Seperti biasa, aku memulai pagi dengan senyum. Membuka tirai yang menutupi jendela, menikmati riuh kicauan burung, merapikan tempat tidur, dan meraih gawai di meja samping kasur.

Serupa yang dilakukan orang kebanyakan, aku memulai ritual agar terlihat normal seperti yang lain. Mengusap layar ke atas, membuka kunci layar, mengusapnya lagi ke bawah, menekan simbol panah atas-bawah, dan pergi ke berenda media. 

Iya, media sosial. Media yang mempertemukanku dengan banyak hal: teman, sahabat, tukang ojek online, tukang syair, sampai dengan tukang nyinyir.  

Aku memulainya dengan Facebook. Membuka notifikasi, membalas komentar, menyukai, mencintai, juga menertawai. Facebook mengadaptasi beberapa perasaan kita dalam reaksi simbolik. Menarik, bukan?

Karena bosan, aku pergi ke beranda lain: WhatsApp, tentunya. Masih sama. Tidak ada yang menurutku penting untuk ditanggapi. Aku kembali ke layar utama; mendapati simbol merah yang menggelantung di atas fitur telepon, lalu menekannya.

Aku terkejut. Adel menghubungiku berulang-ulang. Kuperiksa panggilan itu baik-baik. Dari notifikasi, Adel menghubungiku kemarin sore; pukul empat lebih dua puluh tujuh menit. Sepertinya ada yang penting. Ada delapan belas kali panggilan yang tidak kuangkat. 

Aku pergi ke ruang tengah, mencoba mencari sinyal dan menelepon Adel. Teleponku tak diangkat. Aku kembali mencoba. Hasilnya sama saja; tidak diangkat.

Aku masih saja cemas. Ayah dan ibu mendapatiku di sofa ruang tengah. Mereka menyuruhku mandi dan mengajak sarapan bersama. Aku mengangguk menuruti. Sementara panggilan Adel, aku mengurungkan niat untuk mendalami.

“Kenapa Rifan lama sekali?” ucap ayah kepada ibu.

“Mungkin dia lagi mandi. Tunggulah... Sedikit lagi dia datang,” balas ibu kepada ayah.

Lima belas menit aku membuat ayah dan ibu menunggu. Aku tak mau membuat mereka menahan makan karena diriku. 

Perlahan, aku berjalan ke arah dapur. Ibu menjemputku dengan senyum dari meja makan. Aku mendekat. Duduk di samping ibu dan menghadap ayah. Kami sarapan dan menghabiskan waktu bersama. Rasa cemas akibat panggilan Adel tergantikan dengan hangatnya berkumpul dengan ibu dan ayah di meja makan.

Setelah sarapan, lagi-lagi, ingatanku tentang Adel muncul kembali. Aku kembali menghubunginya. Adel masih belum mengangkat panggilan. Aku mengiriminya beberapa kalimat lewat ketikan di WhatsApp.

“Sayang, maaf panggilan kemarin tidak sempat kuangkat. Aku ketiduran. Kabarmu hari ini bagaimana? Orang tuamu sehat? Kuharap kau baik-baik. Sampaikan salamku pada ayah dan ibu mertua. Kalau pesanku sudah kau baca, cepatlah untuk menghubungi. Aku merindukanmu.”

***

Sudah lima hari Adel tidak menghubungiku. Aku mendadak cemas. Tidak biasanya dia begini.

“Apa Adel baik-baik saja?” tanyaku di telinga sendiri.

Aku meraih gawai di atas bantal dan menegakkan badan. Sesekali, aku meneguk air putih yang sengaja kusiapkan di meja samping tempat tidur.

Jemariku sudah stand bye di beranda WhatsApp. Pandanganku tak kubiarkan berpaling sama sekali. Pesan yang kukirim untuk Adel sudah terlanjur ditimbun oleh chatingan group. Dengan sabar, kuperhatikan baik-baik kontak Adel.

“Nah, ini dia!” ucapku saat menemukan kontak Adel. “Kok, belum dibalas?” lanjutku  kemudian.

Pesan yang kukirim lima hari lalu berakhir dengan dua centang biru. Adel tidak membalasnya sama sekali. Aku makin bingung dengan sikap Adel.

Karena tidak tahan, aku langsung menghubunginya. Ia menolak panggilan itu. Sudah kucoba berulang-ulang. Ia tetap menolak. Pikiranku tidak karuan. Aku sudah tidak tahan lagi. Saat hendak menelepon ulang, tiba-tiba muncul pesan balasan darinya.

“Jangan dulu menghubungiku. Aku tidak mau diganggu.”

“Kamu kenapa? Kok, tiba-tiba begini?”

“Aku pusing dengan diriku sendiri. Tolong mengertilah.”

Aku makin bingung dengan pesan yang dikirimkan Adel. Karena penasaran, aku kembali menanyakannya.

“Iya. Memang, kamu kenapa? Ada masalah apa, sebenarnya?”

“Setelah aku jawab, tolong pahamlah...”

Pikiranku makin melayang. Adel membuatku bingung bukan kepalang. Tiap pesannya tersirat sesuatu yang mengkhawatirkan. Aku mengiyakan permintaannya untuk memastikan.

“Apa yang sebenarnya yang ingin kau bilang?”

Adel mulai mengetik. Sepuluh detik. Lima belas detik. Satu menit. Tiga menit. Lima menit. Adel masih saja mengetik. Di menit ke delapan, pesan pun masuk. Adel selesai mengetik.

