaduan antara nilai-nilai suci firman Tuhan dan berbagai nilai yang ada. Kearifan lokal terbentuk sebagai keunggulan budaya masyarakat setempat maupun kondisi geografis dalam arti luas. lebih lanjut Gobyah mengatakan bahwa Kearifan lokal merupakan produk budaya masa lalu yang patut secara terus-menerus dijadikan pegangan hidup yang meskipun bernilai lokal tetapi nilai yang terkandung didalamnya dianggap sangat universal.

Uraian di atas barangkali sedikit tumpang tindih antara satu dengan yang lain, namun dari situ kita bisa menarik benang merah dari definisi para ahli diatas sehingga mempertegas kembali keyakinan bahwa kearifan lokal merupakan produk asli dari kecerdasan tradisional masyarakat yang sejatinya bersifat transenden, filosofis, dan natural, meski tak sedikit juga banyak diliputi oleh unsur klenik dan hal – hal mitos yang berada disekitarnya.

Kearifan lokal sering dijumpai dalam banyak tindakan yang bersinggungan dengan alam, masyarakat tradisional, dan pengelolaan sumber daya alam. Kearifan lokal memiliki beberapa dimensi, seperti dimensi tempat, dimensi waktu, dan dimensi tindakan, yang masing-masing memiliki perbedaan dan perlakuan istimewa dari sebuah masyarakat tradisional. 

Berdasarkan beberapa dimensi tersebut, Kearifan lokal ini dengan mudah dikenali dengan pendekatan identifikasi karakteristik dengan mengacu dimensi-dimensi diatas, seperti adanya nama tradisional yang diberikan masyarakat terhadap tindakan tertentu, adanya lokasi atau sebuah tempat dalam kawasan tenurial masyarakat tradisional yang dikeramatkan, adanya perlakuan/tindakan khusus terhadap objek tertentu, dan juga biasanya meliputi waktu tertentu yang sering dikhususkan untuk diistimewakan atau disucikan. 

Dalam masyarakat pertanian tradisional,  tindakan yang mencerminkan adanya kearifan lokal dapat ditemukan pada beberapa segmen pengelolaan yang biasanya meliputi cara tanam serta cara menentukan waktu panen dan waktu tanam, yang kadangkala memasukan varibel pertimbangan yang sedikit aneh dan klenik menurut pemahaman masyarakat ilmiah.  Sehingga tidak sedikit masyarakat awam cenderung mengidentikan kearifan lokal sebagai hal yang berbau mitos dan irrasional. 

Meskipun terkesan berbau mitos dan iirasional, namun pengelolaan sumber daya alam dengan berbasis pada kearifan lokal cenderung menunjukan keberhasilan yang lebih nyata bagi masyarakat penerima manfaat ketimbang pengelolaan sumber daya alam yang berbasis rekayasa sosial namun tuna makna sebab tidak memberi ruang gerak bagi harapan, kreativitas serta pengetahuan tradisional masyarakat asli.

Bahkan beberapa diantaranya (kelembagaan kearifan lokal) berkembang menjadi jalan baru dalam upaya memberdayakan masyarakat lokal dalam kerangka semangat back to nature sebagai respon terhadap gagalnya program pemberdayaan masyarakat berbasis rekayasa sosial yang dalam beberapa dasawarsa terakhir dianggap solutif dan revolusioner.

Mengukur Kecerdasan Tradisional 

Salah satu contoh kecil pengelolaan sumber daya alam dengan mengandalkan kearifan lokal masyarakat adalah Hutan Rakyat (Privately owned Forest).   Hutan Rakyat saat ini menjadi andalan baru dalam pengelolaan hutan berbasis masyarakat yang benar-benar menjadikan rakyat berdaulat atas sumber dayanya sendiri. 

Hutan rakyat muncul atas inisiatif rakyat sendiri untuk mengelola kawasan tenurialnya secara mandiri. Sehingga ide dan harapan tumbuh dari kesadaran masyarakat sendiri. berbeda halnya dengan program kehutanan lain yang versi negara. Contohnya adalah Hutan Kemasyarakatan (HKm).  pengelolaan Hutan Kemasyarakat sifatnya top down dimana indikator pemberdayaan sudah ditentukan dari level pembuat kebijakan yang sangat minim informasi dari bawah dan masyarakat hanya menerima input pemberdayaan yang tidak begitu mereka harapkan.

