Legal Officer
5 bulan lalu · 115 view · 7 min baca · Olahraga 77063_79339.jpg
Sportskeeda

Menakar Prospek Periode Kedua Zidane di Real Madrid

Selasa (12/3) siang, pria 47 tahun berkepala plontos itu kembali berkeliling memeriksa lapangan dan peralatan kebugaran di pusat latihan Valdebebas. Pria Prancis pemenang Piala Dunia 1998 tersebut didampingi kedua asistennya, Davide Bettoni dan Hamidou Msaide.

Setelah tersingkir dari kompetisi Piala Raja dan Liga Champions, serta berjarak 12 poin dari pemimpin klasemen Barcelona di La Liga sampai pekan ke-27, Madrid kembali menunjuk Zinedine Zidane menangani tim. Los Blancos kembali memanggil pelatih yang mundur 284 hari sebelumnya setelah dua kali mengganti pelatih dalam satu musim 2018/2019 yang kacau ini.

Zidane dipanggil setelah Madrid memecat Santiago Solari. Pria Argentina itu sebelumnya ditunjuk menggantikan mantan pelatih timnas Spanyol Julen Lopetegui. Kabarnya, Los Merengues menawari Solari menangani tim Real Madrid junior, posisi lama sebelum ia menangani tim senior pertengahan musim ini.

Rumor Sebelum Kejutan

Kembalinya Zidane setengah mengejutkan. Setengah, karena sejak Madrid dibantai Ajax 1-4 di Santiago Barnebeu, rumor penggantian Solari oleh Zidane berhembus cukup kencang. Ia pun belum melatih lagi sejak akhir musim lalu mengundurkan diri dari kursi kepelatihan Real Madrid. 

Sementara, berhembus kabar pula Juventus sudah memberikan penawaran formal kepada mantan gelandang mereka tersebut.

Zidane direncanakan manajemen La Vecchia Signora akan menggantikan Massimiliano Allegri musim depan. Hubungan Zidane dengan Presiden Madrid, Florentino Perez, dan tangan kanannya Jose Angel Sanxhez pun dikabarkan sudah memburuk sejak Zidane mundur.

Sehingga hampir tidak mungkin Zidane kembali ke Real Madrid dalam waktu dekat setelah ia mengundurkan diri bulan Mei 2018 lalu. Jose Mourinho pun muncul sebagai kandidat lain. Mantan pelatih Madrid itu belum menangani klub mana pun sejak dipecat Manchester United pertengahan musim ini.

Namun, segala rumor akhirnya menemukan jawaban. Zidane kembali ke Real Madrid. Kabarnya, Mourinho ditolak pemain karena pernah punya hubungan buruk dengan beberapa pemain. Kapten Sergio Ramos, konon, meragukan kemampuan pria Portugal itu mengangkat moral pemain.


Sergio Ramos dan para pemain lebih menyukai Zidane dibanding Mourinho. Saat Mourinho bertikai dengan mantan kapten Madrid Iker Casillas beberapa musim lalu, Ramos sudah menjadi bagian dari tim. 

Kabarnya, kapten petahana Ramos sempat mengancam pindah dari Madrid bila klub memilih Mourinho. Zidane menjadi figur yang paling dapat diterima pemain dan petinggi klub untuk menyelesaikan krisis tim.

Apa yang Bisa Diharapkan?

Dengan sisa 11 pertandingan di La Liga dan tersingkir dari semua kompetisi sisa, tidak ada lagi gelar juara yang bisa dipersembahkan Zidane untuk Madrid. Merebut posisi runner up dari Atletico Madrid adalah target paling realistis.

Jarak poin Madrid (51) dari Atletico (56) hanya lima poin. Akan menjadi aib bila Madrid harus melalui fase play off sebelum berkompetisi di Liga Champions, mengingat Madrid adalah pemenang medali terbanyak kompetisi bergengsi Eropa tersebut.

Di hari pertama latihan, Zidane sudah mulai menunjukkan kemampuan pendekatan personalnya untuk mencapai target tersebut. Suasana hati pemain mulai dibangkitkan. Mereka memang sudah melalui musim yang buruk sejauh ini. Namun mereka masih bisa mengakhiri musim dengan kebanggaan.

Di sisi lain, Zidane bisa mulai meletakan dasar permainan untuk musim depan. Dari segi taktik, ia bisa bereksperimen dengan taktik baru. Di lini depan, kehilangan Cristiano Ronaldo awal musim ini membuat lini depan Madrid tidak tajam lagi.

