”Bentar ya Bund, aku pinjam dulu hapenya”, si sulung mulai menutup pintu kamar dan terdengar suaranya di depan kamera dengan samar. Anak abege jaman now, ada saja pekerjaan rumah yang harus dibagikan melalui sosmed-nya. Mulai dari tugas ospek sampai kampanye pemilihan pengurus OSIS di sekolahnya.

Saya segera memotret tampilan layar postingan anak mbarep itu dan membagikan ke grup keluarga sehingga kami sekeluarga bisa turut membacanya. Sebenarnya target utama adalah suami saya yang masih dalam golongan “masyarakat gua”, hidup sudah cukup tanpa bersosmed ria.

 “Wah, goodluck ya ndhuk!!Kerennn!!!!”, suami saya menambahkan sederet gambar jempol di percakapan grup whatsapp keluarga. Si Bungsu juga tak ketinggalan ikut menyumbangkan jempol untuk kakaknya.

Saya tergelitik untuk bertanya ke anak saya. “Mbak, itu kalau tugas semakin banyak like apa semakin bagus nilainya?” Si gendhuk menjawab “Enggak Bund, itu memang harus diposting di ig aja“, saya manggut-manggut. Dan selanjutnya saat kontestasi pemilihan pengurus OSIS, ketika dengan tulus saya menawarkan sebuah like, anak saya justru memberi lirikan tajam,

“ Jangan Bund, ga usah ntar pada kepoin akun Bunda. Saya terkekeh dan cukup memahami anak remaja saya. Kepo-mengepo yang kemungkinan berujung dengan bully-an ringan akan membuat si gendhuk ribet memberikan tanggapan. Niat nge-like pun saya urungkan.

Bukan tanpa alasan saya menawarkan like dengan sangat sukarela apalagi ke anak sendiri. Beberapa waktu belakangan ini ada saja entah di grup ngaji, di grup RT atau di grup keluarga ada saja info video keponakan, atau anak teman yang mempertunjukkan kebolehan. Tentu saja ditutup dengan kalimat manis, “Jangan lupa ya kasih like dan komennya Bude, Pakde, Om, dan Tante, biar menang ponakannya…”

Jempol lincah saya tak perlu menunggu lama, langsung tancap gas menuju link yang dibagikan dan memberikan jempol sebagai tanda dukungan.

Pikiran saya jadi terbang ke mana-mana. Ini kalau yang ikut lomba kebanyakan keluarganya adalah “masyarakat gua” seperti suami saya repot juga dong ya. Sudah pasti kalah telak dibandingkan yang gaul di dunia maya, di mana jempol ratusan mungkin hanya menunggu hitungan menit saja. Kemenangan pun jelas di depan mata.

Kalau lomba di masa kecil saya dulu benar-benar mata dan telinga tim juri saja ujung tombak harapannya. Jika lolos babak penyisihan masih harus berjuang ke babak selanjutnya, masih harus berjuang memenangkan mata dan hati tim penilai yang tak jarang terganggu moodnya. Oh betapa jauh perbedaannya.

Lalu mengapa anak-anak zaman ini begitu sederhana dalam penilaiannya? Atau barangkali mereka dianggap memiliki kemampuan yang sama. Semua sama unik dan istimewanya, sehingga yang perlu dipertarungkan adalah jumlah simpati dan like dari pemirsa. Padahal kan tidak begitu kenyataannya. Seharusnya semua peserta lomba punya kesempatan yang sama dalam memenangkan perlombaan, bukan lebih banyak kepada mereka yang punya jejaring pertemanan yang luas di dunia sosmed.

Padahal tidak menutup kemungkinan orang-orang yang membuka link hanya sebatas memencet tombol “like’ lalu buru-buru hengkang. Atau ada kalanya juga like yang disumbangkan semata-mata menggugurkan kewajiban. Mana mungkinlah kita menolak himbauan teman apalagi saudara. Mosok ya tega?

Saya bukan anti kegiatan pengumpulan dana eeh.. maksud saya pengumpulan like macam ini lho yaa, sah-sah saja. Apalagi media sosial memang sebuah jalan promosi yang menjanjikan. Siapapun dengan HP yang memadai serta-merta bisa meng-upload hobi-hobinya, berbagi kegiatan sehari-harinya, dan tentu saja kreativitas dan kebolehannya. Tapi jika dalam sebuah kompetisi, jumlah like yang diraup menjadi sebuah kriteria kemenangan sepertinya kita semua terutama penyelenggara acara harus menimbang ulang.  

Bisa jadi yang jumlah like-nya pas-pasan adalah yang paling layak menjadi juara. Dan yang mendulang banyak like karena support sistemnya solid sebenarnya kualitasnya biasa-biasa. Maka penilaian seharusnya dilakukan dengan lebih serius. Pertimbangan yang layak jadi  pemenang tetap dari segi kualitas, bukan kekuatan like belaka.

Kalaupun ada yang menang dari banyak-banyakan like mungkin bisa diambil kategori favorit pemirsa saja, bukan pemenang utamanya.

Sambil nyeruput kopi saya jadi senyum-senyum sendiri, teringat beberapa hari sebelumnya saya berada di pihak yang sama, membagi-bagikan link tulisan saya yang masuk event kompetisi di sebuah media. Tentu saja di ujung menyertakan pesan yang sama, “Ditunggu like dan komennya ya gaess!!”, kepada teman dan keluarga nun jauh di sana.

Saya sadar betul kemungkinan menang begitu tipisnya dan saya tidak berharap banyak selain membagikan tulisan saya. Diseminasi, begitu istilah kerennya.

Untuk sejenak saya merasakan berada di posisi mereka, dan cukup terbayang akan bahagianya jika menang melalui banyaknya jempol yang didulang. Tapi tetap saja, terasa kurang benar jika jumlah like menjadi sebuah acuan.