Peneliti
1 bulan lalu · 107 view · 4 min baca menit baca · Cerpen 11801_73866.jpg

Menangis Untukmu

"Besok pagi aku pergi, kak."

Itu kata-kata terakhir darimu. Aku menangis, menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil di pagi hari ketika bangun tidur meminta makanan atau kehilangan mainannya.

Aku masih menangis. Di umur kepala tiga ini, menangis, aku masih seperti anak-anak. Aku benar-benar kehilangan.

Sedih sekali. "Aku mah apa atuh? Seperti sebuah judul lagu dangdut. Cuma seorang kakak bagimu. Seandainya kamu tahu. Aku sangat menyayangimu," kataku dalam hati.

Aku masih ingin bertemu, aku masih ingin bercanda, aku masih ingin curhat, aku masih ingin berjalan bersama, aku masih ingin makan bakso berdua. Aku masih ingin... Tapi, kamu harus pergi ke Kalimantan.

Kamu adalah Ari, laki-laki yang baru kukenal. Ari tinggal tidak jauh dari rumahku. Dia ikut pamannya yang pulang ke Mandar berlebaran di sini. Kami berkenalan ketika dia melihatku sedang membuat minyak, minyak Mandar yang dari kelapa. Minyak yang terkenal sekarang dengan nama virgin coconut oil (VCO), minyak asli tanpa tambahan. 

Saat itu, dia melihatku mengaduk santan untuk menjadi minyak yang sedang dimasak di tungku. Dia datang sambil tersenyum. Aku tersenyum. 

"Bolehkah saya mencobanya?" tanyanya sopan. 

Aku melihatnya, melihatnya sebagai orang baru di kampungku. Aku mengangguk, kemudian memberikan sendok kayu, spatula, dan gayung kayu. 

Dia mengambilnya, lalu meniru gayaku mengaduk. Aku memperhatikan mukanya. Lelaki yang tampan, namun kurang beruntung. Tampan karena mukanya memang bagus, seperti Rio Dewanto. Memang kurang beruntung karena harusnya dia jadi aktor tapi ada disini bersamaku. 

Panas dari api karena kayu menyala-nyala. Seperti perasaanku yang menyala-nyala saat itu. Aku terpesona.

Dia yang masih muda namun tampak dewasa di usianya yang baru dua puluh tahun. Dia yang pekerja keras sedari dulu. Dia yang kuat dan kokoh, padahal dia fisiknya tinggi dan kurus. 

Dia hitam dengan tulang-tulang menonjol ketika dia mengaduk. Namun, dia sangat manis. Manis sekali. Matanya sangat teduh. Aku sangat suka menatapnya, dan aku jatuh cinta.

Hari demi hari, aku jatuh cinta dan sangat menyayanginya. Aku menyayanginya bukan karena dia sering membantuku mengaduk santan menjadi minyak. Bukan, karena kami pergi bersama mencari air di bukit ketika sumur kami kering di permukiman kami. 

Bukan karena kami ke pasar makan bakso berdua di Warung Menanti yang terkenal enak itu. Bukan, karena setiap malam kami jalan-jalan ke pantai, rumah kami memang di pesisir. Tapi karena aku menyayanginya sebagai lelaki yang ingin kuabdikan hidupku padanya. 

Aku ingat, waktu itu, ketika kami pergi ke laut di malam hari. Aku sangat bahagia, kami berjalan bersama walau tak bergandengan tangan. Kami memang bukan sepasang kekasih. Kami saling menganggap saudara jauh, kakak dan adik. 

Baca Juga: Aku Menunggu

Dia bercerita tentang ayahnya yang sudah meninggal. Ibunya yang ada di Kalimantan dengan tiga adik perempuannya. Ketika duduk di kelas sepuluh, ayahnya meninggal. Sejak itu dia berhenti bersekolah dan menjadi tulang punggung keluarga. 

Aku tak perlu bercerita, dia tahu aku punya ayah yang cuek. Ayahku yang bekerja sebagai nelayan itu memang sangat pendiam. Setelah melaut, dia selalu ke rumah keluarganya atau pergi ke rumah teman-temannya sesama pelaut. Terkadang, dia asyik merokok di teras rumah kami, rumah panggung.

Sedangkan ibuku adalah seorang pekerja keras. Perempuan Mandar yang tangguh. Selama ayah pergi melaut berhari-hari, dia tidak berpangku tangan di rumah. Dia bekerja, membuat minyak Mandar, dia bekerja menenun kain sutra menjadi sarung sutra yang kami sebut sebagai lipa sabe'

Ketika ayah pulang dari laut, dia menjual hasil tangkapan ikan ayah dengan berkeliling kampung hingga tiba di pasar. Ibukulah yang mengajariku bekerja walau aku tak setangguh dirinya. 

Setamat SMA, aku kemudian ikut dengan keluargaku ke Makassar, menjaga toko bajunya yang ramai di pasar. Namun, aku cuma bertahan selama lima tahun. Aku pulang ke rumah karena kena sakit mag, sering lupa makan dan terlalu capek. Aku pun hanya membantu ibuku.

Ibuku berniat naik haji, makanya dia sangat rajin bekerja dan menabung. Sedangkan aku, menabung untuk membuka toko baju di bawah kolong rumah. Aku masih mengumpulkan modal.

Kami berdua bebas bercerita tentang segala hal mulai dari keluarga, cita-citanya, dia ingin belajar kembali, dia ingin warung kelontong ibunya lebih laku, dan sebagainya. Kami bercerita, kemudian duduk di suatu rumah kosong tempat nongkrong nelayan yang menghadap ke laut. Hari itu ada nelayan melaut. Angin sedang kencang-kencangnya, bukan waktu yang tepat untuk melaut. 

Aku merasa sangat bahagia, aku ingin sekali memeluknya atau dipeluknya. Angin makin kencang. Sarung yang kupakai terangkat ke atas, untung saja aku memakai celana panjang di dalamnya.

Dia tertawa, aku pun tertawa. Aku mengalihkan perhatiannya. "Apa rencanamu selanjutnya?" tanyaku.

"Aku ingin kuliah, kemarin aku sudah ikut ujian persamaan, sekolah paket, katanya dengan tersenyum.

"Setelah itu?"

"Aku akan menikahi Dewi." Dia memandang laut dan seperti mengingat sesuatu.

Aku terdiam, ternyata dia punya Dewi, gadisnya di Kalimantan. Nafasku langsung sesak padahal angin berhembus lebih kencang. Aku kemudian memberikan jarak pada kami yang tadinya cuma beberapa sentimeter.

"Tidak mungkin orang secakep Ari tidak punya kekasih," kataku pada diri sendiri.

***

Malam ini, aku duduk sendiri di rumah kosong menghadap ke laut. Ini sudah setahun yang lalu ketika aku duduk bersama Ari terakhir kalinya sebelum dia pergi.

Aku masih memandang WA terakhir darinya, masih tersimpan. WA yang sudah tidak aktif sejak kepergiannya, entah apa yang terjadi. Apakah HP-nya jatuh di laut, atau dia sudah menikah dengan Dewi sehingga harus mengganti nomornya.

Aku menangis. Seandainya Ari tahu betapa kasih dan sayangnya aku padanya, aku ingin menjadi istrinya. Dan betapa setianya aku menunggu dirinya di tepi laut ini.

Artikel Terkait