Di lini pertahanan, kemampuan tim dalam menghentikan lawan membuat peluang dan bertahan dari serangan balik menjadi kelemahan yang bisa dievaluasi Zidane. Seleksi pemain bisa dilakukan Zidane dalam sebelas pertandingan terakhir musim ini.

Tim Madrid utama sekarang rata-rata sudah berusia 30an. Pemain-pemain seperti Marcelo, Ramos, Varane, Modric, dan Isco telah bersama sejak Madrid memenangkan Liga Champions dan Piala Raja musim 2014/2015 di bawah Carlo Ancelotti.

Merosotnya prestasi dua musim terakhir menjadi pertanda beberapa pemain sudah kehilangan motivasi. Pemain utama, seperti Kroos dan Modric, sudah terlalu nyaman. Sedangkan pemain cadangan, seperti Ceballos dan Llorente, belum stabil penampilannya untuk diandalkan. Oleh karena itu, penyegaran dan regenerasi menjadi pilihan rasional untuk musim depan.

Gareth Bale sudah hampir pasti pergi dari Barnebeau musim depan. Ia sudah lama tidak masuk dalam skema Zidane. 

Performa Toni Kroos menurun musim ini. Mengingat usianya yang masih produktif, Zidane bisa mencoba mengangkat mental Kroos. Bila ternyata masih bermain buruk, bisa saja ia dijual. Demikian pula nasib Isco.

Usia Luca Modric berada di penghujung karier. Segera menjual pemain terbaik dunia 2018 berusia 34 tahun mungkin akan memberi kompensasi menarik bagi Madrid. Harga jual Modric bisa untuk membeli pemain lain yang lebih muda dan produktif.

Musim depan tampaknya Marcelo dan Sergio Ramos tetap akan bermain di Santiago Barnebeu. Walaupun kabar Marcelo pindah ke Juventus akhir-akhir ini makin kencang, Zidane sudah mengatakan pada Florentino Perez untuk mempertahankan Marcelo.

Setelah presentasi perkenalan kembali, Zidane memanggil Ramos untuk bicara. Indikasi kuat sang kapten masih menjadi pemain yang dipercaya Zidane. Wajar bila Ramos tidak dijual Madrid musim depan.

Dani Ceballos belum pernah dipercaya Zidane sepenuhnya pada periode kepelatihan yang pertama. Ketika Modric dan Kroos cedera, Ceballos sempat heran mengapa Zidane mengubah taktik; bukan memainkan dirinya. Sebelas laga terakhir akan menjadi penentuan hubungan Ceballos dan Zidane di peride kedua ini. 

Eder Militao menjadi kado pertama Madrid untuk Zidane. Kepastian hadirnya bek FC Porto tersebut akhir musim nanti diprediksi menyelesaikan masalah Madrid di lini belakang. Pemain Brazil tersebut dapat menjadi kompetitor serius bagi Ramos dan Varane.


Sejak Pepe pergi, kompetisi bek tengah Madrid mengendur. Akibatnya, Ramos dan Varane tidak lagi tertekan untuk selalu menampilkan performa prima. Eder Militao juga bisa bermain sebagai bek kanan. Bila Carvajal dan Odriozola sekaligus cedera, Militao dapat menggantikan mereka.

Nama-nama seperti Kylian Mbabpe, Raheem Sterling, Eden Hazard, dan Sadio Mane bisa menjadi pilihan mengganti Bale akhir musim. Mereka juga berpeluang menambal celah akibat kepergian Cristiano Ronaldo sejak awal musim ini. Keempat pemain tersebut konon sedang diincar Zidane.

Paul Pogba, Nicolo Zaionolo, dan Christian Eriksen bisa menggantikan Kroos dan Modric bila mereka tidak lolos seleksi tim Zidane akhir musim nanti. 

Dalam kasus Pogba, ia sudah diincar Zidane sejak beberapa musim lalu. Namun juara dunia 2018 bersama timnas Prancis tersebut memilih pindah ke Manchester United. Bila Zidane masih tertarik merekrut Pogba, bukan tidak mungkin akhirnya ia akan pindah ke Madrid.   

Bagaimana Masa Depan Madrid di Bawah Zidane?

Untuk memperkirakan masa depan Madrid di bawah Zidane, kita perlu menggali lagi alasan kepergian Zidane, pada akhir musim 2017/2018 lalu, setelah memenangkan tiga Liga Champions, satu gelar La Liga, dan Piala Super Spanyol, serta dua Piala Super Eropa dan Piala Dunia Antar Klub.

