Peneliti
3 bulan lalu · 361 view · 4 min baca menit baca · Politik 29008_67146.jpg
@jokowi

Menang Tanpa Merendahkan

Setelah Pemilihan Umum (Pemilu), aku berharap-harap cemas. Siapa sih yang menjadi pemenang Pemilu Calon Presiden (Capres) kali ini? Apakah jagoanku atau jagoanmu atau jagoannya? 

Bukan hanya aku, mungkin, tetapi para pendukung pasangan calon (paslon), baik kubu 01 yang memilih Joko Widodo-Ma'ruf Amin maupun kubu 02 yang memilih Prabowo-Sandiaga Uno, akan bertanya-tanya siapa yang menjadi pemenang presiden kali ini bahkan mengeklaim sebagai pemenang presiden.

Mereka sudah secara nyata dan terang mengatakan pemenangnya adalah “Presidennya” walau perhitungan cepat, quick count, dan lembaga survei hasil pemilu masih berkejar-kejaran menetapkan siapa sebagai pemenang. Padahal, belum ada pengumuman resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Namun, ada juga capres yang terang-terangan merasa sebagai pemenang dan sudah siap dilantik menjadi presiden. Apalagi pendukungnya sudah syukur kemenangan, takbiran duluan (kayak lebaran saja, puasa saja belum).

Ini baru bercerita pendukung yang takbiran. Ada juga pendukung yang menulis, “Siapa pun Presidennya telah tertulis di Lauhul Mahfuz. Namun, di mana kita berpihak, itulah yang akan kita pertanggungjawabkan pada Allah.” Apa maksudnya, ya? Bikin takut saja. Atau, “Pemilu buang-buang duit saja”; ini apalagi.


Lalu ada yang membagikan tagar observer SOS di media sosial, Facebook, #INAobserver... (imbuh, kagak ngerti). Tagar-menagar ini malah menjelaskan kalau mereka adalah pihak yang kalah atau tidak menerima hasil karena merasa dicurangi KPU, padahal KPU saja belum pengumuman. Dan mereka siap melaksanakan “people power” alias kudeta. What’s? What is people power? Apa? Kudeta?

People power adalah gerakan rakyat. Mereka mau melakukan gerakan rakyat yang mau turun karena merasa ada kecurangan dalam pemilu. Atau dalam bahasa Indonesia, mungkin kudeta. 

Kudeta adalah usaha perebutan kekuasaan dengan kekerasan. Padahal, menurut Mahfud MD, jika people power diartikan sebagai gerakan rakyat secara bersama dan masif untuk melakukan perubahan, maka pemilu itu sendiri adalah people power yang sesungguhnya.

Lanjut mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini, people power tak harus diartikan sebagai gerakan fisik untuk melawan yang kita anggap zalim.

Kebenaran Mahfud MD tidak jadi wakil calon presiden, karena jabatan beliau itu lebih tinggi, bapak bangsa dan negara. Beliau menjadi penengah bagi bangsa yang lagi sakit ini (karena ingin andalannya jadi presiden) dan beliau menjadi penyemangat bagi penyelenggara negara seperti KPU yang harus KUAT (upsss!).

Cinta Tanah Air dan Bangsa

Kenapa sih sudah mengeklaim menang? Kenapa sih pada tidak bisa menahan diri? Kenapa sih pada tidak sabar menunggu keputusan KPU? Apa karena sudah ada quick count padahal belum real count? Kenapa sih mau ikut termakan pada isu people power?

Mengapa memakai tameng menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, tetapi mau menghancurkan bangsa? Dengan tidak percaya pada penyelenggaraan negara (KPU dan Pemilu), tidak cinta negara sekali.

Lalu, mengapa kita harus cinta tanah air dan bangsa? Karena negara harus aman, nyaman, damai, dan tenteram untuk dapat melaksanakan “negara” apalagi “agama” (wahai bagi yang merasa sangat beragama).

Akankah kita dapat melaksanakan ajaran agama jika kita tidak aman, nyaman, damai, dan tenteram? Sebagai umat Muslim, kita tahu bahwa Nabi Muhammad saja hijrah ke Madinah, tetapi bukan untuk membangun negara Islam, melainkan negara buat semua pemeluk agama melalui Piagam Madinah sehingga semua merasa memiliki negara. 


Kemudian, Madinah menjadi kota yang beradab. Semuanya berawal dari karakter individu masyarakatnya yang memiliki adab. Apakah kita sudah mempunyai adab atau etika, dan norma sebagai Warga Negara Indonesia yang baik dan benar?

Atau kita kembali pada sejarah, historis perjuangan leluhur kita dalam berperang mempertahankan nusantara ini, Negara Indonesia. Mereka berjuang mempertaruhkan seluruhnya hanya untuk kemerdekaan mereka, apalagi untuk anak cucunya. Dan mungkin terlalu jauh jika aku berkata, sekarang kita mau “berperang” hanya karena dua paslon capres ini? Atau hanya karena ingin menaikkan seseorang menjadi presiden?

Menang Tanpa Ngasorake, Menang Tanpa Merendahkan

Ada status teman di WA hari ini, Esty, “Menang tanpa ngasorake, menang tanpa merendahkan.” Filosofi orang Jawa yang bernilai sangat tinggi. Filosofi sebagai pemimpin dan tidak harus menjadi pemimpin lalu merendahkan yang kalah atau mempermalukan bawahannya.

Lebih jelasnya di bawah ini, ada sembilan filosofi Jawa lagi yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga, yang (masih) sangat berlaku bagi konteks keindonesiaan dan kepemiluan kita hari ini. 

Pertama, urip iku urup; hidup itu nyala, hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita. Kedua, memayu hayuning bawana; manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan. Ketiga, suro diro joyo jayadiningrat, lebur dening pangastuti; segala sifat keras hati, picik, angkara murka hanya bisa dikalahkan oleh sikap bijak, lembut hati, dan sabar.

Keempat, ngluruk tanpa Bolo, menang tanpa ngasorake, sekti tanpo aji-aji, sugih tanpa bondho; berjuang tanpa perlu membawa massa, menang tanpa merendahkan atau mempermalukan, berwibawa tanpa mengandalkan kekuatan, kaya tanpa didasari kebendaan. 

Kelima, datan serik lamun ketaman, datan susah lamun kalangan; jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri, jangan sedih manakala kehilangan sesuatu. Keenam, ojo gumunan, ojo getunan, ojo kagetan, ojo aleman; jangan mudah terheran-heran, jangan mudah menyesal, jangan mudah terkejut, jangan mudah kolokan atau manja.

Ketujuh, ojo ketungkul marang kalungguhan, kadonyan lan kemareman; janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan, dan kepuasan duniawi. Kedelapan, ojo keminter mundak keblinger, ojo cidra mundak cilaka; jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah, jangan suka berbuat curang agar tidak celaka. Dan yang kesembilan, ojo adigang, adigung, adiguno; jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti.

Damai sekali, tenang sekali, aku cinta Indonesia, aku cinta kearifan lokalku, baik itu dari filosofi Jawa maupun filosofi Sulawesi dan filosofi dari mana saja lainnya. Cinta adalah sesuatu yang menenangkan, menenteramkan; jika tidak, itu adalah nafsu. Dan aku selalu cinta kamu, eh salah, aku cinta Indonesia,


Ayo, pasang tagar #AkuCintaIndonesia #AkuCintaNegarakuIndonesia #ILoveMyCountry 

Selamat merayakan Paskah bagi teman-teman yang merayakan, Jumat Agung, Jumat Berkah. Bumi Manakarra, 190419.

Artikel Terkait