Sewaktu saya tinggal di Makassar selama satu tahun saya banyak bergaul dengan kawan-kawan yang berbeda agama bahkan tinggal sekamar dengan mereka selama mengikuti pendidikan profesi guru berasrama. Bukan hanya perbedaan keyakinan yang harus kami hadapi tapi juga perbedaan budaya.

Kami berupaya untuk bisa saling memahami dan menghargai pendapat serta keyakinan yang kami anut. Selama setahun itu nyaris tidak pernah muncul konflik diantara kami apalagi yang berkaitan dengan agama.

Pada bulan puasa kami ikut dalam acara buka puasa bersama setiap hari, menjaga pos satpam ketika kawan-kawan pergi shalat jumat dan tarawih bahkan saya sendiri pernah mencoba untuk berpuasa meski hanya bertahan sehari saja. Pada saat sahur penghuni asrama biasanya sudah bisa mengambil jatah sarapan pagi.

 Biasanya teman sekamar saya mengambilkan jatah sarapan saya karena saya masih terlelap sewaktu jam sahur tiba. Biasanya saya mengingatkan mereka tentang jam shalat begitu juga sebaliknya kalau hari minggu tiba mereka yang mengingatkan  saya untuk pergi ke gereja bahkan menawarkan kendaraan jika kami ingin beribadah ke luar kota.

Mungkin hal-hal kecil seperti itu terlihat hanya seperti basa-basi saja karena siapakah yang mengetahui kondisi hati manusia? Namun tidak bagi saya! Saya merasakan ketulusan dari setiap tindakan itu. Sebuah ketulusan dari persahabatan yang ingin saling mengingatkan dan memberi dukungan kemanusiaan.

Saya yakin kawan-kawan saya juga berpikir seperti itu. Bagi kami agama dan budaya adalah bagian dari kerja kemanusiaan. Sesuatu yang bersifat alami yang akan menjadi harmonis apabila dirawat dan dijaga dengan baik.

Kehidupan berasrama dengan kawan-kawan yang mayoritas beragama berbeda dengan kami—ada dua ratusan penghuni dan sebelas diantaranya beragama Kristen—dijalani dengan penuh sukacita karena kami pun diberi ruang untuk mengekspresikan keyakinan kami melalui kegiatan ibadah mingguan di asrama tanpa gangguan.

Saya banyak belajar tentang toleransi selama berada di Makassar. Saya melihat sendiri sebuah gereja bisa berdiri dan berkembang di tengah-tengah komunitas muslim. Setiap minggu kami pergi ke gereja GPIB Bahtera Kasih yang hanya berjarak 1 kilometer dari asrama.

Suasana akrab di asrama tiba-tiba mendapat ujian pada saat menjelang natal. Isu tentang “haram mengucapkan selamat natal” mulai mengusik keberagaman dalam asrama mulai dari status-status beberapa kawan yang ditulis di media sosial sampai ada beberapa kawan yang mulai menarik diri dari pergaulan bersama kami menjelang natal.

Kami merasa terganggu bukan soal larangan mengucapkan selamat natal, karena bagi kami natal tetap akan dirayakan meskipun taka da ucapan selamat dari mereka. Kami justru ‘terganggu’ dengan sikap beberapa kawan yang sengaja menyebarkan isu itu melalui media social.

Mungkin mereka bermaksud baik untuk saling mengingatkan sesama rekan seiman tentang isu itu namun yang disayangkan adalah membagikannya secara public sehingga kami pun dapat membaca tulisan itu.

Di sinilah lemahnya pemahaman kita tentang penggunaan media social. Kita tidak bisa membedakan mana ranah public dan mana ranah privat. Bukankah lebih baik kalau ajakan seperti itu disebarkan melalui kotak pesan saja?

Meskipun sempat mengganggu kenyamanan tapi kami mencoba untuk berpikiran positif dan tidak berburuk sangka karena pada saat hari H tiba masih ada juga kawan-kawan yang memberi ucapan baik secara langsung maupun tidak langsung.

Saya paham kalau di masing-masing agama memang memiliki doktrin dan penafsiran yang berbeda mengenai suatu hal. Kita harus menghargai itu. Saya hidup dalam keluarga yang beragam keyakinan. Orang tua dan adik saya beragama islam sedangkan saya sendiri seorang katolik.

 Saya tidak mempermasalahkan ketika natal tahun lalu tidak ada ucapan selamat natal dari keluarga kepada saya, meski tahun-tahun sebelumnya ucapan itu selalu saya terima dari mereka. Saya hanya bercanda dalam hati “mungkin mereka lupa karena sibuk berlibur dan menganggap hari itu adalah hari biasa buat mereka”.

Ya itu memang benar bagi mereka itu hanyalah hari biasa sebagaimana saya juga tetap beraktivitas seperti biasa pada saat idul fitri. Jadi saya harus maklum dan pantas apabila mereka lupa mengucapkan selamat.

Intinya adalah jika kita melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain maka kita akan mudah untuk memahami tindakan mereka. Saya belajar untuk tidak menjadikan itu sebagai masalah karena ucapan hanyalah pembungkus bagian luar saja tapi hati tidak bisa berdusta bahwa mereka menyayangi saya begitu juga sebaliknya dengan saya.

