Sampai Mei ini, kita menjalani bulan keempat belas masa pandemi. Tahun kedua wabah corona. Termasuk pula merayakan hari Pendidikan, juga kedua kalinya di masa pandemi.

Adaptasi yang dapat dilakukan selama pandemi adalah mengalihkan pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh. Diantaranya penggunaan pelbagai platform yang tetap memungkinkan untuk belajar, walau tidak dalam perjumpaan dalam satu ruang yang sama. Melainkan dalam waktu yang sama.

Pilihan yang dapat dilakukan, tidak banyak. Komunikasi antara siswa dan guru, begitu pula mahasiswa dan dosen, sepenuhnya dilakukan dengan dalam jaringan (daring). Sehingga begitu memasuki masa pandemi dan pengalihan metode pembelajaran, tidak saja mahasiswa tetapi juga dosen yang mendadak daring.

Semuanya tergagap memasuki kondisi ini. Dimana ketika itu semester genap 2019/2020 dirancangan sepenuhnya dengan menggunakan metode tatap muka. Bahkan bolehjadi, sayapun kemudian mengenal pelbagai instrumen belajar dengan menggunakan perangkat daring setelah memasuki kondisi pandemi.

***

Terkait dengan pertanyaan “apakah pembelajaran daring efektif?” maka, tidak serta dapat dijawab hanya dengan ya atau tidak. Sepenuhnya juga terkait dengan pengalaman dan keperluan yang kita praktikkan selama empat belas bulan terakhir.

Walaupun juga mulai ada suara bahwa pembelajaran daring itu membosankan. Sehingga satu kumpulan kecil mahasiswa kemudian mengadakan unjuk rasa untuk memprotes kebijakan pendidikan dengan metode daring.

Sementara itu, dalam satu sesi pertanyaan seminar muncul pertanyaan “kapan sekolah akan dibuka?”. Saya tidak memiliki kapasitas untuk menjawab ini. Hanya saja saya meresponnya bahwa justru rumah kita masing-masing adalah tempat terbaik untuk bermukim.

Kalaulah ke sekolah justru memungkinkan terpapar virus, maka tetap berada di rumah justru menjadi pilihan yang paling memungkinkan. Sekaligus dengan berada di rumah, kita memiliki pengalaman untuk tetap belajar walaupun berada di rumah masing-masing. Ini menjadi catatan bahwa sekolah merupakan institusi pendamping dan pelengkap untuk proses belajar.

Dengan berada di rumah, justru siswa juga akan belajar dari lingkungan masing-masing. Dimana juga ada kesempatan untuk belajar secara konstekstual. Kondisi ini mendorong dalam sebuah rumah wujud adanya keluarga yang belajar bersama.

Tidak hanya peserta didik, tetapi orang tua juga turut belajar. Bahkan mengarahkan. Begitu pula bagi siswa yang tinggal bersama kakek dan nenek, keduanya juga turut terlibat dalam proses pembelajaran.

Selanjutnya, kondisi pandemi juga menjadi kesempatan untuk mengecek kesiapan infrastruktur kita. Dimana RRI dan TVRI selama ini belum mendapatkan peremajaan fasilitas, justru memungkinkan adanya alokasi pendanaan dari APBD ataupun APBN untuk memudahkan akses secara luas.

Dalam satu kawasan perumahan, wujud revitalisasi Karang Taruna. Dimana dengan partisipasi para pemuda memungkinkan pembelajaran tetap berlangsung dengan sistem mentorship. Mahasiswa mendampingi siswa belajar. Sementara siswa belajar bersama dengan murid-murid.

Kita kembali menyadari betapa perlunya semangat gotong royong. Selama ini, bolehjadi kita terlupa dengan kata ini. Justru menyibukkan diri dengan keperluan masing-masing, sehingga timbul sifat individual.

Dalam kondisi pagebluk covid-19, justru dengan gotong royong-lah yang memungkinkan untuk pencegahan dan penanggulangan wabah untuk dilaksanakan. Mobilitas dan juga kerumunan berpotensi untuk menularkan virus. Sehingga menghindari dan membatasi keduanya merupakan usaha yang dapat dilakukan untuk usaha keluarga dari kondisi yang ada.

Senyampang itu, vaksinasi juga tetap terus dilakukan dalam skala yang luas. Pandemi justru menjadi peluang untuk membangun kebersamaan. Dimana kehidupan dunia ini, tidak dapat melepaskan diri dari komunal masing-masing. Dalam kondisi apapun itu, tetap ada ketergantungan satu sama lain.

