Mahasiswa
2 tahun lalu · 467 view · 7 min baca menit baca · Politik 078762600_1468473080-086049400_1468412799-20160713-tito_dan_panglima_tni.jpg
Liputan6.com

Menakar Kegentingan Negara

Pro-Kontra Makar

Terkait rencana Demo 212, pemerintah (lewat Panglima TNI, Kapolri, mensinyalir adanya rencana makar untuk menggulingkan pemerintahan yang sah yang dipilih langsung oleh rakyat.

Sementara itu, ada pendapat berbeda! Beberapa politisi di kubu Anies-Sandi (misalnya Fadli Son dan Fahri Hamsah) dan kubu Cikeas mengatakan tidak ada yang mau makar. Beberapa pakar (misalnya Gun Gun Haryanto, pengamat politik) mengatakan juga, bahwa peluang makar tidak ada, karena tidak ada variabel-variabel penyebab yang mendukung, misalnya:

1. Tidak ada tokoh sentral yang muncul, 2. Tidak ada isu yang dijadikan musuh besar bersama,
3. Ada dukungan luar negeri,
4. Friksi di tubuh militer, dan
5. Adanya esklasi politik yang ekstrim. Kata mereka, semua syarat itu tidak ada di Indonesia saat ini.

Pertanyaannya adalah: Apakah keadaan sekarang tidak memenuhi persyaratan untuk makar?

Syarat Makar Terpenuhi

Saya tidak tahu bagaimana cara mereka membangun argumentasi hingga bisa menyimpulkan bahwa kondisi saat ini tidak mengarah ke makar. Menurut saya, situasi saat ini sudah memenuhi persyaratan untuk makar.

1.) Tokoh Sentral

Saya kira kita tidak jujur bila kita menolak sosok Habieb Rizieq dan Munarman sebagai tokoh sentral dari Islam Garis Keras yang menjadi kekuatan terdepan dalam gerakan anti-Ahok itu.

Di balik itu ada lapisan berikutnya ada beberapa tokoh MUI, misalnya Din Syansudin, Amien Rais, Aa Gym, dan lainnya. Aroma politik pun tidak mudah ditepikan dari kasus ini, terutama yang berhubungan dengan kontestasi Pilkada DKI.

Di sana terdapat tiga kubu utama dengan tiga tokoh utamanya, yaitu Megawati (kubu PDIP, Hanura, Nasdem, Golkar, PPP-Djan Fariz, dll.) yang mengusung Ahok-Djarot, Prabowo (kubu Gerindra dan PKS), dan SBY (kubu Demokrat, PAN, dan PPP-Romy). Dalam kasus Ahok, SBY dan Prabowo-lah sebagai tokoh politiknya.

Jadi, tokoh sentralnya adalah Rizieq, Munarman, SBY, Prabowo, Amien Rais, dan Din Syansudin. Namun, dalam eskalasi ini, Prabowo belum menampakkan dirinya di pihak ini.
Tokoh-tokoh yang non-garis keras itu belum tentu menjadi figur penting dalam makar, tapi mereka kesulitan membaca penumpang gelap yang menjadi eksekutor makarnya. Mereka sedang membutuhkan teman, sehingga tidak sedang menyeleksi orang.

2. Isu Musuh Bersama

Kudeta atau makar di mana pun di dunia ini tidak akan membuat masyarak berada dalam satu isu. Selalu ada tiga kelompok masyarakat, yaitu yang anti-penguasa, yang mendukung pemerintah, dan ada yang netral atau abstain (tidak membenci, tapi tidak juga mencintai, alias biasa saja).

Jadi, pembencilah yang berpeluang besar menjadi pelaku kudeta atau makar. Pelaku makar tidak selalu berangkat dari musuh berupa masalah bersama, misalnya musuh KKN yang melekat di tubuh Orde Lama dan Orde Baru, tapi bisa juga dari tujuan berbeda dengan cara yang sama.

Saya berpikir denga melihat dinamika yang ada, gerakan anti-Ahok itu ada 4 kelompok besar: pertama, Kelompok Islam Garis Keras/KIGK (yang anti-nonmuslim dan berjuang menuju negara syari'ah), kedua, Kelompok Islam Nasionalis, dan ketiga, Kelompok Pembenci Ahok-Jokowi (politisi yang kalah dalam kompetisi lalu dan yang tidak yakin menang dalam kontestasi kini, pengusaha yang tidak dapat proyek, koruptor yang kehilangan lahan korup dan takut diproses hukum, dan pobia-komunis)
.
Semua masalah dan tujuan mereka ini berbeda, tapi mereka memiliki cara yang sama, yaitu untuk mencapai tujuan mereka harus melalui makar.

