Sebuah bidang ilmu pengetahuan pastilah memerlukan sebuah sumber bahan sebagai dasar keilmuan tersebut. Salah satu sumber tersebut berasal dari manuskrip/tulisan tangan para tokoh cendekiawan di masa lalu. Tulisan pada masa lalu tentunya bukanlah hal yang mudah untuk diterjemahkan ke dalam bahasa pembaca masa kini, oleh karenanya filologi hadir sebagai alat untuk menganalisis manuskrip para tokoh ilmuwan di masa lalu.

Filologi secara etimologi berasal dari dua kata bahasa Yunani Kuno yaitu philos yang berarti love atau cinta, dan logos yang berarti pelajaran atau ilmu pengetahuan. Kata filologi sendiri masuk ke dalam kosa kata bahasa Inggris pada abad ke-16, dalam pengertiannya "love of literature" yang berarti "menyukai kesusastraan."

Dari pengertian tersebut maka dapat ditarik garis besar bahwa seorang filolog semestinya merupakan orang yang mencintai ilmu pengetahuan. Namun nyatanya pembelajaran filologi saat ini mungkin kurang diminati masyarakat karena terkesan usang, kuno, tidak relevan dengan tren masa kini. Sehingga hal ini dianggap kurang bermanfaat oleh sebagian masyarakat yang lebih condong kepada ilmu pengetahuan lainnya seperti: ekonomi, sosiologi, manajemen, dan ilmu yang memiliki peminat yang tinggi.

Namun, bagi orang yang telah mendalami pembelajaran ilmu filologi pastinya memiliki pandangan lain, bagi mereka yang telah mendalami ilmu filologi pastinya memiliki pendapat bahwa ilmu filologi sangatlah penting bagi perkembangan keilmuan masa kini bahkan masa depan.

Hal ini dikarenakan semua manuskrip itu tidak hanya semata-mata berisi tentang sejarah ataupun sastra, akan tetapi semua disiplin ilmu juga terdapat dalam manuskrip itu, sehingga tentunya ilmu filologi ini menjadi sebagai jembatan keilmuan masa lalu yang diaplikasikan dengan bahasa yang mudah oleh para filolog untuk para pembaca masa kini.

Dalam tradisi bahasa Arab dikenal dengan tahqiq, yaitu filologi itu sendiri, yang mana seorang filolog diharuskan gemar untuk membaca naskah-naskah terdahulu guna menyunting sebuah naskah sehingga memiliki wawasan yang luas akan manuskrip yang  ia analisa.

Filologi itu sendiri menurut Henri Chambert Loin adalah sebuah alat dan bukanlah sebuah tujuan. Oleh karenanya banyak filolog yang menganalisis sebuah manuskrip walau isi yang terkandung hanyalah sesuatu yang remeh bahkan tak memiliki manfaat.

Seorang filolog mestilah mempunyai kemampuan untuk mengoreksi atau memperjelas manuskrip yang ia teliti, seperti: perbedaan huruf, menemukan titik yang hilang atau kurang dari sebuah huruf, ditambah dengan kemampuan kodikologi dalam menerawang warna kertas, cat air dan hal lainnya mengenai fisik suatu manuskrip tersebut.

Seorang filolog harus memiliki wawasan yang luas sehingga mempunyai data dalam menyimpulkan sebuah manuskrip tersebut.  Filologi kadang juga dikaitkan dengan higher critism, yaitu kajian teks yang tinggi serta akurat dan berusaha semaksimal mungkin mengurangi kesalahan penerjemahan dalam usahanya ketika menganalisis sebuah manuskrip.

Lalu, bagaimanakah manuskrip tersebut dapat dijadikan landasan dalam pengetahuan  pada masa kini?

Peran manuskrip sebagai jembatan pengetahuan masa lalu hingga masa kini, ternyata memiliki korelasi yang bahkan bisa terjalin pada hampir seluruh aspek pengetahuan. Tentu bukan hal yang tabu lagi jika hal itu juga berkaitan dengan pengetahuan keislaman. Hal tersebut ternyata dibuktikan dengan banyaknya manuskrip keislaman yang bertebaran di dunia.

Hal ini diungkapkan oleh peneliti dari barat yaitu, Stephan Roman, direktur British Council regional Asia Selatan. Dalam laporannya, The Development of Islamic Library Collections in Western Europe and North America yang mengklasifikan kategori manuskrip Islam.

Dalam tulisannya ia menyebutkan bahwa manuskrip keislaman tidak hanya terbatas pada Al-quran, hadist, fiqih, dan lainnya. Namun hal ini juga meliputi berbagai pengetahuan lain yang berisikan aspek keislaman di dalamnya seperti: ilmu sastra, filsafat dan astrologi pun dapat dikategorikan manuskrip Islam.

Menurutnya, sebuah manuskrip bisa dikategorikan manuskrip Islam jika ditulis oleh seorang muslim atau bahkan struktur komunitas Islam. Dengan kata lain manuskrip ini ditulis dalam tradisi intelektualisme Islam  oleh orang muslim, kesultanan Islam, pondok pesantren, komunitas Islam dan lain lain.

Oleh karenanya peran ilmu filologi sangatlah penting dalam menjembatani pengetahuan masa lalu kepada penikmat pengetahuan pada masa kini, khususnya dalam bidang keagamaan. Seperti yang kita tahu banyak sekali ulama pada masa lalu yang berkompeten di dalam bidangnya masing-masing, sehingga tentunya perlu akses bagi pembaca masa kini untuk mempelajari karya-karya ulama tersebut.

Karenanya perlu langkah tepat pula dalam menjaga keutuhan fisik dari manuskrip itu sendiri. Prof. Oman Fathurrahman, menuturkan bahwa penyelamatan manuskrip itu ada 2 yaitu: penyelamatan fisik dan isinya. 

Maka, kita harus memiliki kemauan untuk penyelamatan sumber primer tersebut yaitu manuskrip itu tersendiri.

Pada saat ini banyak sekali manuskrip keislaman yang bertebaran di dunia, salah satunya terdapat di Asia Tenggara, sebuah wilayah yang masyarakatnya memiliki keragaman ras yang tinggi, mereka memiliki ribuan etnis berbeda yang tinggal sekitar kawasan Indocina dan sekitarnya. 

Kawasan Asia Tenggara bisa disebut sebagai sebuah laboratorium hidup bagi keilmuan manusia, maka jikalau kita menilik pada suku dan ras pada Asia Tenggara terdapat agama-agama besar yang saling hidup berdampingan.

Hal tersebut terlihat dari para masyarakatnya yang terdiri dari berbagai etnis, hampir semua agama tersebut hidup dan berkembang di Asia Tenggara. Oleh karenanya Asia Tenggara disebut sebagai laboratorium hidup bagi orang-orang yang mempelajari keberagaman yang ada di dunia ini.