Pikiran yang Mengemudikan Kehidupan

Selayaknya kehidupan yang terus berjalan begitulah pikiran manusia. Pikiran berperan besar dalam kehidupan manusia.

Proses berpikir manusia merupakan hal yang kompleks. Tak satupun orang dapat membatasi pikiran manusia. Terbatasnya control akan pikiran membuat pikiran menjadi bebas.

Menyimpulkan segala sesuatu sudah menjadi kebiasaan manusia. Fakta tak lagi dilihat sebagai faktor utama dalam suatu fenomena.

Pikiran menjadi pemimpin setiap individu. Ia dapat mengontrol segalanya dan membutakan indra manusia. Dengan begitu, manusia hanya mendengar pikirannya dan prasangka yang ada di pikirannya.

Manusia memiliki kecenderungan untuk menyimpulkan kebenaran atas fenomena yang sesuai pikirannya. Seolah hanya pikirkanlah yang paling tahu segalanya.

Seperti skandal Kim Seon Ho dan pacarnya yaitu Choi Young Ah. Kim Seon Ho dikabarkan melakukan gaslighting (kekerasan mental berupa berbohong atau manipulasi) dan menyuruh aborsi mantan pacarnya. Hal tersebut diakui oleh Kim Seon Ho bahwa ia sering menyakiti pacarnya dan meminta maaf.

Berdasarkan Tempo.co, skandal itu direspon negatif oleh para fans Kim Seon Ho. Para fans kecewa dan merasa sedih atas tindakan yang dilakukan idolanya. Banyak dari mereka menyalahkan perbuatan Kim Seon Ho dan membela Choi Young Ah.

Kebenaran yang Ditemukan Melalui Kembali Kepada Subjek Menurut Edmund Husserl

Pikiran membawa manusia berhenti dalam kesimpulan dan persepsi yang dianggap benar. Dari tahun ke tahun, manusia terus menilai dan menyimpulkan objek berdasarkan pikirannya.

Tak dapat dipungkiri, pada zaman Edmund Husserl manusia juga mendengarkan prasangka dan persepsi yang ada di pikirannya. Kesalahan pikiran tak dapat dihentikan sampai kita menyadari pentingnya kembali kepada realitasnya sendiri.

Kembali kepada realitasnya sendiri merupakan hal yang bijaksana untuk dilakukan agar mengetahui suatu kebenaran.

Edmund Husserl adalah seorang filsuf yang mengajak manusia untuk Zu den sachen selbst yang artinya manusia diminta untuk kembali kepada gejala pertama dan realitanya (Abidin, 2017).

Edmund Husserl menyadari bahwa terdapat peran subjek dalam pemberian nilai pada objek. Oleh karena itu, ia menyadari ”realitasnya sendiri” tidak terdapat di objek melainkan terdapat pada subjek yang disebut subjek transendental. Sehingga kembali kepada objek berubah menjadi kembali pada subjek.

Dalam kasus Kim Seon Ho, manusia sering kali meninggalkan subjek(fakta sebenarnya) sehingga menganggap pengakuan dan permintaan maaf dari Kim Seon Ho adalah realita yang sesungguhnya.

Di sini, Edmund Husserl ingin mengatakan bahwa bisa saja pengakuan dan permintaan maaf yang dilakukan Kim Seon Ho hanyalah “topeng” semata. Oleh karena itu, Husserl mengatakan manusia seharusnya kembali kepada subjek untuk mengetahui realita sesungguhnya.

Melepaskan Pikiran Berdasarkan Reduksi Edmund Husserl

Jika manusia ingin kembali kepada sumber atau realitasnya maka manusia perlu mengarahkan dirinya sehingga bebas dari segala macam prasangka dan persepsi.

Prasangka perlu dilepaskan dari pikiran manusia sehingga terjadinya reduksi. Melalui reduksi, manusia akan menunda, menyimpan, dan menaklukkan prasangka dalam pikirannya.

Reduksi membantu manusia untuk fokus kepada esensi dari realitas itu sendiri. Dalam sudut pandang Edmund Husserl, ia mengutarakan tiga tahap reduksi untuk mencapai kebenaran yang sesungguhnya. Tiga reduksi tersebut dinamainya reduksi fenomenologis, reduksi eidetik, dan reduksi transendental.

Manusia diminta untuk menunda prasangka yang terdapat dalam pikirannya dan mengarahkan pikiran kepada fenomena yang tampak dalam segala aspek serta perspektif. Hal tersebut merupakan reduksi fenomenologis.

Tujuan dari reduksi eidetik yaitu untuk mengungkap esensi atau inti sari. Dengan mengarahkan perhatian pada esensinya maka kita dapat mengetahui hakikat dasar dari suatu fenomena.

Reduksi transendental berfokus pada subjek itu sendiri. Reduksi ini menyingkirkan prasangka dan keberadaan subjek empiris sehingga yang tampak hanyalah kesadaran kita sendiri dan aktivitas-aktivitasnya.

Kehidupan yang Seharusnya Terjadi Menurut Edmund Husserl

Manusia dengan mudah menarik kesimpulan setelah melihat suatu kejadian, tanpa berniat untuk mencari kenyataan yang sesungguhnya. 

Pada skandal Kim Seon Ho, terdapat pelajaran yang dapat kita pelajari. Secara tidak langsung manusia diajarkan untuk tidak berprasangka atau men-judge seseorang tanpa mengetahui kebenarannya.

Sebaliknya, manusia perlu belajar dari dispatch (media terkenal di Korea Selatan). Media Korea ini memiliki kehausan akan realita sesungguhnya sehingga mencari bukti-bukti kepada subjek dan teman terdekat subjek. Berkat kehausan akan kebenaran, dapat dibuktikan pengakuan dan permintaan maaf Kim Seon Ho hanyalah tindakan untuk menutupi aib mantan pacarnya.

Media tersebut melakukan reduksi pada prasangka sehingga dapat mengetahui kebenaran dari skandal Kim Seon Ho. Kebenaran harus manusia temukan dari subjek itu sendiri sehingga manusia tidak akan tenggelam dalam hoaks.

Manusia tak akan luput dari kesalahan begitu pula dengan pikiran manusia. Oleh karena itu, sesama manusia yang berjuang untuk memenangkan kehidupan maka alangkah indahnya jika saling menghargai sesama tanpa menilai atau berprasangka buruk pada orang lain.


DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Z. (2017). Filsafat Manusia : Memahami Manusia Melalui Filsafat (Edisi Revisi). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Hayati, I. (2021). Kecewa Fans Usai Pengakuan Kim Seon Ho, Puncaki Trending Topic Twitter. Diambil dari Kecewa Fans Usai Pengakuan Kim Seon Ho, Puncaki Trending Topic Twitter | Tempo.co | LINE TODAY

Lova, C. (2021). Fakta Terbaru Kasus Kim Seon Ho, Dispatch Bongkar Kebohongan Mantan Pacar Sang Aktor. Diambil dari Fakta Terbaru Kasus Kim Seon Ho, Dispatch Bongkar Kebohongan Mantan Pacar Sang Aktor Halaman all - Kompas.com

Saptoyo, R.D.A. (2021). Kronologi Skandal Kasus Aborsi Kim Seon Ho, hingga Berujung Maaf. Diambil dari https://www.kompas.com/tren/read/2021/10/20/163000465/kronologi-skandal-kasus-aborsi-kim-seon-ho-hingga-berujung-maaf?page=all#page2