Jadi, penggulingan pemerintahan yang syah adalah perjuangan dan isu besar bersama mereka.

3. Dukungan Global Tidak Selalu dalam Bentuk Negara

Rupanya mereka yang mengatakan 'tidak ada prasyarat makar saat ini' adalah para penganut teori makar teritori yang hidup di era pragolobalisasi dan sebelum era digitalisasi.

Dewasa ini, ideologi-ideologi global yang melanda dunia bisa tampil sebagai penekan di sebuah negara.

Contoh, pada mula gerakan lingkungan hidup tidak ditekan oleh negara tertentu, tapi justru semua negara merasa ditekan dengan penghembus awalnya adalah LSM-LSM semacam Green Peace dan WWF.

Saat ini negara kita sibuk mengurus HIV/AIDS, tapi tidak satu pun negara lain yang nenekan kita. Begitu pula dengan berbagai gerakan lain yang kita lakukan tanpa harus ditekan negara lain, tapi oleh ideologi bersama.

Islam Garis Keras dan terorisme semacam Alkaeda dan ISIS dewasa ini sudah menjadi isu global yang mengancam berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Indonesia termasuk dalam peta terorisme global, baik sebagai subyek maupun obyek.

Berbagai pihak sudah mensinyalir, termasuk pengamat teroris global sekelas Sidney Jones baru-baru ini mengatakan bahwa jaringan teroris dunia dan ISIS sudah merapat masuk Indonesia untuk nenanfaatkan momen chaos anti-Ahok itu.

Jadi, ISIS dan Islam Garis Keras akan bisa memanfaatkan untuk terjadi makar, baik masuk secara resmi lewat FPI cs maupun secara sabotase di momen itu.

Teroris adalah sosok militernya ada. Mereka berlatih ala militer, memiliki persenjataan dan keterampilan perang, bahkan mereka bisa merakit senjata dan bom. Jadi, Jokowi jangan percaya sepenuhnya kepada pendapat yang apriori terhadap peluang makar di Demo 212.

4. TNI Friksi?

Sampai saat ini belum ada tanda bahwa ada friksi di tubuh TNI aktif. Berarti tentara kita masih solid dan setia kepada pemerintahan yang syah.

Namun, kita tidak bisa pungkiri bahwa beberapa pensiunan TNI ada di barisan pendemo yang anti-Ahok-Jokowi juga. Ini berarti ada perbedaan sikap antara kaum tua dan kaum mudanya.

Rayuan gombal kepada Panglima TNI Gatot Nurmantyo yang dianggap cocok menjadi presiden menggantikan Jokowi bisa saja berasal dari mereka itu. Mereka bisa saja memasukkan doktrin-doktrin inti yang menjadi jiwa-korsanya TNI, bahwa kini Jokowi-Ahok sudah menyeleweng dari Pancasila dan UUD 45, sudah membahayakan negara.Bila TNI percaya pada rayuan gombal itu, makar bisa terjadi.

Namun hingga kini belum ada tanda bahwa Gatot Nurmantyo terpikat pada rayuan gombal itu.

5. Eskalasi Politik

Sedang rkstrim
Kasus Ahok ini muncul bersamaan dengan kontestasi Pilkada DKI, dimana Ahok adalah salah satu cagubnya.

Ketika Ahok tersandung hukum, maka politik pun bisa memanfaatkan peluang agar Ahok bisa mundur sebagai cagub dan memberi peluang lebih mudah bagi calon lain untuk terpilih sebagai gubernur-wagub DKI lima tahun ke depan.

Makanya aroma kepentingan pilkada DKI itu sangat nenyengat hidung. Kontestasi itu bukan hanya soal memilih pemimpin baru DKI semata, tapi itu pertaruhan martabat antara tiga tokoh sentral yang sudah lama berseteru, yaitu Megawati, SBY, dan Prabowo, serta dibumbui emosi Agus Yudhoyono (cagub dari kubu Cikeas) yan sudah berani meninggalkan karirnya di militer yang akan kecewa, bila tidak terpilih, melebihi pasangan cagub-cawagub lainnya.

Sebagai ayah Agus yang sudah mempengaruhi Agus untuk keluar dari TNI untuk menjadi cagub, SBY pun sangat serius dan berambisi agar putranya menang.
Eskalasi politik pilkada DKI tergolong cukup ekstrim, namun ada yang jauh lebih ekstrim lagi, yaitu eskalasi koruptor yang kehilangan lahan korup dan yang siap diseret ke pengadilan.