Sehingga tidak aneh jika banyak program pemerintah yang tidak jalan di level bawah karena mendapat sandungan serta resistensi dari masyarakat penerima manfaat yang pada akhirnya tidak menyentuh persoalan yang sebenarnya.  Inilah perbedaan nyata antara pengelolaan sumber daya alam versi masyarakat dengan versi negara. 

Selanjutnya, dalam beberapa tahun terakhir, pengelolaan Hutan Rakyat menjadi primadona pada sebagian besar masyarakat yang tinggal disekitar kawasan hutan  di Pulau Jawa dan Kalimantan. Hal ini dikarenakan pengelolaan hutan rakyat berada dalam kontrol masyarakat sehingga kearifan lokal yang dianut oleh masyarakat setempat terakomodasi dengan terbentuknya kelembagaan kearifan lokal. 

Tidak hanya itu, harapan masyarakat untuk sejahtera dalam bingkai kearifan lokal dapat terwujud sebab mereka sendiri yang merencanakan dan mereka pulalah yang mengelola, tentunya dengan melibatkan pembinaan mandiri dan partisipatif dari berbagai kalangan professional dan pemerintah. 

Perlu juga diketahui bahwa model kesejahteraan yang dimaksud dalam tujuan yang ditarget dalam hutan rakyat bukanlah kesejahteraan dengan gambaran kehidupan yang serba mapan dan modern, namun kesejahteraan dalam bingkai kesederhanaan, keselarasan, keseimbangan, dan keserasian dengan harmoni alam. Itulah gambaran kesejahteraan dalam bingkai kearifan lokal.

Pada sisi yang lain, pemerintah cenderung tidak percaya kepada masyarakat lokal tradisional/adat untuk mengelola sumber daya alam sebab dianggap sebagai lapisan sosial yang identik sebagai kaum yang minim pengetahuan, tidak berdaya, suka menjarah dan  kurang memahami tentang kelestarian sumber daya alam.

Padahal banyak bukti yang menunjukan bahwa masyarakat tradisional memiliki kecerdasan yang gagal dipahami oleh negara sebagai sebuah kekayaan budaya nusantara.  Dan model pengelolaan ini menunjukan keberhasilan yang nyata bagi masyarakat.  Salah satu contohnya adalah model pengelolaan Igya Ser Hanjob dalam kebudayaan masyarakat arfak di pegunungan arfak, manokwari, provinsi Papua Barat.

Masyarakat Arfak terutama yang bermukim pada kawasan ini memiliki nilai dan kearifan budaya Igya Ser Hanjob yang artinya berdiri menjaga batas. Secara filosofis nilai ini mengandung makna bahwa segala yang ada di alam ini (termasuk manusia) memiliki batas. Bilamana batas tersebut dilanggar maka bencana akibatnya.

Sebagai sebuah nilai - Igya Ser Hanjob merupakan landasan hidup masyarakat Arfak sehari – hari. Pada masyarakat Arfak dikenal budaya “Henjabti”.  Igya ser Hanjob, selain mengatur tentang pengelolaan sumber daya alam secara tradisional, juga mengatur masalah sosial di kalangan masyarakat Arfak. Sejak kecil anak – anak Arfak mulai diajarkan berlaku jujur, adil, bijaksana. Semua ada batasnya dan setiap orang diharuskan menjaga batas tersebut untuk keberlangsungan hidupnya.

Melihat uraian diatas, maka kita bisa menimbang-nimbang bahwa masyarakat tradisional memiliki keunggulan pengertian, pemahaman, dan pemaknaan  yang begitu filosofis dalam menjaga, mengelola, serta merawat sumber daya alamnya. Bila dibandingkan dengan program pemerintah yang lebih birokratis, kaku, berorientasi proyek dan profit,  eksploitatif tanpa kenal batas, masyarakat tradisional dengan kearifan lokalnya sudah lebih mengerti tentang keterbatasan sumnber daya alam untuk menunjang maslahat kehidupan manusia, sehingga perlu ada pembatasan, jeda serta regenerasi terhadap sumber daya alam.

Contoh yang lain adalah model perlindungan sumber daya alam “ Sasy” yang dilakukan oleh masyarakat adat desa haruku di Kepulauan Maluku. Sasi dapat diartikan sebagai larangan untuk mengambil hasil sumberdaya alam tertentu sebagai upaya pelestarian demi menjaga mutu dan populasi sumberdaya hayati (hewani maupun nabati) alam tersebut.

