Hidup tidak seindah drama Korea! Begitu kira-kira yang akan dilontarkan oleh sebagian orang yang menganggap drakor hanya mimpi belaka.

Sebut saja mereka adalah kaum nyinyir drakor. Kaum ini biasanya akan menggunakan kalimat ‘hidup tak seindah drama Korea ’ sebagai senjatanya saat bertemu dengan kaum pencinta drakor yang ketagihan nonton drakor karena mungkin nggak ada kerjaan, lagi galau, kebanyakan kuota internet atau memang kesengsem sama wajahnya Park Bo-Gum. 

Lumayan kan di kala uang belanja menipis di akhir bulan, melihat senyum PBG jadi lupa kalo dompet tinggal setipis tempe mendoan.

Dan kalimat ini masih dibumbui dengan ujaran lainnya, ‘Drakor itu hanya memberi ilusi, fantasi dan janji’. Mereka tiba-tiba menyamakan dengan caleg yang suka jual mimpi. Begitulah drakor di mata mereka. Hanya mimpi, tidak realistis dan sungguh jauh dari kenyataan pedihnya hidup ini. 

Eeeh tapi tunggu dulu... Drakor banyak memberikan gambaran cerita hidup yang tidak ena-ena lho. Ada lima alasan penting kenapa drakor sangat nyata dengan kehidupan kita sehari-hari.

Hidup penuh dengan tagihan

Banyak scene drakor yang menceritakan bagaimana budget rumah tangga itu tidak seimbang dengan pengeluaran. Sebut saja Go Back Couple.

Ma Jin Jo sebagai istri dan ibu rumah tangga kebanyakan menghitung pengeluaran tiap bulan dari pendapatan suaminya adalah kegiatan rutinnya. Setelah dihitung-hitung dan dikurangi banyak tagihan, ia tak bisa menyisakan untuk tabungan apalagi jalan-jalan, belum lagi masih buat memberikan hadiah-hadian untuk orang tua ataupun mertua.

Begitu juga Seo Wo Jin di Familiar Wife yang juga jarang jalan-jalan karena hidupnya telah dipenuhi tagihan meskipun ia juga bekerja part time. Sebagai sobat yang juga hidup untuk memenuhi berbagai tagihan di dunia nyata, maka drakor beginian sangat mewakili perasaan gimana pendapatan kadang-kadang tidak adil dengan banyaknya pengeluaran.

Pendidikan tidak berbanding lurus dengan pekerjaan

Bagi yang merasa dulu kuliahnya di teknik tapi kerjanya sekarang di restoran, maka nontonlah beberapa seri drakor dan pasti takkan merasa sendirian. Choi Ban Do masih di Go Back Couple adalah lulusan teknik sipil tapi kemudian ia bekerja sebagai sales obat. Belum lagi Bo Reum yang jelas lulusan sejarah eh akhirnya dia jadi instruktur senam aerobik. 

Di Let’s Eat 3, malah akan dijumpai beberapa tokoh yang lulusan sarjana teknik namun nyemplung di bisnis kuliner.

Jika mau nonton yang lebih ekstrem lagi, ada Ms.Kim yang kuliah aja enggak tapi dia bisa jadi sekretarisnya Mr. Lee di What’s Wrong with Secrteray Kim. 

Yhaa enggak begitu saja sih. Meskipun Ms. Kim ini memang cantik, namun jalan ninja yang ditempuhnya hingga menjadi sekretaris tidaklah mudah. Pekerjaan memang bisa jadi tidak ideal sesuai pendidikan yang ditempuh, jadi menontonlah drakor bersama sesama sobat yang bernasib pekerjaan nggak nyambung sama sekolah.

Hidup tak selalu sukses

Sekolah pintar, kuliah berprestasi, bekerja dengan gaji besar adalah impian ideal semua orang. Tapi di drakor tidak semudah itu, Esmeralda! Hidup tak selalu sukses. Kejatuhan, kebangkrutan adalah bagian yang biasa muncul. Baiq, meskipun banyak berseliweran drakor yang ujung-ujungnya ketemu dengan anak CEO kaya atau CEO kaya dan tampan, namun mereka juga tidak kebal akan kebangkrutan.

