“Ambisimu melebihi bakatmu,” kata Casey Stoner dengan satire kepada Valentino Rossi di Jerez (2011). Ungkapan tersebut muncul karena Rossi terjatuh dan menabrak Stoner ketika ia berusaha menyalipnya di lintasan basah.

Stoner begitu kecewa dan marah. Rossi yang pada saat itu mengendarai Ducati Desmosedici GP11 langsung menemuinya setelah balapan untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf. Ia sadar, ia terlalu percaya diri meski Ducati teruji punya keunggulan ketika hujan turun.

Seperti halnya Rossi, Andrea Iannone tampaknya juga melakukan kesalahan sama. Tapi, yang berbeda adalah gaya balapnya yang ceroboh. Hal ini mungkin karena pengalaman yang belum begitu banyak. Sehingga, ia tak lantas memperbaiki performanya. Dalam dua seri yang telah berlangsung pada musim ini, ia gagal menyelesaikan balapan.

Kegagalan pertama Iannone terjadi di Losail, Qatar (20/03/16). Seperti biasanya, balapan di sana selalu memberikan kejutan meski hasilnya sesuai dengan yang diprediksi sebelumnya. Aksi salip-menyalip sering terjadi karena banyaknya tikungan dan pendeknya lintasan lurus di sirkuit tersebut.

Pemilihan Sirkuit Internasional Losail, Qatar ini pun bukan tanpa alasan. Selain kontrak yang tentu saja mengikatnya, karakter dan waktu penyelenggaran di sirkuit ini sangat mengasyikkan. Sebab, balapan hanya bisa dilakukan pada malam hari dan banyaknya tikungan membuat setiap pembalap sulit menjauh dari yang di belakangnya dalam selisih waktu 1 detik.

Paling tidak, hal ini yang dirasakan Jorge Lorenzo yang berhasil memenangkan balapan tersebut. Kita bisa menyaksikan bagaimana ia berjuang di posisi paling depan untuk memperlebar selisih waktu dari kejaran Andrea Dovizioso. Sedangkan, Marc Marquez bekerja keras menyalip Dovizioso meski akhirnya gagal dalam selisih waktu yang begitu tipis, sekitar 0,268 detik.

Iannone gagal menyelesaikan balapan karena terjatuh di beberapa putaran awal, padahal ia memiliki kecepatan yang baik. Kalau saja balapannya sempurna, Lorenzo mungkin akan terganggu di baris depan dan perlu kerja keras ekstra untuk mengamankan posisinya.

Kegagalan kedua The Maniac—julukan Iannone—terjadi kemarin di Termas de Rio Hondo, Argentina (04/04/16). Berbeda dari Qatar, sirkuit ini begitu kotor karena balapan mobil. Aspalnya pun kurang baik bagi para pembalap untuk menampilkan kemampuan 100%. Alasannya, risiko yang terlalu besar.

Selain risiko yang terlalu besar, Michelin yang ditunjuk sebagai pemasok ban tunggal di MotoGP belum mampu memberikan kualitas terbaik, terutama dalam soal adaptasi pembalap dengan motornya. Hal tersebut disimpulkan dari ketidakpuasan para pembalap dan kecelakaan yang menimpa Scott Redding dalam sesi latihan terakhir di sana.

Ia mengalami cedera punggung disebabkan ban belakang yang meledak secara tiba-tiba. Karena itu, Michelin terpaksa menarik ban yang telah dipasok dan menggantinya dengan yang baru. Jumlah putaran pun dikurangi dari 25 ke 20 dan setiap pembalap wajib mengganti ban setelah 10 putaran pertama demi keselamatan.

Berbeda dari para pembalap lain, Iannone begitu percaya diri mengawali balapan. Ia berambisi menebus kesalahan yang telah dilakukan sebelumnya di Qatar. Namun, sayangnya ambisi tersebut melebihi bakatnya.

Iannone yang mengawali balapan dari posisi 6 dengan begitu percaya diri berhasil mempertahankan kecepatannya secara konstan. Putaran demi putaran ia lalui dengan baik sampai tiba waktunya masuk pit untuk mengganti ban. Setelah itu, ia kembali bersaing di barisan depan bersama Rossi dan Dovizioso.

Persaingan antara Rossi, Dovizioso, dan Iannone dalam 10 putaran terakhir begitu sengit. Dengan mengambil keuntungan dari motor kedua Rossi yang bermasalah dan tertinggal dari Marquez dengan selisih 4-5 detik, Iannone dan Dovizioso berhasil memukau para penonton dengan manuver-manuver yang mengesankan. Namun, sayangnya ia begitu ceroboh.

Iannone terlalu percaya diri. Ia memacu kuda besinya di tikungan terakhir dengan kecepatan melampaui batas yang menyebabkan hilangnya daya cengkeram ban depan dan menabrak Dovizioso. Dovizioso terjatuh dan terpaksa mendorong motornya ke garis finis demi raihan poin.

Harapan untuk Iannone

Sejak memutuskan hijrah ke MotoGP untuk bergabung ke Pramac Racing pada 2013 dan Ducati Corse pada 2015, Iannone sebenarnya bisa menjadi harapan Ducati untuk meraih gelar juara dunia. Menurut Rossi, pengalamannya yang belum pernah mengendarai motor pabrikan Jepang menjadi keuntungan sendiri.

Selain itu, Ducati yang merupakan pabrikan Italia begitu liar di lintasan. Rossi selama dua musim di sana (2011-2012) gagal “menjinakkan” Desmosedici dan bahkan sempat kehilangan asa karena usia yang tak lagi muda untuk ukuran seorang pembalap. Dalam beberapa dekade ini, hanya Stoner yang mampu menjadi juara dunia bersama Ducati.

Ducati sejak ditinggalkan Rossi telah melakukan perubahan radikal. Selama dua musim di sana, ia berhasil memberikan masukan-masukan berharga dalam pengembangan motor. Problem chatter, understeer dan perpaduan antara mesin dan sasis secara bertahap teratasi meski sepenuhnya belum sempurna.

Keseriusan Ducati semakin tampak ketika mereka mengontrak Gigi Dall’igna sebagai manajer umum pada akhir musim 2013. Berbagai perombakan motor juga dilakukan demi stabilitas motor di cornering. Salah satunya adalah penggunaan winglet membelokkan arah angin sehingga motor bisa langsung dipacu setelah keluar tikungan tanpa terangkatnya ban depan karena ban belakang.

Berbagai perubahan ini sangat menguntungkan Iannone. Ia tak perlu bersusah payah memikirkan perombakan yang radikal. Ia hanya perlu mengubah gaya balapnya (yang ceroboh) dan mengendalikan kepercayaan dirinya. Ia perlu belajar dari kompatriotnya, Valentino Rossi, bahwa motor juga memiliki jiwa dan karenanya, setiap pembalap harus tahu batas kemampuannya.

Yang perlu ditaklukkan Iannone di balapan-balapan selanjutnya bukanlah motor ataupun lawan-lawannya. Yang perlu ia taklukkan justru adalah ambisinya agar tidak melebihi bakatnya.