Terlepas dari merdeka belajar adalah suatu merk dagang. Metode pembelajaran untuk anak-anak zaman milenial harus berbeda dengan cara pembelajaran kita saat ini, karena  anak-anak milenial ini kelak akan menghadapi keadaan generasi next, kemungkinan skillnya sudah tak relevan lagi. Ketika mereka hanya di beri pengetahuan tentang era milenial saja --keadaan sekarang-- maka ketika menghadapi fase berikutnya tak siap (generasi next).

Metode Pendidikan Abad 21

Praktisi pendidikan harus segera membuat kurikulum baru sesuai dengan rumusan masalah diatas, agar pembelajaran menjadi fasilisator pendidikan abad 21. Untuk meningkatkan skill, kemungkinan skill era milenial sudah tak relevan lagi dalam menghadapi generasi next.

Ada kemungkinan beberapa profesi nanti di generasi next yang sudah tidak relevan lagi karena di prediksi akan hilang : yaitu Guru, kasir, travel, marketing, pustakawan, penerjemah, jurnalis, teller dan akuntan. (Merdeka.com,2020)

Sementara ketika sekarang pembelajaran hanya ingin mengejar profesi di atas ketika di generasi next sudah tak relevan lagi, maka pendidikan jadi akan sia-sia saja, tetapi tetap berpendidikan ada titik manfaatnya.

Ada beberapa profesi di generasi next yang masih bertahan dimasa yang akan datang dan masih laku. Seperti ahli matematika, programer, ahli pemasaran, perancang busana, ahli kesehatan dan kosultan keuangan. (Kompas.com, 2019)

Metode pembelajaran kita harus sudah siap dengan keadaan di masa yang akan datang, melalui merdeka belajar dan metode STEAM (Sains Technology Engineering Art Math). Jadi, seperti kata kritikus Ivan Illich pendidikan kita hari ini yang di pelajari di lembaga pendidikan tidak relevan untuk menghadapi permasalahan yang ada di lingkungan. --ilmu dari perpustakaan balik lagi ke perpustakaan.

Metode STEAM

Pembelajaran abad 21 baiknya menggunakan metode (STEAM) Sains Technology Engineering Art Math, diantara komponen itu harus saling berhubungan. Komponen dari STEAM dapat memunculkan ide inovasi untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, kita di ajarkan untuk saling toleransi, tetapi kenyataanya melihat berita banyak kasus intoleransi. Jadi, pelajaran yang di berikan tidak sesuai dengan kenyataan. Kita buat simulasi, jika hasil dari pendidikan kita untuk menyelesaikan masalah yang ada di Negara ini, maka Negara akan terbantu. Banyak tiap tahun lulusan S1, S2, dan S3 berapa Skripsi, berapa Tesis, dan berapa Disertasi sudah dibuat, seandainya pembahasanya untuk memecahkan masalah yang ada di Negara ini, maka ribuan masalah akan terselesaikan --hanya dari perpustakaan kembali ke perpustakaan.

Komponen STEAM juga bisa memunculkan kritis terhadap kehidupan sehari-hari, tidak menerima begitu saja yang sudah ada lebih dulu. Kalau hanya menerima dari pemikiran para pendahulu terus manfaat kita apa selama belajar kalau tidak kritis lalu memunculkan konsep baru.

Mengapa STEAM harus dikenalkan pada pembelajran anak usia dini sekarang --era milenial. Karena STEAM mengajarkan ketrampilan seperti kerjasama, ketekunan, kreatifitas dan kecerdasan. Hasil akhir STEAM, anak terlibat dalam pembelajaran, memiliki pengalaman, bertahan dalam masalah, dapat melaksanakan kolaborasi dan dapat melalui proses yang kreatif.

Sudah tepat apabila Blended Learning di terapkan pada proses pembelajaran bagian dari pada metode STEAM, sebelum melakukan pertemuan tatapmuka butuh pengantar lewat pembelajaran secara virtual. Ketika sudah pertemuan tatap muka tinggal belajar kritis, argumentatif bagi peserta didik, pendidikan abad 21 guru bukan satu-satunya sumber utama ilmu pengetahuan.

Lebih tepatnya pendidikan abad 21 multi literasi, peserta didik merdeka belajar dengan berbagai sumber. Guru hanya menambahkan ketika pada pertemuan sesi tatap muka, karena sudah di arahkan pada pertemuan secara virtual. Merdeka belajar adalah kemerdekaan berpikir.

Menakar Merdeka Belajar

Merdeka belajar adalah salah satu program pendidikan yang  ingin menciptakan suasana belajar yang bahagia, bahagia untuk guru, peserta didik, dan orang tua. Tujuanya agar suasanya pembelajaran menciptakan suasana yang membahagiakan, tentunya kita sering melihat peserta didik sangat bahagia seandainya besok hari libur --berarti selama pembelajaran membosankan.

Lahirnya merdeka belajar tidak terlepas dari banyaknya keluhan, peserta didik di patok oleh nilai-nilai --di anggap sudah berpendidikan ketika dapat nilai di atas KKM. Pendidikan hari ini kok jadi ajang patok-patok nilai.

Perspektif kemerdekaan itu bukan sekadar kepatuhan atau perlawanan, kemerdekaan itu bukan sesuatu yang diberikan tetapi sesuatu yang di perjuangkan. Dimana ada titik guru selalu di salahkan, hampir dalam situasi tertentu guru selalu di anggap sebagai kunci padahal bukan seperti itu --dianggap semua permasalahan pendidikan guru yang bertanggung jawab.

Merdeka belajar dan guru penggerak bukanlah sesuatu yang baru dalam dunia pembelajaran. Penganut ideologi humanistik dalam pembelajaran telah mendikusikan secara mendalam dua tema tersebut lebih dari setengah abad yang lalu. Pada tahun 1969 Carl Rogers mempublikasikan sebuah buku berjudul “Freedom to Learn”. Pada pengantar buku tersebut, Lima puluh tahun lalu, ia mengatakan, “Sekolah kita umumnya sangat tradisional, konservatif, birokratis dan resisten terhadap perubahan. Satu cara yang harus dilakukan untuk menyelamatkan generasi muda ini adalah melalui kemerdekaan belajar”.

Pada tahun 1962 Everett M. Rogers menulis buku berjudul “Diffusion of Innovation” dimana pada buku tersebut memuat satu bab tersendiri tentang pengerak atau agen perubahan. (intens.news, 2020)

Strategi pembelajaran yang memerdekakan, menekankan pada penggunaan pengetahuan secara bermakna dan proses pembelajaran lebih banyak diarahkan untuk meladeni pertanyaan atau pandangan siswa. Aktivitas belajar lebih menekankan pada ketrampilan berfikir kritis, analisis, membandingkan, generalisasi, memprediksi, dan menyusun hipotesis. Dapat memecahkan masalah, tidak di tuntut jawaban yang benar.