“Prioritas kesehatan atau ekonomi dulu? Ekonomi atau kesehatan dulu?  Ahhh pusing… Kenapa masalah ini gak keular-keular? Para ahli dan pakar publik terus berdebat panjang lebar selama 10 bulan ini. Udah basi banget” gerutu saya dalam hati sambil mata nancap terus ke layar TV.

“Ini kaya nasib telur dan ayam.  Telur dulu ayam dulu? Waah mutar-mutar terus di situ, gak ada ujungnya.”

Perdebatan itu selalu mengusik dan terus saya pikirkan sampai sekarang. Harusnya perdebatan itu diakhiri dan semua sepakat untuk mengambil jalan yang sama.  Saling membahu menyelesaikan masalah penanganan Covid-19 ini.

Perut rakyat kecil tidak bisa menunggu perdebatan itu selesai.  Rakyat perlu makan, bayi perlu minum susu, dan pedagang perlu berjualan.  Kehidupan ini harus terus berjalan, apapun yang terjadi.

Di tengah angka pandemik menunjukkan kenaikan infeksi Covid-19 yang signifikan, setelah liburan panjang kemarin.  Alih-alih masuk ke lockdown, malah pilkada tetap berlangsung dan selesai dilaksanakan dengan sukses melebihi kesuksesan Amerika Serikat dan Korea Selatan. Itu kata bapak Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian.

Itu fakta bahwa semuanya harus tetap berjalan.  Ada fakta lain juga, korupsi juga tetap berjalan.  Dana bansos yang masuk  ke pundi-pundi brankas bapak menteri yang terhormat.  Kejahatan dan penipuan online masih tetap ada.

Stop berdebat. Ekonomi dulu atau kesehatan dulu. Walaupun wacana itu penting untuk membangun kemampuan berpikir dan kecerdasan masyarakat untuk menemukan solusi terbaik.  Tapi untuk saat ini politik wacana tidak penting.  Politik eksekusi dan kecepatan mengambil langkah, itulah yang terpenting.

Ukurannya adalah nyawa.  Semua umat di dunia berpacu dengan waktu. Berlomba mempertahankan diri untuk menyelamatkan spesies manusia dari kepunahan.  Diberangus dan dimangsa oleh predator virus Covid-19.

***

Kata beberapa ahli, kesehatan dulu yang harus diprioritaskan dengan lockdown/isolasi di rumah.  Semua orang harus ada di rumah. Semua binatang peliharaan diisolasi di kandang. Tidak boleh ke mana-mana. Semua makanan harus dikirim ke rumah dan kandang binatang masing-masing.

Fakta adalah negara tidak siap. Betul. Negara Indonesia tidak cukup memiliki makanan, uang, dan anggaran untuk memenuhi semua kebutuhan warga Negara Indonesia.  Ada juga uang pinjaman yang itupun sangat tak cukup. Selain tentu berbunga, Negara Indonesia harus mengembalikan utang itu.

Resikonya negara akan bangkrut. Negara akan gagal melindungi dan menyelamatkan rakyatnya.  Negara kita, memang setidakberdaya itu menghadapi Covid-19. Apa yang akan kita tuntut dari pemerintah dan negara dalam kondisi seperti itu? Karena negara harus tetap ada dan hadir, supaya masih bisa memberikan harapan pada rakyatnya.

Sebuah perumpamaan satu keluarga yang memiliki utang banyak.  Dan mencari nafkah dengan membuka warung.  Kemudian warungnya tutup karena Covid-19. Maka penghuni rumah akan makan dari makanan persediaan yang ada di dapur atau menghabiskan makanan yang ada di warungnya.

Ketika makanan yang ada di dalam rumah habis, maka hanya menunggu uluran tangan bantuan dari tetangga atau pihak yang berwenang dari pemerintah. Untuk mempertahankan hidup.  Lantas tetangga pun sama sedang isolasi dan tidak punya makanan juga.  Bantuan dari negara gak mungkin, karena negara dalam keadaan koma.

Apakah keluarga itu mampu bertahan dan selamat dari kematian karena lapar. Ditambah dengan kondisi stress yang memperburuk kesehatan mentalitasnya. Itukah yang dimaksud prioritas pada kesehatan dulu? Dan menghentikan semua aktifitas ekonomi. 