Menurut harian AS, setidaknya, ada lima alasan Zidane meninggalkan Madrid Mei 2018 lalu. Pertama, misi hattrick Liga Champions sudah tercapai. Kedua, sinyal kelelahan dan kemerosotan semangat pemain. Sinyal tersebut terlihat di pertengahan musim saat Madrid tersingkir dari perburuan gelar La Liga dan Piala Raja.

Ketiga, ketidakpastian masa depan Ronaldo dan Bale di Madrid saat itu. Keempat, rancangan transfer Florentino Perez tidak melibatkan Zidane. Sebagai contoh, nama-nama seperti Kepa, Lewandowsky, dan Neymar bukan pemain yang diinginkan Zidane. Zidane ingin menjual Bale, tetapi Perez malah menjual Ronaldo.

Kelima, masalah personal. Kegagalan di La Liga dan Piala Raja di musim 2017/2018 lalu telah memunculkan spekulasi nama-nama seperti Joachim Loew dan Mauricio Pochettino. Rumor tersebut membuat Zidane merasa tidak lagi sepenuhnya dipercaya klub.

Lalu apa yang sudah berubah sehingga Zidane, kurang dari setahun setelah mundur, mau kembali melatih Madrid? Zidane tidak memberi jawaban yang pasti. Dalam wawancara dengan AS, Zidane memberi penjelasan yang tidak terkait antara alasan dia pergi dengan alasan dia kembali.

Zidane menyatakan alasannya pergi Mei 2018 lalu adalah karena klub, tim, dan dirinya membutuhkan perubahan. Sementara, ia kembali melatih karena cinta pada klub. 

Pertanyaannya, apakah perubahan sudah terjadi setelah ia pergi? Apakah ia kembali hanya karena cinta walaupun tim dan klub tidak berubah?

Kabarnya, Perez sudah memberi otoritas penuh untuk menangani tim kepada Zidane, termasuk dalam urusan jual-beli pemain. Perez juga berjanji akan merekrut tiga bintang besar sesuai permintaan Zidane. Sebagaimana dulu ia merekrut paket Ronaldo, Kaka, dan Benzema saat kembali menjabat sebagai Presiden Real Madrid tahun 2009 lalu.

Namun, semua masih spekulasi. Kabar tentang pemberian otoritas penuh pada Zidane belum dapat dikonfirmasi. Walaupun bisa ditebak, Zidane takkan mau kembali bila harus menghadapi suasana klub yang sama, termasuk soal otoritas. Semua bisa dinilai saat transfer musim panas 2019 nanti berjalan.

Otoritas Zidane Menentukan Masa Depan Madrid

Setelah 284 hari, Zidane akhirnya kembali melatih Real Madrid. Apakah Madrid yang ia tinggalkan dulu sudah berubah? Sejauh ini, hanya spekulasi rumor yang bisa menjelaskan. 

Berdasarkan kabar tersebut, bisa ditarik tanda-tanda ukuran masa depan cerah atau suram Los Merengues musim depan bersama Zidane.


Kemenangan 2-0 atas Celta Vigo (16/3) pada pekan ke-28 menjadi titik awal yang bagus. Isco, Marcelo, dan Navas yang tidak dipercaya Solari bermain mengesankan. Gawang Navas bersih. Isco mencetak gol. Marcelo memberi umpan untuk gol Bale.

Zidane menemukan masalah utama tim bukan pada fisik melainkan mental. Sejauh ini, ia berhasil menangani masalah mental pemain. Namun itu baru satu pertandingan. Belum bisa jadi ukuran meyakinkan bagi masa depan Madrid di bawah Zidane pada periode kedua. 

Tanda-tanda kesuksesan atau keterpurukan Zidane pada masa jabatan kedua di Real Madrid dapat ditentukan oleh aktivitas transfer musim panas 2019/2020 bulan Juni nanti. Jika Zidane mampu mendapat pemain yang tidak ia inginkan dan mendapatkan pemain pengganti, maka masa depan kedua Madrid bersama Zidane terlihat cerah.

Namun, jika Zidane tidak mulus melakukan reoriganisasi tim, kemampuan Madrid berkompetisi musim depan akan kurang lebih sama dengan dua musim terakhir. Siapa pun pelatihnya, akan sulit memenangkan gelar dengan tim yang motivasinya sudah turun.

Kewenangan reorganisasi tim bukan hanya di tangan Zidane. Bila Florentino Perez memberi otoritas penuh kepada Zidane untuk mengeksekusi operasi transfer musim depan, reorganisasi tim akan lebih mulus dijalankan Zidane. Namun bila Perez tetap menjual atau membeli pemain tanpa persetujuan Zidane, tanda-tanda kehancuran Madrid semakin nyata.

Sumber:

Artikel Terkait