Karena peraturan-peraturan dalam pelaksanaan larangan ini juga menyangkut pengaturan hubungan manusia dengan alam dan antar manusia dalam wilayah yang dikenakan larangan tersebut, maka sasi, pada hakekatnya, juga merupakan suatu upaya untuk memelihara tata-krama hidup bermasyarakat, termasuk upaya ke arah pemerataan pembagian atau pendapatan dari hasil sumberdaya alam sekitar kepada seluruh warga/penduduk setempat. 

Ini membuktikan bahwa masyarakat tradisional memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang sumber daya alam yang perlu dilestarikan sehingga tercipta kelestarian dan keberlangsungan yang pada akhirnya bisa mendukung kebutuhan hidup manusia selamanya. Konsep seperti ini sudah jarang dimiliki oleh negara, kecuali hanya jargon dan pemanis bibir belaka berupa semangat konservasi yang tidak didukung sepenuh hati. Buktinya, ketika kayu di hutan semakin menipis stok dan kualitasnya, pemerintah kemudian melegalkan izin pertambangan di dalam kawasan hutan, bahkan pada kawasan lindung. 

Tujuan utamanya tidak lain adalah mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dari alam tanpa memperhatikan aspek kelestarian dan kualitasnya serta melabeli masyarakat lokal yang bermukim didalamnya sebagai penjarah, pencuri, dan perambah, padahal yang memiliki hutan adalah masyarakat dan masyarakatlah yang berdaulat dan berhak atas sumber dayanya. 

Didengungkannya kembali konsep Kearifan lokal untuk mengambil alih ruang otoritas  pengelolaan sumber daya alam sejatinya merupakan respon terhadap kesewenang-wenangan negara terhadap sumber daya yang cenderung eksploitatif dan mengabaikan peran masyarakat lokal didalamnya. 

Dengan banyaknya penelitian sosial berbasis sumber daya alam yang mengangkat tema kearifan lokal dewasa ini secara konsisten akan menjadi sebuah gelombang besar untuk menggulung mentahnya ide negara dalam pengelolaan sumber daya alam bila dibandingkan dengan kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat tradisional yang kian matang dan cenderung berhasil mencapai kesejahteraan yang diinginkan oleh masyarakat.

Dengan melihat kenyataan ini, maka sudah saatnya kita menantang Negara untuk mewujudkan kedaulatan rakyat tersebut dan menuntut dibukanya akses secara proporsional sehingga kedaulatan rakyat terhadap sumber daya yang tercermin pada kearifan lokal mempunyai tempat dalam usaha bersama mewujudkan kelestarian sumber daya alam yang hakiki.

Kearifan lokal: Sebuah Ilusi?

Kearifan lokal adalah produk dari kecerdasan tradisional masyarakat. Masyarakat lokal inilah yang merupakan kelompok yang bersinggungan langsung dengan sumber daya alam dan juga sekaligus merupakan kelompok yang paling cepat menerima bencana jika sumber daya alam terganggu atau habis.  

Masyarakat tradisional dengan kearifan lokalnya memiliki kedudukan yang sangat penting dalam pengelolaan sumber daya alam sehingga perlu dipertahankan dan dilembagakan eksistensinya.  Dalam amanat konstitusional pada batang tubuh UUD 1945, negara telah diamanatkan untuk menjaga dan memajukan warisan budaya sebagai kekayaan negara, bukan malah menghilangkannya. 

Oleh karena itu, kearifan lokal yang juga sebagai salah satu warisan kebudayaan sangat penting untuk dijaga dan dilestarikan keberadaanya, bukan semata-mata karena nilai budayanya yang vital, tetapi juga mengandung nilai-nilai manfaat yang begitu besar jika negara mampu mengejawantahkannya ke dalam bentuk-bentuk program yang bertujuan mewujudkan kedaulatan rakyat dalam sector sumber daya alam. 

Pada titk inilah. Menjadi suatu keniscayaan ketika kita menuntut kepada Negara untuk bersikap adil. Adil dalam hal melindungi pranata sosial masyarakat tradisional berupa kearifan lokal dan mensejaterakan rakyat lewat pembangunan yang berkeadilan. Pembangunan yang dimaksud harus melibatkan peran aktif masyarakat secara keseluruhan. Tidak setengah-setengah dan parsial. 

Kearifan lokal hanya akan menjadi sebuah ilusi, bilamana hanya menjadi bahasan dalam paper dan penelitian yang penuh imajinasi. Sudah saatnya kearifan lokal, tumbuh dan berkembang, sebagai sandaran yang lebih hijau dan segar, untuk memulai merajut kembali Indonesia.

Artikel Terkait