Para sosiolog agama membagi beberapa paham atau ajaran keagamaan dalam suatu kategori tertentu. Secara umum, paham atau ajaran-ajaran tersebut terbagi di antaranya berupa konservatif, fundamentalis, liberal, radikal, dan moderat.

Banyaknya pemahaman atau sekte yang dianut oleh hampir seluruh umat Islam seringkali menimbulkan berbagai problematika yang sulit untuk dibendung kehadirannya.

Salah satu problematika yang nyata kehadirannya ialah tindakan-tindakan yang dilakukan oleh berbagai kelompok berpaham radikal yang dapat mengganggu stabilitas maupun keamanan berbagai pihak lain.

Syahdan, berbicara mengenai radikalisme dalam Islam tidak lepas daripada sebuah kefanatikan seseorang atau segelintir orang terhadap ajaran syariat Islam yang dianutnya. Ditelisik dari segi bahasa, radikal berasal dari bahasa Latin, radix yang berarti akar, mengakar, atau mendasar.

Secara istilah, radikalisme adalah suatu paham atau ideologi yang berkeinginan untuk mengubah suatu tatanan sosial-politik dengan cara-cara kekerasan (ekstrem).

Tindakan ini dipicu berasal dari pengalaman maupun pengamalan berdasarkan diktum-diktum keagamaan secara mentah-mentah tanpa mempertimbangkan aspek lain yang lebih bersifat substansial.

Misalnya, bagi kelompok radikal, kata jihad diartikan sebagai suatu upaya sungguh-sungguh untuk memerangi hal-hal yang bertentangan dengan ajaran syariat Islam.

Kendati demikian, tanpa melalui proses penafsiran yang lebih spesifik dan komprehensif, arti kata jihad menurut kelompok ini dapat digunakan sebagai suatu semacam legitimasi (pembenaran) terhadap berbagai tindakan-tindakannya.

Satu dari sekian banyaknya tindakan yang dilakukan oleh kelompok radikal yang paling ekstrem ialah pemberontakan terhadap orang-orang yang tidak sepaham dengannya atau terhadap kekuasaan (otoritas) yang sah yang dianggapnya bertentangan dengan syariat ajaran Islam.

Selain itu, menurut kelompok ini, jihad diperuntukkan untuk memperebutkan kembali (revival) kejayaan Islam. Menurut Afadlal, dkk. (2005) dalam Islam dan Radikalisme di Indonesia, radikalisme tidak ubahnya dengan fundamentalisme. Keduanya saling sepakat untuk mengembalikan society culture ke dalam dasar-dasar agama.

Fundamentaslime yang dimaksud merupakan sebuah ideologi, baik individu maupun masyarakat, untuk selalu berpegang teguh kepada ajaran-ajaran agama. Apabila ditinjau berdasarkan ideologis maupun teologis, kedua paham ini bisa terbilang paham yang membantah dan menantang keras Marxisme.

Radikalisme dan Fundamentalisme Menantang Keras Marxisme

Marxisme yang dipelopori oleh Karl Marx menyatakan bahwa agama adalah candu masyarakat. Prof. Magnis-Suseno menjelaskan bahwa agama dapat dikatakan sebagai candu masyarakat karena mereka (pecandu) berhasil mendapatkan kepuasan yang timbul dari agama itu sendiri.

Akan tetapi, kepuasan itu bersifat semu atau sementara karena hal tersebut tidak mengubah situasi buruk terhadap si pecandu. Dengan kata lain, rakyat menjadi pasif alias pasrah untuk menerima seluruh nasib buruk yang dialaminya tanpa termotivasi untuk memperbaiki keadaan yang ada.

Oleh karena itu, adanya fundamentalisme maupun radikalisme membantah atas kehadiran Marxisme dan berupaya menawarkan solusi untuk mengubah keadaan atau nasib seseorang menjadi lebih baik berdasarkan tuntunan ajaran agama.

Di sisi lain, walaupun radikalisme sangat menentang keras Marxisme, paham tersebut dapat memicu tindakan-tindakan kekerasan yang berafiliasi kepada fundamentalisme manakala kebebasan untuk kembali pada ajaran agama tadi dihalangi oleh sosial-politik yang sedang menimpa masyarakat.

Padahal jika ditelusuri secara mendalam, radikalisme sendiri sebetulnya tidak akan bermasalah manakala ia hanya bersarang dalam pemikiran (ideologis) para penganutnya. 

