Antonio Guteres kala memimpin rapat PBB pada Selasa,(21/09/2021), ada petunjuk atas keresahan dari negara-negara atas solidaritassosial dan kesenjangan ekonomi. Solidaritas sosial skala global yang menurutnya–menghilang, menjadi topik menarik, kala dunia sedang tergopoh-gopoh menghadapiefek pandemi. Tidak hanya itu, permasalahan iklim sebagai bentuk keprihatinandunia dengan kondisi hari ini.

Ditambah, aura perang dingin mulai kembali memanaspaska Amerika Serikat, Inggris dan Australia membentuk (AUKUS), untukmembentengi pengaruh Tiongkok atas hegemoninya yang begitu kuat baru-baru ini.Kata yang paling menyentil ketika keluh kesah Guteres yaitu; para miliyunerdunia memikirkan diri mereka sendiri seperti; berlomba-lomba ekspedisi keluarangksa disamping rakyat global yang masih menderita akibat pandemi.

Di Indonesia, masih disibukan dengan pembalakan lahanbesar-besaran untuk membangunan lapangan pekerjaan. Harapannya bisa menjadi ruangbagi para penganggur agar bisa bekerja. Pembalakan lahan dan minimnyakematangan pada analisis dampak lingkungan, seperti memilih opsi gambar koin,salah satunya akan tertutup atau dicampakan.

Liberalisme Pasar 

Regulasi global perihal investasi dan liberalisasi pasar, menekan beberapa negara untuk membuka pasarnya lebar-lebar. Kegunaan dari investasi sebagai pelumas perputaran perekonomian tentu saja menggiurkannegara untuk membuat ekonominya tak kecut dan bisa berpacu di pasar global.

Tahun 2019 lalu, Area Asia Tenggara dibidik olehinvestor. Thailand, India, dan Vietnam menjadi target empuk dan diperhitungkanoleh para investor untuk menanamkan modalnya. Indonesia yang kurang dilirik, pada hari ini membuktikan dengan baik, sebagai target empuk investor untukpembangunan.

Ketika perjanjian wesfalen di sepakati pada abad ke-18,Karl Polanyi menjabarkan peranan kekuasaan atas status geopolitik berpengaruhpada regulasi perekonomian secara global. Di abad ini, Organisasi WorldEconomic Forum (WEF) memberikan nomenklatur pembangunan melalui GlobalCompetitive Index (GCI) seperti; infrastruktur, ketenagakerjaan dan produkpasar, agar perlu dilaksanakan.

Hari ini, negara tercinta Indonesia hampir melaksanakan nomenklatur yang dibuat oleh WEF itu. Apakah sudah selesai gebrakan yang dilakukan bagi kesejahteraan dan kemakmuran bangsa ini? Tentu saja, perlu pengamatan secara kritis pengaruhnya terhadapa kondisi lingkungan hari ini.

Pada (09/08/2021) Panel Lintas Pemerintah untukPerubahan Iklim (IPCC), melaporakan perubahan iklim menciptakan gelombang panasyang mengakibatkan perubahan cuaca ektrim hingga peningkatan air laut karenamencairnya es di kutub selatan. Hal tersebut dikarenakan oleh tergantungnyasumber daya fosil dan berimbas pada peningkatan emisi karbon.

Pembalakan lahan hijau dengan digantikan oleh beton dan rumah industri besar, perlu adanya analisis kritis teruntuk kepada lingkungan. Bila saja, angka-angka kesejahteraan menjadi patokan saklek, sehingga mengenyahkan perihal kelestariaan lingkungan, maka yang terjadi akan lebih parah. Munculnya masalah baru seperti kerusakan dan munculnya ancaman penyakit baru tentu tak bisa dihindarkan.

David Ricardo dengan teori spesialisasinya seolah-olah menginstrusikan kita untuk bisa memfokuskan kapabilitas dengan dikelola secara bijaksanan untuk pemenuhan permintaan (demand) dalam pasar. Spesialisasi tersebut akan mengarahkan keunggulan komparatif yang berdampakbagi ekspor dan impor. Tentu saja, untuk mendukung itu semua, harus bisamemproduksi produk secara besar untuk ditawarkan ke pasar.

