Serangan virus Covid-19 telah mengekspansi hampir semua benua dan negara sekalipun ada beberapa negara yang terluput karena sejumlah faktor (Korea Utara, Komoro, Tajikistan, Turkmenistan, dll).

Reaksi awal negara-negara adalah kegagapan dan kepanikan. Hampir semua negara tidak siap menghadapi pandemi yang berpotensi mematikan ini. Jumlah orang yang terpapar dan mengalami kematian memperlihatkan kegagapan setiap negara menghadapi serangan tidak terduga ini.

Perlahan tapi pasti, setiap negara menunjukkan respons adaptif dan mulai mampu mengatasi situasi dan penyebarluasan pandemi dengan dikeluarkannya sejumlah protokol kesehatan secara terstruktur dan terkoordinasi.

Munculnya Virus Ideologi

Kepanikan bukan hanya milik pemerintah melainkan masyarakat. Di tengah kepanikan kolektif, muncullah sebuah virus yang lebih mengkhawatirkan keberadaannya, yaitu virus ideologi.

Seperti dikatakan Slavoz Zizek, "The ongoing spread of the coronavirus epidemic has also triggered a vast epidemic of ideological viruses which were lying dormant in our societies: fake news, paranoiac conspiracy theories, explosions of racism" (Penyebaran epidemi virus korona yang sedang berlangsung juga telah memicu epidemi besar virus ideologis yang tertidur di masyarakat kita: berita palsu, teori konspirasi paranoiak, ledakan rasisme, 2020).

Sejumlah teori konspirasi yang disebut ideological viruses berseliweran di setiap percakapan dan berkeliaran di ruang-ruang kesadaran individu. Teori konspirasi yang dimaksudkan adalah munculnya berbagai penjelasan di luar penjelasan resmi dengan mengeklaim adanya sejumlah rencana tersembunyi di balik setiap peristiwa besar yang terjadi yang digerakkan oleh kelompok tertentu yang memiliki kekuatan dominan.

Jika dibuat sebuah anatomi mengenai teori konspirasi di seputar Covid-19, maka berkisar pada sebuah upaya untuk mencari jawaban mengapa Covid-19 mengekspansi semua belahan benua dan negara dan siapa yang bertanggung jawab di balik penyebarluasan Covid-19.

Beberapa narasi teori konspirasi yang beredar ternyata tidak ada yang satu suara. Berikut beberapa teori konspirasi terkait Covid; al., (1) Virus berasal dari sebuah laboratorium di Wuhan; (2) Virus Covid menyebarluas melalui jaringan 5G; (3) Senjata buatan Alien; (4) Senjata biologis buatan pemerintah; (5) Ciptaan Bill Gates;

(6) Hasil "enrich" yang dilakukan di laboratorium kemudian disebarluaskan di Amerika dan Israel; (7) Ciptaan Illuminati untuk melakukan depopulasi; (8) Yahudi sebagai dalang dan masih banyak lagi daftar spekulasi yang disebarluaskan secara terstruktur, masif, terkoordinasi melalui jejaring media sosial.

https://uacrisis.org

Perspektif Psikologis dan Sosiologis

Mengapa teori-teori konspirasi memenuhi ruang publik virtual dan ruang kesadaran massa di tengah pandemi? Ada sejumlah perspektif yang dapat dipergunakan untuk menjelaskan fenomena di atas. Kita akan menggunakan perspektif sosiologis dan psikologis untuk mendapatkan sebuah gambaran.

Dalam artikel berjudul The Psychology of Conspiracy Theories yang ditulis Karen M. Douglas dkk menyebutkan adanya tiga motif yang mendorong tumbuh suburnya teori konspirasi, yaitu: Motif Epistemic, Motif Eksistensial, dan Motif Sosial (Journal Psychology).

Motif epistemic berusaha mencari jawaban dan kepastian terhadap sebuah persoalan yang tidak mendapatkan penjelasan yang memuaskan dari lembaga resmi. Motif eksistensial berusaha mencari kepuasan dan menghindari kecemasan dengan mendapatkan sejumlah jawaban alternatif yang dirasa lebih memadai. Sementara motif sosial lebih didorong pada keinginan membangun citra positif kolektif dari kelompok dan mencari penyebab persoalan pada kelompok lain.

Sementara dari perspektif Sosiologi dengan menggunakan pendekatan Strain Theory dari Robert K. Merton mengenai terjadinya sebuah ketegangan saat mana individu gagal mencapai tujuan yang ditetapkan secara kultural oleh masyarakatnya dan alat untuk mencapainya tujuan tersebut.

