Meminjam istilah Agus Mansyah, Nasionalisme adalah suatu paham atau ajaran untuk mencintai bangsa dan negara atas kesadaran keanggotaan/warga negara yang secara bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabdikan identitas, integritas, kemakmuran dan kekuatan bangsa (Agus Mansyah, 2017). Isu nasionalisme kerap diangkat, dimainkan dan dinegosiasikan di wilayah perbatasan. 

Daerah yang berbatasan langsung dengan negara luar rentan akan konflik antarnegara manakala diantara keduanya tidak menjalin hubungan yang baik. Bagaimana tidak mereka berinteraksi secara sosio-budaya, ekonomi hingga persoalan politik. Sehingga, interaksi masyarakat perbatasan yang intens ini berpotensi melahirkan kecenderungan yang berbeda dengan masyarakat non perbatasan.

Satu diantara wilayah yang bersentuhan langsung dengan negara lain adalah desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas. Secara administratif, wilayah Utaranya berbatasan dengan Laut Natuna Selatan, sebelah Selatan berbatasan dengan Sebubus, sebelah Barat berbatasan Laut Natuna Selatan dan Timur berbatasan dengan Melanao, Malaysia.

Menurut hemat penulis, untuk lebih memudahkan dalam mengetahui eksistensi nasionalisme masyarakat perbatasan, secara sederhana dapat dicermati dari sejarah, sosial-budaya, ekonomi, politik dan ketahanan, kependudukan, dan sikap masyarakat terhadap perkembangan Temajuk.

Sejarah Terbentuknya Temajuk

Menilik sejarah asal muasal desa Temajuk, ternyata dilatarbelakangi oleh perjuangan warga pendatang yang membawa rombongan berbondong-bondong. Menurut Haji Gapur, salah satu warga yang tergabung dalam rombongan tersebut, mengatakan bahwa di tahun 1981 silam rombongan mereka dipimpin oleh Haji Safari datang ke Temajuk. Kira-kira berjumlah 20-an orang. Mereka menggunakan jalur laut memakan waktu berjam-jam perjalanan, dihantam gelombang, sama sekali tak menyurutkan semangat mereka membangun pemukiman.

Pembukaan lahan oleh Haji Safari beserta rombongan menggunakan alat apa adanya, menebang pohon-pohon dan hutan-hutan yang belum terjamah manusia. Memerlukan waktu berbulan-bulan agar tanah hutan lapang. Oleh karena itu, untuk sementara waktu mereka menetap di tepi pantai dekat dermaga tua di Camar Bulan. Setelah lahan sudah luas dan layak dihuni mereka membawa keluarga dari kampung asal.

Periode berikutnya, terus berdatangan warga dari kampung luar. Mereka menetap di Temajuk. Temajuk baru dikenal masyarakat luas bahkan manca negara atas inisiatif warga menjadikannya sebagai destinasi wisata. Hingga akhirnya Temajuk sampai sekarang dikenal dengan istilah surga di ekor borneo.

Cerita lain datang dari Hatta, penduduk yang datang pada periode ketiga tahun 1983. Menurut pemaparannya, istilah Temajuk diambil dari peristiwa yang pernah terjadi di daerah ini. Orang-orang komunis datang ke Indonesia dari Malaysia, disebutlah sebagai Temajuk (Tempat Masuk jalur komunis) sebelum meletusnya Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S PKI). 

Konon, daerah yang dikenal sebagai dermaga sekarang ini adalah lokasi pembantaian komunis yang merusak nasionalisme berbangsa. Siapapun yang terjangkit pemikiran komunis dibantai habis-habisan.

Sejarah lain yang menyebutkan asal muasal nama Temajuk adalah sebagaimana yang diinformasikan Haji Mahjoni saat berdiskusi dengan penulis. Beliau mengatakan Temajuk sebenarnya berasal dari kata Majuk, yang artinya makan kenyang. Alasan beliau menjelaskan demikian disebabkan banyaknya orang-orang luar yang datang berburu binatang liar dan mengambil makanan di hutan Temajuk. Sumber daya alam yang melimpah ruah membuat mereka merasa kenyang jika mengambilnya, maka disebutlah dengan istilah makan kenyang.