Kekayaan sendiri ada dua aspek yaitu kekayaan yang dibuat manusia dan kekayaan yang sudah ada Sumber Daya Alam, (SDA). Kekayaan SDA banyak yang melirik karena bisa dijadikan bahan mentah atau olahan bagi perekonomian bangsa. Kekayaan yang dibuat, seperti pembalakan lahan untuk pembuatan industri, guna meningkatkan Gross Domestic Product (GDP).

Tanah yang telah kita pijak ini, bukanlah benda matiuntuk bisa kita eksploitasi secara brutal. James Lovelock dalam teori gaianya, menyatakan bahwasannya bumi itu seperti makhluk hidup. Dengan ini, suatu saat bumi akan menampakan geliatnya ketika ia disakiti alias di eksploitasi tanpa mempertimbangkan lebih bijaksana terhadap ekologi.

Pembalakan lahan skala besar guna memenuhi kepentingan peningkatan perekonomian dengan mengorbankan ekologis, membuat pilu masa depan. The Global Project Carbon (2005), efek dari pembalakan lahan secara liar itu, salah satunya akan mempengaruhi kelangkaan air. Air yang menjadi aspek penting dalam menopang kehidupan di bumi, tidak bisa dianggap remeh atas pengaruhnya di dalam kehidupan.

Beberapa negara tertekan oleh peningkatan jumlah penduduk, tak lain dan tak bukan kebijakan untuk membuka lapangan pekerjaan guna menciptakan kesejahteraan. Thomas Robert Malthus (1766-1834) telahmemprediksi resiko chaos, ketika kelangkaan karena peningkatanjumlah manusia semakin membuat pelik melanjutkan ritme kehidupan.

Walaupun pemikiran Malthus itu dianggap pesimis oleh pemikir develop mentalism, akan tetapi bila kita baca kembali pada kondisi hari ini, pemikirannya memaksa kita untuk merenungkan kembali bagaimana perang, krisis ekonomi, eksploitasi dan kerusakan iklim bisa menjadi malapetaka di abad ini.

 Nilai Lebih Ekonomi dan Ekologi

Manusia tak jauh dari apa yang namanya pragmatisme dan utilitarianisme. Kurang lebih seperti itu apa yang disampaikan oleh Wiliam Chang. Keingingan untuk memanfaatkan apapun dari alam guna mendapatkan nilai, tak bisa kita hindarkan. Begitu pula kaitanya antara ekonomi dan kondisi ekologi.

Departemen perindustrian dan bank dunia (2005) pernah mengingatkan bahwasannya pencemaran lingkungan di Indonesia sebesar 90% diakabtkan oleh industri kecil hingga menengah beresiko mengusik kelestarian lingkungan.

Ketika ditemukannya mesin uap pada abad ke-18, memberikan pengaruh bagi munculnya industrialisasi hingga eksploitasi alam guna meningkatkan produktifitas pembangunan. Proses eksploitasi dan proses produksi memiliki pengaruh terhadap lingkungan hingga hari ini.

Eksploitasi lahan untuk kelestarian lingkungan menimbulkan kerusakan ketika pohon dan vegetasi lainnya dikorbankan untuk mendapatkan pangsa pasar. Pohon sebagai paru-paru dunia, sudah dikenal sebatas metafora semata. Pembangunan dengan tujuan produktifias lagi-lagi merabunkan kesadaran kita sebagai manusia dan bumi sebagai Gaia, kata lovelock.

Inti dari Ekologi itu menyatukan padanganan mengenai alam dan kehidupan yang berkaitan dan berhubungan satu sama lain. Bila saja manusia hanya memfokuskan kepada nilai lebih ekonomi dan tergila-gila dengan perubahan sementara, Bisa saja penyampaian filsuf profetis Osalwad Spengler mengenai siklis kehidupan benar adanya.

Menuju kehancuran itu poinnya. Manusia modern disibukan dengan suguhan kemajuan dan pembangunan, tanpa memperhatikan kondisi ekologi. Jangan lagi terjadi, mendeskreditkan gagasan kritis terhadap lingkungan, seperti Al Gore contohnya, ketika menyuarakan kelestarian alam dengan poin prihatin atas pemanasan global malah diolok-olok. Miris!

Abad 21 yang penuh dengan kemajuani, harus kita baca secara komprehensif dan holistik. Pasalnya bila kita hanya melihat pada satu sisi saja, maka yang terjadi akan mengenyahkan sudut pandang lain seperti ekologi. Sekian.