Dosen
2 bulan lalu · 852 view · 3 menit baca · Politik 54633_63269.jpg

Menakar Pengaruh Ustaz Medsos untuk Prabowo

Wawancara Prabowo dengan Ustaz Abdus Somad (UAS) yang disiarkan melalui salah satu stasiun televisi dimaknai oleh banyak orang sebagai dukungan UAS kepada Prabowo.

Saat wawancara itu, UAS bercerita bahwa (1) para jamaahnya banyak yang meneriakkan Prabowo-Sandi, mengacungkan dua jari ke atas; (2) UAS bertemu dengan beberapa tokoh yang dinilainya kasyf dan menyebutkan nama Prabowo; (3) UAS memberikan tasbih kesayangannya dan parfum kepada Prabowo; (4) mendoakan semoga pemimpin Indonesia mendatang bersikap adil.

Model endorsement seperti ini sudah sering terjadi di Indonesia. Sehingga apa yang dilakukan oleh UAS bukan yang pertama dan tak perlu mengagetkan. 

Dari 4 poin itu, memang tidak ada pernyataan bahwa UAS mendukung Prabowo. Namun, tak salah juga jika beberapa orang memaknainya sebagai dukungan kepada Prabowo, terlebih jika mencermati sejumlah pernyataan UAS di beberapa kesempatan lain. 

Namun, tak lama setelah wawancara tersebut, beredar klarifikasi dalam bentuk video dan teks dari UAS yang menyatakan bahwa dukungan UAS kepada Prabowo adalah hoaks.


Hal tersebut bisa dimaknai bahwa UAS ingin memberikan tanda kepada jemaahnya bahwa ia bersama Prabowo. Kenapa ini penting? Karena sebagian besar jemaah UAS adalah pendukung Prabowo. Sehingga dengan cara itu, para jemaahnya tidak berpindah ke lain hati. 

Namun, di sisi lain, dengan memberikan klarifikasi bahwa ia memberikan dukungan kepada Prabowo adalah hoaks itu bisa terjadi karena dua hal; (1) UAS adalah PNS yang menurut UU harus netral; ia tak ingin di kemudian hari bermasalah terkait dengan status sebagai PNS; (2) menggaet jemaah dari kelompok non-Prabowo untuk masuk ke dalam lingkup jemaahnya.

Karena itulah tak berlebihan jika dikatakan bahwa UAS adalah seorang ustaz yang piawai secara politik. Betapa tidak, di suatu waktu, ia menyerukan khalifah Islam; di podium lain, ia menegaskan Pancasila sebagai dasar negara. 

Lagi, pada saat tertentu, ia menegaskan hanya percaya kepada tokoh-tokoh NU Garis Lurus seperti Ustaz Idrus Romli; dan di saat yang lain, ia kemudian sowan kepada KH. Maemon Zubair dan Habib Lutfi. 

Di hadapan jemaah X, UAS seakan menjadi bagian dari jemaah tersebut; dan di hadapan jamaah Y, ia seakan menjadi jemaah itu pula. 

Karena itulah orang yang mengamati secara jernih tentang sikap dan pernyataan politik UAS akan menemukan inkonsistensi. Hal ini bisa dimaklumi agar popularitas tak redup, tetapi terus membesar, sehingga diharapkan bisa memberikan pengaruh yang lebih besar. 

***

Tak lama setelah UAS, Ustaz Adi Hidayat pun, melalui Instagram, mem-posting foto bersama Prabowo. Sama seperti UAS, UAH juga memegang dada sebelah kiri Prabowo.

Sontak saja, sebagian besar para jemaahnya bangga terhadap keputusan UAH tersebut. Sama seperti UAS, UAH juga ingin memberi penegasan kepada jemaahnya bahwa ia juga bersama Prabowo. Sehingga, para jemaahnya yang selama ini memang mendukung Prabowo akan makin punya sandaran dengan adanya penegasan dari UAH. 


Mungkin ke depan akan ada ustaz-ustaz selebritas lainnya yang melakukan hal yang sama.

Kesamaan antara UAS dan UAH adalah keduanya menempelkan tangan kanannya ke dada Prabowo. Ini bisa dimaknai bermacam-macam. Ada yang mengartikan semacam "ijazah" kepada Prabowo untuk belajar Islam dengan benar, apalagi diakhiri dengan pemberian tasbih agar Prabowo kerap berzikir. 

Sayangnya, UAS dan UAH tidak mendikte dan membimbing doa apa yang harus dirapalkan oleh Prabowo. Sebagian yang lain memaknainya agar Prabowo lebih kalem, tidak mengedepankan emosi dan kemarahannya. Tentu saja, kita semua bisa memiliki interpretasi yang berbeda-beda.

***

Lalu, apa dampak dari dua peristiwa tersebut? Apakah kemudian para jemaah UAS dan UAH akan tumpah ruah mendukung Prabowo? Tentu saja tidak. 

Jemaah kedua ustaz tersebut memang sebagian besar pendukung Prabowo. Akan tetapi, beberapa jemaah lainnya akan memiliki pendirian yang berbeda. Karena, para jemaah banyak yang sudah tersadarkan bahwa pilihan politik itu bersifat independe, tak harus mengekor ke UAS dan UAH. 

Sama seperti penggemar Nissa Sabyan yang tak semuanya memiliki pilihan yang sama dengan Nissa. Seseorang bisa menjadi fans UAS, UAH, ataupun Nissa Sabyan, tetapi, di saat yang lain, pilihan politiknya berseberangan dengan ketiga tokoh tersebut.

Suara umat Islam Indonesia tidak mudah dikandangkan hanya berdasarkan pertimbangan agama. Buktinya, partai politik (parpol) yang mengeklaim diri sebagai parpol islam, seperti PKS dan PPP, hanya menempati posisi tengah dari sudut pandang perolehan suara. 

***


Secara timing, penegasan diri bersama Prabowo yang dilakukan oleh UAS dan UAH cukup terlambat di mana masyarakat sebagian besar sudah menentukan pilihan politiknya. Kubu Prabowo pun memiliki waktu yang terbatas untuk mengapitalisasi dukungan ini secara maksimal.

Popularitas UAS dan UAH di media sosial tak sepenuhnya mengakar ke kalangan rakyat paling bawah, sebagai kelompok paling besar. Di kalangan rakyat bawah, tokoh-tokoh langgar, surau, dan pengajian memiliki suara yang lebih nyaring ketimbang ustaz media sosial.

Artikel Terkait