Apapun alasan dan latar belakang terbentuknya Temajuk, sulit bagi kita untuk mencari kebenaran itu. Apalagi banyak versi yang menyebutkan dari masing-masing pola pikir dan periode kedatangan warga.

Sebaran Sosial-Budaya 

Berdasarkan data monografi Desa Temajuk tahun 2018, penduduk didominasi oleh suku Melayu beragama Islam, selebihnya Hindu. Corak interaksi antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain masih mengedepankan kekeluargaan, gotong royong, dan membantu satu sama lain. Semua itu diterapkan pada seluruh kegiatan budaya Sambas yang beredar disana. Misalnya acara pernikahan, tepung tawar, sunatan, bepepas, dan acara kematian beserta peringatannya.

Acara pernikahan masyarakat Temajuk tidak jauh berbeda dengan masyarakat Sambas pada umumnya. Sebelum acara kenduri dilaksanakan mereka saling membantu satu sama lain dalam hal menyediakan alat dan bahan yang diperlukan saat prosesi digelar, membuat tarup yang memanjang tempat tamu undangan, serah terima arisan persatuan pernikahan, hingga kerja sama mengemaskan alat dan bahan yang terpakai diakhir acara perhelatan.

Adapun letak perbedaan antara masyarakat perbatasan dengan non-perbatasan dari sudut pandang sosio-budaya adalah adanya partisipasi masyarakat negara luar, dalam hal ini adalah melayu Melanao, Malaysia. Tidak sedikit diantara mereka ikut serta dalam acara-acara yang dilaksanakan warga Indonesia.

Keberadaan sosio-budaya masyarakat Temajuk dengan Melanao tidak serta merta terakulturasi. keduanya memperlihatkan ciri khas tersendiri. Sehingga interaksi mereka masih terjalin erat walaupun berbeda negara.

Ekonomi Masyarakat Perbatasan

Data yang tercatat di pemerintah desa Temajuk menyebutkan pertanian merupakan mata pencaharian terbesar dengan jumlah 2175 orang disusul pedagang sebanyak 85 orang, Nelayan 68 orang, PNS 14 orang, TNI 6 orang, dan pensiunan PNS berjumlah 2 orang.

Lada merupakan penghasilan terbesar dari sektor pertanian.. Menurut Misda salah seorang warga yang sedang menjemur ladanya ketika ditemui penulis. Ia menuturkan bahwa lada menjadi tanaman yang diandalkan mereka untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Lada yang sudah dipanen dan dijemur dibawa ke pengepul untuk dijual. Pengepul berasal dari daerah Indonesia dan Malaysia. Misda mengakui bahwa menjual lada ke Malaysia lebih murah ketimbang di Indonesia. Hal ini dikarenakan nilai tukar Ringgit Malaysia yang berbeda dengan Rupiah Indonesia. Dia sendiri lebih sering menjual lada miliknya ke orang Malaysia.

Selain lada, produk sembako Malaysia yang murah menjadi incaran masyarakat Temajuk. Salah satunya gula. Gula Malaysia yang murah tersebar luas hampir di seluruh toko sembako yang ada di Temajuk. Harga mahal dan akses yang jauh dari ibu kota provinsi menjadi sebab Masyarakat tak mau pindah hati pada gula produk dalam negeri.

Nelayan pun demikian, sektor perikanan menyumbang pendapatan masyarakat yang cukup tinggi. Beberapa hasil tangkapan masyarakat diarahkan untuk dijual kepada orang Malaysia karena akses yang dianggap jauh lebih dekat, tapi tak sedikit juga yang dijual ditanah air sendiri.

Dampak dari penjualan hasil perekonomian masyarakat tersebut adalah digunakannya mata uang ganda. Nilai tukar Ringgit Malaysia jika dikonversikan ke Rupiah jauh lebih besar, sehingga banyak masyarakat Indonesia memilih bertransaksi menggunakan Ringgit Malaysia karena lebih menguntungkan. Penggunaan mata uang ganda masyarakat perbatasan Temajuk hingga sekarang tidak bisa terpisahkan dan masih diterapkan.

