Mahasiswa
6 bulan lalu · 110 view · 4 menit baca · Lingkungan 39080_48220.jpg

Menanam Peradaban, Menebang Pohon-Pohon

Ketika pohon terakhir ditebang, ketika sungai terakhir dikosongkan, ketika ikan terakhir ditangkap, barulah manusia menyadari bahwa dia tidak dapat memakan uang. ~ Eric Weiner

Selama berabad-abad, manusia selalu berlomba-lomba dalam membangun dan menemukan apa pun yang hebat. Salah satu peninggalan yang paling penting adalah bangunan-bangunan megah yang dibangun dengan berbagai macam arsitektur dan menjadi fokus peradaban suatu bangsa guna menunjukan pada sejarah bahwa mereka adalah bangsa yang hebat.

Menurut catatan sejarah, bangsa Persia dikenal sebagai bangsa yang berperadaban tinggi dan berjasa mengembangkan ilmu pengetahuan. Di era keemasan Raja Darius I, Persia membangun jalan terpanjang yang terbentang dari Sardis hingga Susa dengan panjang 2.699 kilometer. 

Hal ini membuat Persia tercatat dalam sejarah sebagai bangsa pertama yang membangun jalan raya terpanjang. Diikuti dengan penemuan kincir angin yang diklaim pertama kali ditemukan oleh bangsa Persia.

Bangsa Romawi kuno adalah bangsa sangat terkenal dalam hal arsitektur. Berbagai macam pembangunan dan penemuan hebat bangsa Romawi merupakan peninggalan-peninggalan terhebat sepanjang sejarah. Dimulai dari istana-istana megah, kuil-kuil hingga akuaduk dibangun guna menunjukan pada sejarah bahwa mereka adalah bangsa yang hebat dan berperadaban tinggi.


Mesir kuno menandai Piramida sebagai bukti sejarah bahwa mereka pernah membangun salah satu bangunan yang hingga kini dianggap sebagai sebuah keajaiban dalam tujuh keajaiban dunia.

Guna melindungi perbatasan utara Kekaisaran China, Qin Shi Huang membangun Tembok Besar China yang membentang sepanjang 8.850 kilometer di abad ke-14. Menjadi salah satu kaisar yang paling diingat dalam sejarah peradaban bangsa China.

Indonesia dalam sejarahnya, dimulai dari masa kerajaan-kerajaan, Hindia-Belanda hingga sekarang, selalu ditandai dengan beberapa peninggalan berupa bangunan-bangunan. Dimulai dari Candi Borobudur di masa Syailendra, Lawang Sewu yang merupakan peninggalan zaman Kolonial Belanda, hingga Monas yang dibangun pada masa Orde lama.

Di zaman sekarang, bicara mengenai pembangunan, manusia masih sama seperti berabad-abad yang lalu. Mereka masih berlomba-lomba mendirikan bangunan-bangunan megah walaupun substansi pembangunannya sedikit berbeda. 

Dari tahun ke tahun, pembangunan kian hari kian pesat, didukung dengan teknologi yang maju. Berbagai macam ide dan gagasan-gagasan inovatif manusia demi mendapatkan uang terus dikembangkan. Namun berbagai macam bentuk eksploitasi lahir mengatasnamakan kesejahteraan ekonomi.

Masalah lingkungan merupakan masalah yang sering terjadi di era modern ini, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Dampak dari ulah manusia yang tidak mementingkan masa depan lingkungan hidup membuat isu lingkungan semakin hangat diperbincangkan di kalangan masyarakat.

Di era dinasti Ming, Kaisar Zhu Yuanzhang membangun ibu kota dengan konsep keseimbangan lingkungan. Di masa dinasti Han, Tang, Song, dan Yuan, peradaban Cina sudah menyeimbangkan pembangunan dan pelestarian lingkungan hidup. Kaisar Zhu adalah pendiri Dinasti Ming yang melanjutkan konsep tersebut dalam membangun peradaban Cina.


Dikutip dari kitab Ghuang Zhiyi: "Pada masa Dinasti Ming, tiga laut menengah, besar, dan kecil, selama empat musim air tidak mengering, berbagai jenis burung, rusa, kelinci, buah, sayur, rumput, dan pohon-pohon termasuk dalam daftar pelarangan." 

Hal ini menunjukan bahwa sejak zaman dahulu, sebelum peradaban secanggih sekarang, manusia telah memikirkan pentingnya menjaga ekosistem. Kebijakan-kebijakan seperti ini patut dicontoh oleh manusia di era modern seperti sekarang ini.

Manusia di zaman sekarang memang cenderung membangun dan mengeksploitasi sehingga menimbulkan berbagai macam persoalan lingkungan. Dimulai dari kepunahan satwa langka, polusi udara yang semakin meningkat, banjir, tanah longsor yang terus-menerus menggerogoti leher bumi.

Di negeri ini, pembangunan terus-menerus berlangsung. Membuat setiap kota di negeri ini dipenuhi debu. Beberapa tempat, terutama kota-kota besar, mengalami berbagai macam persoalan lingkungan, ditambah lagi dengan pemerintahnya yang tidak mampu menyelesaikan masalah yang dibangun.

Membangun di negeri ini adalah membangun masalah. Masalah bagi orang-orang yang dirampas haknya, masalah bagi hewan-hewan dan pepohonan yang dirusak ekosistemnya.

Sikap pemerintah yang apatis mengenai dampak dari pembangunan yang tak sejalan dengan kelestarian lingkungan hidup masyarakat menimbulkan banyak kritikan masyarakat dan aktivis lingkungan. Dari berbagai daerah, mereka turun menyuarakan haknya. Hak untuk hidup di lingkungan yang lebih baik, hak untuk menjaga dan merawat lingkungan untuk keberlangsungan hidup ke depannya.

Di masa Kerajaan Sriwijaya yang berdiri di Nusantara, dalam isi Prasasti Talang Tuwo peninggalannya, menunjukan kepedulian masyarakat mereka terhadap lingkungan di mana isi dari prasasti tersebut menjelaskan tentang pentingnya menjaga kandungan alam untuk keberlangsungan hidup manusia. Sikap yang seharusnya ditunjukkan pemerintah dalam menjalankan pembangunan yang lebih baik di era seperti sekarang ini.

Berikut isi Prasati Talang Tuwo: “Semoga yang ditanam di sini, pohon kelapa, pinang, aren, sagu, dan bermacam-macam pohon, buahnya dapat dimakan, demikian pula bambu haur, waluh, dan pattum, dan sebagainya; dan semoga juga tanaman-tanaman lainnya dengan bendungan-bendungan dan kolam-kolamnya, dan semua amal yang saya berikan, dapat digunakan untuk kebaikan semua mahluk, yang dapat pindah tempat dan yang tidak, dan bagi mereka menjadi jalan terbaik untuk mendapatkan kebahagiaan. Jika mereka lapar waktu beristirahat atau dalam perjalanan, semoga mereka menemukan makanan serta air minum. Semoga semua kebun yang mereka buka menjadi berlebih (panennya).”


Manusia adalah komponen alam yang selalu bergantung pada alam. Sudah sepatutnya manusia memperlakukan lingkungan hidupnya dengan baik, kesadaran terhadap pentingnya merawat alam sejatinya harus ada dan tertanam di dalam diri manusia. 

Alam semesta beserta segala isinya tercipta dalam keteraturan dan keseimbangan. Segala bentuk tindakan yang dilakukan manusia secara berlebihan dapat menimbulkan efek yang negatif di masa yang akan datang.

Artikel Terkait