Sebaliknya, radikalisme menjadi sebuah masalah bahkan ancaman besar manakala ideologinya telah bergeser menjadi sebuah gerakan-gerakan yang bertujuan untuk merealisasi fundamentalisme dari berbagai kungkungan yang dilakukan oleh kekuatan politik lain.

Tidak jarang gerakan ini dapat menimbulkan konflik terbuka atau kekerasan antara dua pihak yang saling bersebrangan. Penulis ingin mengatakan bahwa tindakan yang dilakukan oleh kelompok tersebut merupakan sebuah ekspresi atau manifestasi daripada pergelokan ajaran yang dianut olehnya.

Masifnya gerakan ormas yang ingin mengubah konstitusi negara sesuai prinsip-prinsip Islam ditambah dengan maraknya berbagai serangan teror dengan membawa simbol Islam secara tak langsung dapat melegalkan tindakannya yang pada akhirnya dapat menimbulkan situasi dan keadaan negara menjadi kacau.

Adanya berbagai provokasi yang dilontarkan oleh orang-orang berpaham radikal menjadikan minoritas di negeri ini semakin terancam keberadaannya.

Hal tersebut merupakan keinginan segelintir umat Islam untuk mendominasi seluruh aspek dalam suatu negara berupa sosial, ekonomi, politik, budaya, hukum, ideologi, dan agama sebagai perwujudan daripada populisme Islam.

Hilangnya sikap tasamuh, ta’awun, tawazun, dan musawah yang menjadi intisari daripada ajaran agama Islam, dinodai oleh tindakan-tindakan yang justru bertentangan dengan ajaran agama Islam itu sendiri.

Tindakan-tindakan inilah yang sebetulnya dapat menciderai citra Islam, maka tidak heran bila dunia Barat selalu menjustifikasi bahwa agama Islam selalu identik dengan terorisme.

Di pihak lain, Islam moderat hadir untuk mencegah bahkan menangkal ajaran-ajaran Islam yang radikal sebelum terlampau masif. Sebetulnya perbedaan mendasar antara Islam radikal dengan Islam moderat yakni hanya berkutat pada seputar esensi pemahaman terhadap ajaran agama Islam itu sendiri.

Islam Radikal vs Islam Moderat

Dr. Sri Yunanto dalam bukunya, Islam Moderat vs Islam Radikal: Dinamika Politik Islam Kontemporer mengatakan bahwa penganut Islam radikal cenderung memahami agama secara tekstual, literal-minded,, ekslusif, eksplisit, normatif, dan terlebih lagi ingin memperjuangkan formalisasi syariah ke dalam konstitusi negara.

Lain halnya dengan penganut Islam moderat (wasathiyyah), mereka cenderung memiliki sikap inklusif, implisit, contextual-minded , lebih mengutamakan isi, substansi, serta mempertahankan kemajuan Islam secara defensif, dan tidak melakukan perubahan secara sistemik.

Dengan demikian, upaya yang dilakukan penganut Islam moderat dapat mewujudkan tatanan kehidupan yang harmonis dan rukun antar sesama ras, suku, maupun agama dan pada akhirnya keutuhan negara akan tetap terus terjaga.

Terlepas daripada itu semua, Bung Hatta pernah mengatakan hendaknya kita sebagai umat Islam memilih dan mempertahankan strategi pengamalan Islam garam ketimbang Islam gincu. Apa makna dari kedua strategi pengalaman Islam tersebut?

Makna atau filosofi dari pengalaman Islam tersebut adalah bahwa Islam garam walaupun warnanya tidak terlihat, namun rasa atau substansinya dapat dirasakan. Begitupun sebaliknya, Islam gincu yang jelas-jelas warnanya terlihat menyala-nyala, namun rasa (substansi) nya sama sekali tak bisa dirasakan.

Menurut hemat penulis, statement beliau sangat merepresentasikan terhadap Islam yang moderat yang mengajarkan untuk senantiasa bersikap tasamuh, ta’awun, tawazun, dan musawah dalam kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara.

Oleh karena itu, hendaklah kita selaku umat Islam untuk senantiasa mengembangkan sikap moderatisme dalam setiap aspek kehidupan agar terhindar dari paham radikalisme yang justru dapat merusak tatanan kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara demi terwujudnya perdamaian dunia.

Akhir kata, segeralah untuk menjadi pribadi yang moderat sebelum terlambat dan sebelum terjadi tindakan-tindakan radikal yang justru sangat merugikan banyak umat. Mengingat kata pepatah, prevention is more better than cure.