Politik dan Ketahanan

Konflik perbatasan yang terjadi di perbatasan-perbatasan Indonesia telah banyak memberikan pelajaran bagi kedaulatan NKRI. Dinamika Timur Leste cukup menjadi contoh akan pentingnya nasionalisme di ujung negeri. Gerakan Papua merdeka juga tak kalah memberi arti bahwa cinta tanah air harus dimiliki semua komponen masyarakat.

Temajuk sendiri menurut pengakuan beberapa warga sempat terjadi pertikaian beberapa tahun lau, dikenal dengan konflik Camar Bulan. Nama Camar Bulan tiba-tiba mencuat ke permukaan di media-media Indonesia pada bulan oktober 2011 mengenai adanya informasi hilangnya patok batas diwilayah perbatasan oleh warga desa Camar Bulan sehingga dilakukan pengecekan oleh anggota DPR. 

Dari pengecekan tersebut memang benar ditemukan adanya bongkahan patok yang hilang sehingga mengakibatkan sebagian wilayah Camar Bulan masuk wilayah Malaysia sebanyak 1.449 Ha. Selain hilangnya patok perbatasan, upaya Malaysia atas sebagian wilayah Camar Bulan juga dikuatkan dengan adanya patroli kemanan diraja Malaysia yang seringkali masuk kedalam wilayah Indonesia. 

Hal tersebut diinformasikan oleh  warga dusun Camar Bulan yang sedang beraktifitas cocok tanam diladang dekat perbatasan.Para petani warga dusun Camar Bulan secara langsung diusir dari ladang mereka oleh sebagian Tentara Malaysia yang sedang berpatroli dan mengatakan kepada petani bahwa wilayah tersebut merupakan wilayah Malaysia. (Haris Ma’ani, 2015)

Beruntung kini konflik tersebut tidak terlalu dibesar-besarkan lagi ditengah-tengah masyarakat Temajuk. Kenyataannya hubungan antara warga Malaysia dan Indonesia baik-baik saja, tidak menaruh dendam satu dengan yang lain. Penduduk Temajuk bahkan sering berlalu lalang ke daerah Malaysia, begitu pula dengan orang-orang Malaysia kadang mereka belanja di wilayah Indonesia.

Kependudukan 

Jumlah penduduk di desa Temajuk berdasarkan kewarganegaraan yang dikutip dari data monografi desa terdiri dari 1183 WNI laki-laki, 1106 WNI perempuan, 10 WNA laki-laki, dan 11 WNA perempuan. Adanya warga negara asing yang menetap berdasarkan informasi yang tersebar disebabkan warga Malaysia yang menetap di Indonesia karena ikatan pernikahan dengan warga Indonesia.

Jumlah penduduk setiap tahunnya tidak stabil. Ketidakstabilan ini dilatarbelakangi oleh sebagian kecil warga Indonesia menikah dengan warga Malaysia lalu memilih berpindah kewarganegaraan dengan alasan yang beragam. Mengikuti keinginan istri atau bahkan meyakini bahwa potensi perekonomian Malaysia lebih menjanjikan ketimbang Indonesia. Disamping itu, adapula warga Malaysia yang mengganti kewarganegaraannya menjadi Indonesia pun karena faktor yang sama.

Sikap Warga terhadap Perkembangan Temajuk

Belakangan ini, Temajuk telah mengalami pertambahan penduduk dan perkembangan pembangunan insfrastruktur. Rumah-rumah yang telah didirikan warga membenarkan bahwa wilayah Temajuk semakin diminati oleh penduduk luar. Penduduk Temajuk didominasi oleh orang-orang yang berasal dari kecamatan Jawai. Adapun dari segi insfrastruktur pelebaran jalan telah lama diupayakan, hingga kini beberapa jalur sudah teraspal. Demikian pula dengan pembangunan jembatan. Tugu pancasila dan patung Soekarno yang berada di Camar Bulan menjadi ikon yang sering dikunjungi wisatawan. Adalagi rumah penginapan yang kian bertambah di tepi-tepi pantai dusun Maludin.  

Penginapan juga bertambah jumlahnya, masing-masing memiliki bentuk dan keunikan tersendiri untuk menarik minat pengunjung. Tarif penginapan menurut informasi yang tersebar juga mengalami kenaikan. Mulai dari Rp.50.000 bahkan mencapai Rp.200.000 permalam.