Pakar itu bilang, apabila kesehatan menjadi prioritas, maka akan mampu membangkitkan ekonomi.  Belum tentu juga.  Semuanya hanya untung-untungan. Bermain probabilitas dan prediksi. Semua warga dunia masih menempuh berbagai cara, by process memahami covid-19 dengan korban jutaan nyawa manusia.

***

Beberapa ahli lainnya cenderung lebih setuju untuk membuka kran ekonomi dengan mulai memberikan angin segar bagi para pelaku ekonomi. Baik di skala sangat mikro, mikro, menengah, maupun pengusaha besar. Ada kehidupan yang bergerak, ada transaksi, dan ada hubungan ekonomi serta interaksi sosial.

Tapi dengan adanya pergerakan manusia ini berdampak juga pada pergerakan Covid-19.  Karena Covid-19 bersarang pada organ hidup, menyebar di udara, dan menempel pada media yang ada di sekitar manusia. Ini sangat berbahaya.  Tingkat resiko penyebaran tinggi.  Menyebabkan tingginya juga jumlah manusia yang terinfeksi.

Akibat lebih lanjut sejumlah rumah sakit tidak bisa menampung pasien dan membutuhkan lokasi-lokasi baru untuk penampungan. Para dokter dan perawat akan berusaha mati-matian menghadapi kondisi tersebut.  Fakta sudah lebih dari 100 orang dokter dan tenaga medis lainnya yang meninggal.

Ujungnya dalam kondisi keuangan negara yang sulit akan lebih terbebani lagi dengan penambahan[A1] jumlah pasien yang membeludak di mana-mana.  Anggaran negara akan tersedot juga untuk menangani pasien dan Covid-19.  Lubang utang negara akan semakin menganga lebar.

***

Memang dilematis sekali.  Bagai makan buah simalakama bukan? Kesehatan dulu maupun ekonomi dulu, kedua-duanya beresiko.

Ketika pakar madhab kesehatan merasa hakul yakin menjelaskan jurus andalannya prioritas pada kesehatan, dan yang madhab ekonomi pun tak kalah sengitnya berargumen, dengan jurus saktinya mampu keluar dari lubang jarum Covid-19.

Lalu mana yang benar-benar jurusnya yang paling sakti, formula baku di dunia untuk penanganan Covid-19. Sekelas WHO, Amerika Serikat, Cina, dan Korea Selatan pun belum ada yang benar-benar berhasil.  Tidak ada… atau yahhh belum ada.  Gak usah sombong merasa paling jago dan paling ahli.

Lihat negara yang sudah memproklamirkan diri lockdown, apakah berhasil?  Negara Amerika Serikat sebagai peringkat 1 kasus Covid-19 (per 18/12/2020) dengan jumlah kasus 17.345.762 orang, kasusnya masih sangat tinggi, alih-alih sukses membasmi Corona. Lantas Spanyol, Italia, Perancis, Cina sekalipun, apakah sudah berhasil?

Indonesia ada di peringkat 20 (per 18/12/2020) dengan jumlah 643.508 kasus.  Bila dibandingkan dengan India mendapat peringkat 2 dengan jumlah 9.979.447 kasus, yang sama-sama jumlah penduduknya banyak. Sementara pemerintah Indonesia pun banyak dikritik dan dicemooh dengan tidak mengambil jalan lockdown, tapi PSBB.

Menurut saya langkah yang tepat adalah pendekatan ekonomi dan kesehatan yang lebih seimbang dan proporsional. Strategi “tarik-ulur dan gas-rem” bisa dipakai untuk mengamankan situasi pandemi.  Tetap berakitifitas ekonomi untuk kebutuhan perut, tapi tetap menggunakan 3 M untuk membuat pagar kesehatan.

Dengan hak ekonomi dan sosial warga negara yang masih tetap diakomodir dalam kebijakan pemerintah, yang memberikan efek domino perputaran roda ekonomi tetap berjalan.  Sehingga masyarakat masih bisa bertransaksi, mendapatkan makanan yang bergizi untuk imunitas, dan akhirnya masyarakat bisa bertahan.

Dengan demikian pendekatan ekonomi yang berorientasi pada kesehatan akan mampu membangun ketahanan diri dan imun komunitas untuk menghadapi Covid-19 dan menyelamatkan banyak rakyat Indonesia. 

Bertahan. Dan menunggu vaksin yang paling efektif untuk Covid-19, tanpa saling menyalahkan kesehatan atau ekonomi dulu yang diprioritaskan.