Kita tidak perlu menyebut siapa, tapi sudah jadi rahasia umum bahwa negara ini diurus oleh penjahat, hingga terminologi yang sangat populer beberapa waktu lalu adalah negara dalam cengkeraman kleptokrasi.

Artinya, negara ini diurus oleh para penjahat, salah satu indikatornya adalah kerugian negara akibat korupsi sangatlah besar. Yang bisa diselamatkan cuma sedikit, sedangkan sebagian besarnya masih hilang. Ini berarti mantan pejabat dan yang sedang menjabat pun berpeluang menjadi tersangka.

Jokowi dan Ahok dikenal dengan pemimpin yang piawai menjaga uang rakyat dari para maling, bahkan Ahok memperlihatkan watak yang berani menyeret koruptor ke meja hijau, maka inilah ketakutan terbesar koruptor, sehingga akan menambah peliknya eskalasi itu.

Kelompok ini pesimis bahwa nasib mereka bisa baik jika harus melalui mekanisne pemilu/pilkada. Tokoh-tokoh semirip Jokowi-Ahok itu bermunculan sebagai konsekuensi dari pemilihan langsung dan dinamika politik lokal misalnya Rismaharini, Ridwan kamil, Ganjar Pranowo, dan Yoyok yang kini Bupati Batang, Jateng, sehingga orang-orang setipe inilah yang akan memenangkan hati rakyat di setisp pemilu. Akhirnya koruptor yakin bahwa satu-satunya cara menyelamatkan diri adalah makar.

Koruptor selalu punya mitra, termasuk pengusaha yang bisa diajak bermain KKN lewat proyek-proyek yang kini merasa pacekik proyek, bersama-sama mereka memainkan isu '9 naga', antek company, komunis bangkit, supaya menarik perhatian publik untuk berbuat makar, bahkan memsinkan emosi publik dengan permainan terminologi "bela islam" dan strategi lain sebagainya.

Jadi, (Rencana Demo 212: Menakar Kegentingan Negara), Demo 212 massanya kecil dan kurang beringas, tapi peluang makarnya (meski kecil, tapi ada). Jika Jokowi tidak mampu mengelola (demi menaikkan kekuatan pemetintah dan mengecilkan kekuatan pendemo), maka peluang itu semakin besar lagi.

Bila makar sudah sukses dan Jokowi sudah terguling, maka para pendemolah yang akan melakukan esklasi berikutnya, yaitu memenangkan tujuan masing-masing: kekuasaan, ekonomi, dan perubahan dasar negara dari Pancasila ke Syari'ah.

Sikap Jokowi: Dari yang Baik Hingga yang Buruk

Jadi, dalam ilmu manajemen, termasuk manajemen publik, persiapan seorang Jokowi tidak hanya untuk skenario baiknya saja, tapi bersiaplah menghadapi dari kemungkinan terbaik hingga terburuknya. Bersiaplah menghadapi demo yang aman-damai hingga, kemungkinan terjadi makar.

Artinya Jokowi sudah siap menghadapi kemungkinan terbaik hinggga yang terburuknya.
Jangan sampai persiapannya yang muluk-muluk damai tenang seperti kata Fahri Hamzah dan Gun Gun Haryanto cs, begitu terjadi makar maka pemerintah tidak mampu mengantisipasi dan mengatasinya.

Apa pun yang dilakukan pemerintahan Jokowi harus dalam rangka mencapai 2 hal, yaitu menaikkan kekuatan pemerintah dan melemahkan gerakan pendemo.

Konsolidasi sosial Jokowi dengan berbagai tokoh masyarakat dan politik merupakan langkah konsolidasi sosial yang sudah tepat. Begitu juga dengan langkah safari ke militer dan polisi, adalah konsolidasi organisasi yang bagus.

Yang masih harus lebih masuk lagi adalah langkah untuk melemahkan pendemo, yaitu tindakan hukum bagi perusuh Demo 411, tindak penghina presiden, tindak perencana makar, tindak perencana pembunuh Ahok, tindak penghina Pancasila, dan lain sebagainya.

Apa yang dilakukan Jokowi selama ini mencerminkan negara siap menghadapi demo makar. Lanjutkan dan teruskan.
Bila sekarang orang bilang tidak ada makar, maka boleh jadi rencana makar diurungkan karena melihat persiapan Jokowi yang maksimal untuk menghadap makar.

Ibarat siswi sudah menulis contekan di pahanya, tapi ketika pengawas ujian tahu dia menunduk ke pahanya untuk mencontek, maka dia pura-pura menggaruk pahanya yang disebutnya gatal karena kutil. Jadi dia tidak jadi mencontek bukan karena tidak ada niatnya, tapi karena pengawas memergokinya.

Artikel Terkait