***

Di awal pandemi pula, kita menyaksikan tukang bengkel yang dapat menerbangkan pesawat. Sesederhana apapun itu, Khairul dapat belajar dari video YouTube. Padahal, ini kemampuan yang sangat teknis. Dimana hanya dengan media video, justru dapat mengatikulasikan kemahiran untuk sampai merakit pesawat.

Jika dengan ilustrasi ini, maka kita dapat menyaksikan bagaimana belajar dengan metode daring tetap dapat dilaksanakan.

Satu hal lagi, diklat Lemhanas juga dapat dilaksanakan dengan metode daring. Sekalipun itu terkait dengan doktrin dan juga penyampaian pesan kebangsaan, dengan metode daring juga dapat dilaksanakan.

Termasuk HMI Koordinator Komisariat Tamalate, Cabang Makassar, melaksanakan Latihan kader dengan menggunakan perangkat teknologi. Sehingga proses pendaftaran dan seleksi dapat diselesaikan dengan menggunakan media tekonologi komunikasi dan informasi.

Justru dengan adanya metode belajar blended learning ini memungkinkan pembelajaran tetap berlangsung. Justru jikalau hanya dengan menggunakan tatap muka, bolehjadi biaya yang dibutuhkan teramat banyak. Sehingga ada saja materi yang tidak dapat disampaikan selama proses pelaksanaan latihan kader.

Belum lagi, pertemuan nasional baik di organisasi kemasyarakatan ataupun partai politik. Termasuk dalam pengambilan keputusan strategis, semuanya dilakukan dengan media daring.

Sekecil apapun itu keberhasilan penggunaanya, namun dalam kondisi seperti ini tetap dapat berlangsung. Hanya saja, memang dari awal pandemi kita terus menyesuaikan diri sehingga dapat menguasai bagaimana memaksimalkan alat-alat tersebut. Walaupun dengan hasil yang tak maksimal.

Sekali lagi, “apakah efektif untuk belajar dengan metode daring?”. Menjawab pertanyaan ini, bukan saja soal kesulitan yang kita dapatkan. Dimana ada tempat-tempat tertentu yang tidak memiliki akses ke layanan internet. Ini masalah yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan stau pihak saja. Perlu kebersamaan untuk menanggulanginya dengan penyediaan akses internet.

Ketiadaan dukungan internet akan menjadi penyebab melayangnya jiwa peserta didik. Di Kab. Sinjai, Sulawesi Selatan, ada kasus dimana mahasiswa yang mengusahakan untuk mendapatkan akses internet memanjat ke menara masjid. Hanya saja, bukannya akses yang digapai. Sebelum sarjana, sang mahasiswa harus menyandang gelar almarhum.

Kedua, kemampuan guru atau dosen dalam mengelola kelas juga harus menjadi perhatian. Ini dapat dilakukan tidak saja melalui dinas ataupun kementerian, tetapi peran serta asosiasi profesi, perhimpunan guru, untuk bersama-sama dalam upaya pengembangan kapasitas.

Dengan pelatihan dan sosialiasi yang dilaksanakan secara berkelanjutan, akan memberikan dukungan bagi penyelesaian masalah. Sehingga dari waktu ke waktu pembelajaran daring semakin meningkat penguasaan dan juga kemampuan menyerap informasi.

Membandingkan antara tatap muka dan tatap maya, merupakan dua hal yang berbeda secara nature dengan kondisinya masing-masing. Untuk itu, ketika mendiskusikan pembelajaran dengan metode daring, perlu waktu dan juga disamping infrastruktur untuk menjadikannya dapat mencapai tujuan pembelajaran.

Akhirnya, tidak lagi hanya pada soal efektifitas semata. Justru yang perlu disegerakan adalah bagaimana mengikhtiarkan agar pembelajaran dengan metode daring dapat memberikan ketuntasan pembelajaran.

Pandemi ini memberikan kita banyak kesempatan. Termasuk melakukan refleksi bagaimana pembelajaran yang ada dapat tetap berlangsung walau jarak dan juga kondisi geografis yang menjadi kendala. Sekaligus sebuah kesempatan untuk pembenahan infrastruktur pembelajaran yang akan terus digunakan. Sekalipun wabah telah berlalu.

===

*Tema ini merupakan topik yang menjadi diskusi dalam rangkaian Hari Pendidikan yang dilaksanakan HMI Komisariat Syariah & Hukum, Cabang Gowa Raya, Senin, 3 Mei 2021.