Di Because This Is My First Love, Yoo Jin Ho jelas dapat mewakili gambaran hidup tuh nggak mulus-mulus amat. Biarpun dia lulusan dari universitas bergengsi, pintar dari zaman sekolah dan akhirnya bekerja sebagai penulis naskah yang nggak laku, hidupnya juga penuh tagihan dan kebangkrutan.

Akhirnya dia harus bekerja jadi pelayan restoran. Jo Gi Beum juga merasakan hal yang sama. Di Devilish Joy sobat yang pernah merasa kejatuhan bisa melihat perjuangan Jo Gi Beum dari artis terkenal akhirnya harus hidup susah, kerja sana sini dan tidak makan nasi.

Cinta itu butuh rangsangan perjuangan

Gambaran gadis miskin jatuh ke pelukan CEO kaya dan tampan, kemudian mereka menikah dan menjadi keluarga sacemara, adalah hal yang biasa diunggulkan dalam cerita drakor.

Tapi tahukah jika untuk menjadi istri seorang yang tajir dan tampan itu melalui proses yang tidak begitu saja? Kita perlu menonton hampir lebih dari 10 episode yang tiap episodenya bisa sampai satu jam lebih lima belas menit untuk sampai pada si tokoh jatuh cinta.

Ya kebayang kan kita harus mengeluarkan beberapa receh rupiah untuk kuota, ya syukur-syukur dapat kuota diskonan atau bonusan dan mengabaikan tumpukan setrika juga cucian demi nunggu mereka curi pandang, lirik-lirikan sampai peluk-pelukkan, eh.

Itu setara dengan Ms. Kim yang butuh waktu lebih dari 9 tahun untuk akhirnya jatuh cinta sama Mr. Lee. Lama amat kan ya? Lha selama itu ngapain aja sih? Ya itu Ms. Kim berjuang, belajar supaya tambah profesional sebagai sekretaris demi memantaskan diri.

Jadi saat bersanding sama Mr. Lee, dia sudah menguasai bahasa Inggris, Jepang sama Mandarin. Begitu juga dengan Do Bong Soon; untuk bisa bersanding dengan CEO ganteng, kaya dan rupawan. Sampai sepuluh episode lebih baru kelihatan tanda-tanda mereka mulai saling pandang-pandangan akhirnya ke pelaminan. Begitu bukan cinta seharusnya tumbuh? #eeaaa

Nggak ada azab-azaban

Akhir kisah memang kadang nyebelin. Tentunya harapan penonton untuk melihat sang tokoh antagonis bakalan disiksa di lubang sumur, truk pengeruk semen atau bahkan di lubang septink tank tidak akan menjadi nyata.

Apalagi jika berharap sang antagonis tiba-tiba matinya susah, jasadnya jadi berat buat diangkat atau malah bakalan banyak belatung di kuburaannya maka harapan itu bisa jadi sia-sia. Jika mau lihat tokoh antagonis dengan level kekejaman tinggi, nontonlah The Voice atau Partner of Justice. Di mana sang antagonis mentok ‘cuma’ ditangkap lalu dipenjarakan.

Kok ya nggak pake adegan ekstrem dulu lalu dibuat mati gitu? Kan ngeselin. Sama aja ketika akhir cerita My Id is Gangnam Beauty lha kok So A bisa temenan alias baikan sama Kim Mi rae, yang padahal So A dikenal jahad sama Mi Rae. 

Yhaa tapi begitulah hidup sesungguhnya, Parmin! Kadang dengan sebelnya kita harus melihat mantan yang jahad itu bersanding dengan orang lain yang lebih tajir.

Kenapa juga si mantan nggak kena siksa karena menyakiti kita yekan? Atau melihat horang kayah rayah hasil korupsi yang ternyata tetap ena-ena aja, matipun dengan damai, makamnya juga nggak kesamber geledek. Begitu juga melihat mantan kekasih yang memutus sepihak lalu menikah lebih dulu dengan pria tampan, tajir dan mahar lebih dari 80 Juta!....pedih nian...tapi itulah kenyataan hidup.......sobat.