Sikap-sikap masyarakat terhadap pembangunan yang telah dan sedang berjalan diatas ditanggapi dengan baik oleh masyarakat sekitar. Dilain sisi, ada juga yang merasa kecewa dengan pemerintah setempat karena kurang transparan dalam mengeksekusi berjalannya proyek pembangunan. Misalnya proyek pembuatan pasar di dusun Camar Bulan baru-baru ini, meskipun anggaran dikeluarkan seutuhnya oleh pemerintah, warga merasa dikecewakan karena tidak adanya pemberitahuan secara rinci. 

Seperti yang dikeluhkan Syarif, mantan kawur desa Parit Setia, Kecamatan Jawai yang sudah lama menjadi warga Temajuk ini mengungkapkan kekesalannya atas tidak adanya pemberitahuan dari pemerintah pusat maupun pemerintah desa terkait pembangunan pasar yang sedang berjalan. Beliau menegaskan bahwa seharusnya segala sesuatu yang berurusan dengan desa hendaknya diinformasikan kepada masyarakat luas agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Terlepas dari itu semua, pembangunan objek wisata seperti rumah terbalik dan penginapan-penginapan yang megah didominasi oleh Cina sebagai pemiliknya. Sebagaimana yang dikisahkan oleh Faizal selaku kepala dusun Maludin. Menurut Faizal Cina telah banyak membeli tanah kepada warga setempat terutama yang berlokasi di tepi pantai. Tujuan mereka adalah membangun villa dan menata lahan seindah mungkin untuk menarik wisatawan.

Objek wisata yang dikembangkan etnik Cina tersebut mendapat kecaman dari masyarakat yang tidak rela daerah Temajuk dikuasai orang asing, apalagi oleh bangsa komunis ini. Seperti yang dikatakan Syarif, menurutnya pemerintah desa belum maksimal menjaga keutuhan Temajuk dari orang-orang asing. Hal ini disebabkan tidak adanya peraturan yang menindaklanjuti secara pasti. 

Syarif menyarankan agar regulasi desa dibuat sedemikian rupa guna menjaga sektor pariwisata dari penguasaan asing. Selain itu, ia juga menambahkan akan perlunya pendataan terhadap pengunjung yang datang. Pendataan itu dimaksudkan sebagai upaya pengamanan dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Faizal sebagai orang yang berada di kepemerintahan desa memaklumi komentar masyarakat mengenai polemik yang terjadi. Perihal peraturan desa yang berhubungan dengan usaha-usaha orang asing yang tersebar di wilayah Temajuk tidak bisa dibuat begitu saja. Indonesia sebagai negara demokrasi tak bisa memihak hanya kepada satu suku melulu. Ia menegaskan, apabila peraturan tersebut diberlakungan, secara tidak langsung telah berbenturan dengan isu Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan (SARA) yang dapat memecah persatuan dan kesatuan bangsa.

Pun masyarakat secara keseluruhan belum kompak, beberapa diantara mereka memandang bahwa menjual tanah dengan tawaran harga yang mahal jauh lebih menguntungkan dibanding mempertahankan dan mengelola tanah sendiri. Inilah yang menjadi faktor terbesar mengapa kemudian wilayah Temajuk perlahan didominasi oleh orang-orang asing.

Menyaksamai inti dari penjabaran aspek-aspek diatas, dari sejarah hingga sikap warga terhadap perkembangan yang ada. Maka, dapat ditarik kesimpulan bahwa nilai-nilai pancasila yang mengarahkan pada penanaman nasionalisme, sebagian besar masih terjaga di daerah perbatasan Temajuk.

Meskipun aspek ekonomi menampakkan ketergantungan terhadap Malaysia, bukan berarti mereka tidak memiliki jiwa nasionalisme. Faktanya, aspek-aspek yang lain menunjukkan bahwa mereka sangat mencintai tanah air. Ketergantungan terhadap Malaysia dalam bidang ekonomi sekadar untuk memenuhi kebutuhan dengan mencari alternatif penghasilan yang lebih besar. Kondisi seperti ini bukanlah perkara yang krusial, sebab tidak berdampak pada terkikisnya jiwa nasionalisme mereka terhadap Indonesia tercinta. Oleh karena itu, tak berlebihan jika masyarakat temajuk kita sebut sebagai masyarakat sadar nasionalisme.