Ketegangan ini menghasilkan tipologi individu yang merespons secara berbeda, yaitu: Pertama, conformity, yaitu individu yang menerima tujuan kultural dengan alat yang tersedia. Kedua, inovation, yaitu individu yang menerima tujuan kultural namun menolak alat-alat yang disediakan dari cara kehidupan lama sehingga berinovasi. Ketiga, ritualism, adalah individu yang menjalani dan menggunakan alat yang ada untuk mencapai apa yang tidak disetujuinya. 

Keempat, retreatism, adalah penolakan baik tujuan dan alat atau cara untuk mencapai tujuan yang ditetapkan secara kultural. Kelima, rebellion, adalah individu yang bertekad untuk memberikan wacana dan pencapaian secara berbeda dari alat yang disediakan secara kultural. (Social Theory and Social Structure, 1968).

Dengan menggunakan perspektif Merton, mereka yang memunculkan dan memercayai teori konspirasi adalah individu/kelompok yang menolak penjelasan resmi dan mencoba menyediakan sebuah wacana tandingan dan alternatif dari wacana yang resmi alias tipe Rebellion.

Wacana alternatif sebagai tandingan ini dikarenakan adanya celah ketidakpastian dan ketidakjelasan sebuah informasi perihal sesuatu yang terjadi sehingga teori konspirasi akan mengisi celah yang membentuk ruang kosong dalam kesadaran manusia.

Zaria Gorvet dalam artikelnya, What We Can Learn From Conspiracy Theoriesmendaftarkan sejumlah variabel yang menjadikan teori konspirasi menarik perhatian individu dan masyarakat, yaitu: Pertama, menyediakan jawaban yang meyakinkan perihal penyebab terjadinya segala sesuatu. Kedua, kekhawatiran kolektif terhadap ancaman bersama 

Ketiga, cara pandang tribalisme alias kesukuan yang menekankan perbedaan tajam antara "ini group" dan "out group". Keempat, munculnya ketidakpastian dari pemangku kebijakan. Kelima, kesenjangan pengetahuan antara pemangku kepentingan dengan publik terhadap kebenaran penyebab sebuah peristiwa. Keenam, adanya motivasi tersembunyi.

Adakah Nilai Kebenaran Teori Konspirasi?

Pertanyaannya, apakah semua teori konspirasi itu keliru? Tidak adakah tersisa fragmen kebenaran di balik teori spekulatif tersebut, termasuk teori konspirasi terkait pandemi Covid-19?

Teori konspirasi memang berangkat dari sejumlah data dan fakta. Sayangnya, data dan fakta yang bersifat fragmentaris dijadikan satu dengan melepas konteksnya kemudian diinterpretasikan sesuai dengan kepentingan pemilik teori konspirasi.

Katakanlah ketika menuding keterlibatan Bill Gates hanya didasarkan kecurigaan dari peringatan yang kerap disampaikan Gates perihal ancaman masa depan berupa virus. Jika demikian logikanya, maka Wallace Broecker yang memunculkan istilah "pemanasan global" tahun 1975 bertanggung jawab terhadap peningkatan kadar karbon dioksida pada atmosfer yang akan menyebabkan pemanasan karena di masa kini telah terbukti pemanasan global menjadi sebuah kenyataan global?

Demikian pula tuduhan lembaga keuangan yang dikelola orang-orang kaya Yahudi bakal menuai keuntungan dari peminjaman keuangan untuk melakukan recovery ekonomi, sama saja dengan mengatakan bahwa tumbuhnya industri baru di masa pandemi Covid-19 (produksi masker, face shield, hand sanistizer dsj) merupakan rekayasa para pencipta industri baru hanya dikarenakan mereka bakal meraup keuntungan di balik pandemi karena produk yang dijualnya diserap oleh pasar.

Oversimplifikasi dalam Teori Konspirasi

Kelemahan mendasar dari sejumlah teori konspirasi adalah berusaha mereduksi persoalan pelik dan belum terpecahkan dengan melakukan upaya oversimplifikasi (penyederhanaan berlebihan) dengan mencari kambing hitam untuk dipersalahkan.

Jika bukan negara (Amerika, Cina, Rusia, Israel/Yahudi), biasanya kelompok atau organisasi tertentu (Freemasonry, Illuminati, Templar), bahkan individu yang dalam banyak hal dilekati stigma berbau Anti-Yahudi (George Soros, Rotschild, Bill Gates).