Dalam beragama kita mestinya memahami kedalaman iman yang kita anut bukan beragama dan beriman berdasarkan kulitnya saja. Karena apa yang terlihat di permukaan hanyalah lahiriah saja namun yang paling penting adalah bagaiamana hubungan kita dengan Tuhan secara pribadi.

Jika kondisi hati kita baik maka itu akan tercermin dari tindakan kita dan hubungan kita dengan sesame manusia.Toleransi tidak mengharuskan kita untuk melanggar prinsip-prinsip yang kita yakini. Toleransi hanya bisa diwujudkan jika kondisi hati kita baik dan kita telah selesai dengan ajaran iman yang kita anut.

Jadi jika kita menemukan masih adanya praktek intoleran di masyarakat kita itu berarti ia belum selesai dengan imannya atau bisa jadi cara berimannya masih pada permukaan kulit saja atau secara lahiriah belaka tapi belum menyentuh pada semangat dari imannya itu.

Praktek intoleransi yang belakangan ini marak di masyarakat disebabkan oleh ambisi para pemimpin yang ingin berkuasa dengan cara menggunakan isu agama sebagai alat yang paling ampuh untuk memecah persatuan bangsa.

Ketamakan menjadi pendorong manusia berbuat berbagai macam cara untuk bisa mendapat keuntungan politik meskipun harus mengorbankan orang lain. ketidakmampuan untuk berkompetisi melahirkan jiwa-jiwa yang ingin mencari jalan pintas dalam mencapai kesuksesan. Salah satunya adalah memanipulasi pikiran orang melalui kedangkalan iman.

Padahal kesuksesan atau pun kemenangan yang diraih dengan cara kotor adalah semu belaka.Masyarakat kita senang mengingat masa lalu tapi sayang tidak pernah mau belajar dari sejarah. Kita hanya menggunakan sejarah hanya untuk menghantam orang atau kelompok lain. sejarah hanya digunakan untuk melanggengkan dan meneguhkan kekuasaan.

Kita lebih senang memakai topeng—bermuka dua dalam menghadapi isu-isu keberagaman. Praktek intoleransi hanya laku pada saat kepentingan politik kelompok cenderung tak berpihak kepada mereka seperti pada momen pilkada, pileg dan pilpres. Jika sudah begitu segalanya bisa dihalalkan untuk kepentingan kelompok semata.

Memang benar adagium dalam politik bahwa tidak ada musuh dan kawan yang abadi karena yang abadi hanyalah kepentingan. Sungguh ironi agama menjadi medan pertempuran antar kepentingan. Penggeraknya tak jarang berasal dari golongan cendekiawan para elit di masing-masing kelompok.

Mereka yang disebut intelektual; kaum iluminati (yang tercerahkan) justru menjadi sumber dari segala bentuk intoleransi. Mereka memanfaatkan teknologi sebagai alat penyebaran kebencian dan prasangka sehingga begitu mudahnya pikiran orang dimanipulasi karena dijejali dengan informasi-informasi yang tidak terverifikasi kebenarannya.

Coba bayangkan ada 42 juta lebih pengguna facebook di Indonesia dan setiap hari membagikan berbagai macam isu maka apa yang terjadi jika isu yang disebarkan adalah ajakan intoleransi dan ekstremisme agama?

 Kebencian yang terus diumbar akan menjadi penyulut tindakan persekusi yang tak terkendali. Terjadi chaos dan runtuhlah peradaban. Kita tentu tidak menginginkan hal itu terjadi di Negara kita.

Media sosial, seberapa buruk pengaruhnya bagi masyarakat tentu juga memiliki sisi positifnya. Kita tidak bisa mengandalkan sepenuhnya pemerintah dalam memberantas praktek intoleransi dan ekstremisme melalui media social.

Sebagai individu kita bisa mengambil peran dengan cara menyebarkan semangat toleran dan perdamaian melalui media social kita masing-masing. Cara berpikir seperti itu akan mampu mencegah praktek intoleransi dan ekstremisme berkembang.

Apa yang saya alami di Makassar menjadi pelajaran bagi saya untuk melihat setiap masalah dari sudut pandang yang berbeda. Kadang toleransi sulit untuk diucapkan melalui kata-kata namun bukan berarti tidak bisa dipraktekkan. Saya menghargai prinsip yang dipegang oleh kawan-kawan saya di Makassar meski kadang berbeda pandangan.

Bagi saya perbedaan pandangan adalah kunci untuk berdialog. Dari dialog terbuka dan saling menghargai saya bisa mengerti mengapa mereka kadang berbeda pendapat dengan saya khususnya tentang masalah agama dan budaya.

Dari Makassar saya belajar bahwa beragam tidak harus seragam. Kita tidak boleh memaksakan perbedaan menjadi persamaan. Ketika perbedaan itu muncul maka terbukalah kesempatan untuk belajar hal-hal baru.

Dalam buku World Religions—From Ancient History to The Present, Geoffrey Parrinder menulis “mempelajari berbagai agama yang berbeda bukan berarti tidak setia kepada kepercayaan sendiri, tetapi sebaliknya dapat diperluas dengan melihat bagaimana orang-orang lain mencari kenyataan dan diperkaya oleh pencapaian mereka”.

 Jadi dengan mengetahui apa yang diyakini orang lain maka kita akan mengerti dan cenderung untuk toleran dengan mereka yang berbeda pandangan dengan kita.