Rifan sayangku, Aku mencintaimu dengan segenap-genap hati. Jujur, aku rindu denganmu. Belakangan, aku menjadi susah tidur. Dari sini, aku sangat memikirkanmu.” Pesan itu membuatku tersenyum. Sebelum melanjutkan, aku kembali meneguk air.

“...Dengan segala sesak yang harus kuterima, maafkan aku. Aku telah mencintai pria lain sebelum mencintaimu. Aku harus jujur terhadap semua. Maaf karena cinta menjadi semakin kejam. Maaf, Maafkan aku Rifan...” sontak, senyumku luntur seketika. Pandanganku masih terpaku dilayar gawai.

Aku melihat baik-baik pesan itu. Tidak ada yang berubah sedikit pun. Di saat yang bersamaan, dadaku mendadak sesak. Aku kembali meneguk minum. Masih sama. Sesaknya makin mencuat. Semacam ada luka. Luka akibat irisan yang dilumuri cairan lemon. Sakit. Sakit sekali...

Tubuhku melemas. Kesadaranku mulai menghilang. Aku seperti terjun bebas ke dalam  jurang yang curam. Makin jauh terjatuh, makin rapuh kesadaran, sampai betul-betul hilang.

***

Malam itu dingin sekali. Di lorong yang memiliki panjang ratusan meter dan lebar tiga meter itu, tampak dua orang berdiam diri di bangku yang panjangnya sekitar dua meteran. Mereka diliputi rasa cemas dan tubuh yang letih. Lebih-lebih wanita itu.

Seputar matanya dilingkari warna hitam mirip boneka Panda. Wanita itu seperti orang yang tidak tidur berhari-hari. Sementara yang pria, terlihat beberapa kali ia menguap. Keduanya kusut sekali.

Dari arah utara ujung lorong, seorang perlahan mendekat ke arah pria dan wanita paruh baya.

“Anak saya bagaimana, Dok?” wanita itu menimpali pria yang berpakaian serba putih.

“Anak ibu akan segera sadar. Keadaannya makin membaik,” jawab Pria itu, lalu masuk ke dalam ruangan.

“Sudah, mama tidur dulu. Rifan bakalan sadar, kok” pria yang berdiri di samping wanita itu mengelus-elus bahunya dari belakang.

“Mama, mau menunggu Rifan sadar dulu. Kalau papa capek, papa tidur saja.”

“Kalau mama tidak tidur, mama juga akan sakit,” bujuk pria itu.

Saat kedua orang itu berbincang-bincang, Dokter keluar dari ruangan.

“Silakan masuk. Bapak dan ibu jaga saja di ruangan.” ucap Dokter lalu pergi meninggalkan ruangan.

“Iya, Dok,” jawab kedua orang itu bersamaan.  

Setelah mengobrol singkat dengan Dokter, kedua orang itu masuk ke dalam ruangan. Wanita itu mengambil tempat di sisi pria remaja yang terbaring lemah. Sementara pria lainya, ia merebahkan badannya di Sofa panjang dalam ruangan.

“Papa tidur dulu, ya Ma.”

“Iya, Pa.” jawab wanita itu.

Wanita paruh baya itu menggenggam tangan kiri pria yang sedang terbaring. Ia menatap pria itu dengan pandangan berkaca-kaca. Tak kuasa, wanita itu menumpahkan air dari kelopak mata. Ia tersendu-sendu. Sesekali, wanita itu melangit kan doa.

“Tuhan, sembuhkanlah anak hamba. Angkatlah penyakit yang dideritanya. Berikan kesembuhan pada dirinya. Sebagai pencipta bulan dan bintang, sebagai penguasa kosmik, aku memohon padamu, Tuhan...”

Saat semua doa terucap, wanita paruh baya itu terlelap di samping tangan pria remaja.

***

Pagi menampakkan dirinya. Mentari keluar dari sarangnya secara perlahan. Bias sinarnya menembus kaca jendela. Akibat cahaya yang kilau menyilau, wanita paruh baya itu terbangun dari tidurnya.

Ia mengusap-usap mata lalu memperjelas pandangan. Saat menolehkan pandangan, matanya tertuju pada jari tangan pria remaja yang terbaring lemah.

“Pa, Pa...  Rifan sadar, Pa” wanita itu memanggil suaminya yang terlelap di sofa dalam ruangan.

“Pa, Pa... Tolong panggil Dokter. Rifan sudah sadar” wanita itu melanjutkan.

Karena suara wanita itu makin membesar, pria itu terbangun dan langsung berlari keluar mencari Dokter. Beberapa menit kemudian, datanglah dua orang suster dan satu orang Dokter.

“Dok, anak saya tangannya bergerak”.

Dokter mengeluarkan stetoskop. Ia mengecek denyut jantung Rifan. Denyut Rifan melemah. Aliran darah tersumbat dan melambat menuju jantung. Dokter memerintahkan orang tua Rifan untuk menunggu di luar.

“Suster, persiapkan alat untuk operasi.” Ucap Dokter sedikit panik.

“Iya, Dok.” kedua suster itu menimpali.

Ruangan enam kali enam meter itu ditutup tirai. Para suster dan dokter mengenakan pakaian hijau dilengkapi peralatan operasi.

Sementara itu, orang tua Rifan menunggu di luar ruangan dengan berkaca-kaca. Ibunya sangat histeris. Ia tak mampu melihat kondisi anaknya yang demikian. Ayahnya memeluk ibunya yang mulai tidak terkendali. Sementara Rifan, ia terbaring koma dalam ruang operasi, dengan segala upaya dokter merobek-robek kulitnya.

Ibu Rifan kembali berdoa. Dengan penuh keyakinan dan setumpuk harapan.

“Sembuhlah, anakku...”