Tindakan reduktif dengan melakukan oversimplifikasi di atas mengabaikan kekuatan agen/aktor atau kekuatan alam serta teknologi yang mendorong terjadinya perubahan lanskap sosial ekonomi dan sosial politik serta sosial budaya dan hanya menisbatkan pada satu orang, dan satu kelompok yang tidak berganti sejak berabad-abad lalu.

“Beri Aku Sebuah Perspektif!”

Mengasup teori konspirasi mungkin saja menjadi semacam panacea (obat ampuh) untuk mengatasi sejumlah kepanikan dan mencari kepastian jawaban di tengah kebingungan bauran informasi yang semakin mencipta kebingungan tinimbang kejelasan di tengah pandemi Covid-19.

Namun dengan mempertimbangkan sejumlah kelemahan yang melekati teori-teori konspirasi di tengah pandemi Covid-19, selayaknya kita mulai berpaling pada sikap yang lebih realistis dan rasional dalam menyikapi persoalan global ini.

Kita butuh lebih banyak perspektif alias sudut pandang dalam menyikapi keberadaan Covid-19 yang telah menimbulkan guncangan sosial ekonomi global.

Dalam sebuah petikan film animasi berjudul Ratatouille (2007) yang mengisahkan obsesi seekor tikus bernama Remy yang berkolaborasi dengan seorang anak Chef terkenal Auguste Gusteau yang bernama Linguini Gusteau, ada percakapan menarik dan menggelikan dari pelayan yang gemetar ketakutan saat mendatangi meja Anton Ego, seorang kritikus masakan restoran. Berikut penggalan percakapannya,

Pelayan: “Sudah tahu apa yang Anda pesan malam ini, pak?”

Anton Ego: “Ya, sudah. Setelah membaca tulisan berlebihan tentang juru masak barumu, tahu apa yang aku inginkan?....Sedikit perspektif…Itu dia, aku butuh perspektif yang segar, jernih dan mendalam. Bisa sertakan anggur enak untuk menemaninya?

Pelayan: (sambil terbelalak dan menelan ludah) “Teman apa, pak?”

Anton Ego: Perspektif. Sudah habis ya?

Pelayan: “Aku…”

Anton Ego: (seraya bangkit dari kursi dan mendekatkan wajah cekungnya pada pelayan) “Mengingat kau kehabisan perspektif dan tidak ada yang punya itu di kota ini, aku akan buat kesepakatan ini denganmu. Kau sediakan makanan, akan kusediakan perspektif itu yang enak jika ditemani sebotol anggul Drival Blanc 1947!”

Apakah maksud istilah perspektif dalam penggalan adegan tersebut? Dalam konteks alur film animasi dan peran tokoh Anton Ego, dia menginginkan sebuah sajian masakan yang khas dan orisinal dari restoran yang akan dia kritisi. Namun jika restoran yang dia kritisi tidak bisa menyajikannya, maka dia sendiri yang akan memberikan tinjauan kritis atau perspektif dirinya yang akan menentukan kelangsungan dan masa depan restoran tersebut.

Dalam konteks masa kini di saat semua negara mulai memberlakukan konsep new normal pasca melandainya statistik penderita Covid-19, kita butuh lebih banyak perspektif untuk menjadi bahan referensi kita berpikir dan bertindak sehingga kita cukup memperoleh alasan dalam mengambil sebuah keputusan dan kebijakan.

Kita membutuhkan perspektif sains, ekonomi politik, sosiologi, kedokteran, dan bukan hanya melulu perspektif agama dalam menalar pandemi global ini. Beragam perspektif ini dapat menyeimbangkan sudut pandang dan pengambilan keputusan yang kita lakukan sehingga tidak terjebak pada sejumlah pseudo sains dan informasi yang menyesatkan sebagaimana berita-berita hoax yang beredar.

Sekalipun di masa pandemi ini semua pendapat pakar dan ahli terkadang bertabrakan bahkan menjadi tidak berdaya di hadapan entitas biologis tidak kasatmata, tetap saja kita membutuhkan perspektif mereka bahkan lebih banyak perspektif.

Sebagaimana dikatakan Ross Douthaat dalam artikel (terjemahan), Dalam Kabut Corona Tidak Ada Pakar sbb: “Masih ada beberapa cahaya yang datang dari atas, dari dunia kepastian, dunia para ahli yang penting dimanfaatkan, untuk melihat apa yang bisa dilihat dalam cahaya” (Wabah, Sains dan Politik, 2020). Tinggalkan teori konspirasi sebagai panacea dan perbanyaklah perspektif.