Berita besar tentang keadilan – hukum – di negeri ini baru saja kita dapati. Tentang Baiq Nuril yang sudah bebas dari ancaman hukuman beberapa bulan penjara yang mengintainya, pasca amnesti presiden turun kepadanya. 

Siapa pun yang menyimak kasus ini pasti merasakan kelegaan. Setelah sekian waktu kepala kita dipusingkan dengan kasus ini.

Seperti kita ketahui, Baiq Nuril merupakan pihak yang dituntut oleh mantan kepala sekolahnya dulu saat ia mengajar. Baiq Nuril dituntut dengan pasal Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) karena telah menyebarluaskan rekaman telepon kepala sekolah tersebut kepadanya. Rekaman yang berisi pelecehan seksual secara verbal kepala sekolah kepada Baiq Nuril.

Tuntutan tersebut tidak dikabulkan hakim di pengadilan tingkat pertama. Baiq Nuril pun dinyatakan bebas dari ancaman penjara. 

Namun jaksa penuntut umum kemudian mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung, dan hasilnya Baiq Nuril dinyatakan bersalah. Bahkan ketika pihak Baiq Nuril mengajukan Peninjauan Kembali (PK) ke MA, keputusan yang diperoleh tetap sama. Secara mengejutkan, para hakim agung menolak pengajuan PK tersebut.

Mengetahui itu, pikiran kita jadi bertanya-tanya: Mengapa bisa terjadi demikian? Apakah ini keputusan yang aneh atau biasa saja? Kita tahu, kasus ini secara terang benderang menampakkan bahwa yang dilecehkan adalah Baiq Nuril. Akan tetapi, malah dia yang dilaporkan oleh pelaku pelecehan itu.

Nurani kita berteriak, bahwa seharusnya yang disidang adalah mantan kepala sekolah itu. Dia yang telah melakukan kekejian. Dia yang telah terang-terangan membuat Baiq Nuril merasa terhina dan terlecehkan. Maka dialah yang harus masuk penjara. Namun faktanya, hingga kini, ia masih bebas beraktivitas, tanpa ada tuntutan hukum kepadanya.

Terbitnya amnesti presiden tersebut memang membuat kita semua optimis, meskipun sedikit. Kita sedikit optimis, di negeri ini keadilan masih bisa direngkuh. Walaupun dengan peras keringat yang begitu lama dan melelahkan. Sehingga sering memunculkan perasaan: betapa sulitnya menagih keadilan di negeri ini.

Bahkan tidak jarang terjadi, banyak orang yang terlanjur putus asa, hingga memunculkan sikap tak berdaya. Akhirnya menyerah kalah. Membiarkan keadilan itu tak sampai kepada dirinya. Meskipun rasa sakit di batinnya tak bisa disembunyikannya.

Kita juga sering mendengar kasak-kusuk yang sebenarnya warta yang dirahasiakan. Bahwa banyak pihak, yang sebenarnya korban, ingin menguak dan menagih keadilan terhadap kekuatan besar yang selama ini destruktif kepadanya. Tapi sebelum itu terjadi, sang korban sudah terlebih dahulu mengalami intimidasi dari pihak-pihak “misterius” itu.

Intimidasi itu sering pula menggunakan senjata, hingga terlampau sukses membuat korban ketakutan. Akhirnya sang korban memutuskan tutup mulut. Ia memilih menutup buku kasusnya itu, daripada nyawa diri dan keluarganya terancam. Maka bebaslah sang durjana. Dengan angkuh, lagi membusungkan dada.

Kasus penyiraman air keras kepada Novel Baswedan, penyidik KPK misalnya, adalah salah satu kasus yang hingga kini sulit dicari keadilannya. Memang beberapa usaha sudah dilakukan. Namun usaha yang nampak lebih – mohon maaf – sebagai formalitas itu, sama sekali tak berhasil menguak siapa sebenarnya pelaku utamanya.

Baru-baru ini ada usaha paling mutakhir. Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang berisikan orang-orang pilihan dari beberapa lembaga itu telah dibentuk dan menjalankan tugas-tugasnya. Menurut mereka, segala daya upaya telah mereka lakukan. Hasilnya sudah diketahui banyak orang. Mereka pun merasa telah bekerja dengan baik.

Sebagai orang awam, kita menghargai kerja keras itu. Namun perlu kita sayangkan, TGPF tersebut tak mampu menemukan siapakah sebenarnya pelaku utama penyiraman itu. Padahal itulah target utama dibentuknya tim elite tersebut. Menemukan siapakah dia, wajib hukumnya.

Publik akhirnya waswas. Mereka pun menuang prasangka, pasti ada kekuatan politik yang sangat besar (high profile) di belakang kasus ini. Yang naga-naganya ingin mencoba menghalangi, bahkan memberangus tugas-tugas pemberantasan korupsi oleh KPK. 

Benarkah seperti itu? Semua sulit dijawab karena tertutup mendung misteri yang begitu hitam pekat.

Memanglah benar jika keadilan di negeri ini adalah barang yang sangat mahal. Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak penagih itu, tetapi tak kunjung mendapatkan cita-cita yang diharapkannya. Semua itu terjadi akibat sistem yang masih belum sempurna. Juga ulah beberapa oknum yang selama ini meraup untung dari benang kusut keadilan itu.

Kita akhirnya harus menjujurkan diri, ternyata memang keadilan tidak benar-benar merakyat. Keadilan masihlah menjadi milik orang-orang besar saja. Keadilan hanya milik orang-orang tertentu yang boleh jadi amat dekat dengan kekuasaan di semua tingkatannya.

Sementara rakyat kecil, orang-orang biasa, atau orang-orang yang memperjuangkan keadilan yang sejati, justru keadilan sendiri sulit menyasar kepadanya. Mereka pontang-panting mengejarnya, tetapi keadilan tak kunjung bisa direngkuhnya.

Tentu saja banyak derita dan tangisan akan lahir. Derita dan tangisan itu sebagai respons wajar, sebab mereka telah teraniaya. Maunya mereka ingin keluar dari aniaya itu, namun tidak sanggup memutus rantai hukum yang tebang pilih itu. Mereka tak bisa keluar dari belenggu hukum yang masih saja tumpul ke atas, tajam ke bawah.

Walau sebegitu rumitnya, namun semangat kejujuran itu harus terus kita sediakan bagi perjuangan untuk mewujudkan cita-cita keadilan. Oleh karena itu, betapapun terjal jalan yang harus dilalui, kita harus tetap teguh pendirian, bahwa berjuang menagih keadilan tak boleh kalah.

Baiq Nuril adalah contoh yang membahagiakan, jika keadilan di negeri ini masih tersisa bagi kita. Meskipun dilalui dengan usaha yang berdarah-darah. 

Begitu juga dengan kasus Novel Baswedan, atau yang lebih lama kasus Munir, ini juga sebagai contoh yang baik bagi kita. Bahwa berjuang menagih keadilan wajib dilakukan terus-menerus. Bahkan hingga negeri ini sirna ditelan bumi.

Mungkin sekarang perjuangan ini menemui kegagalan dan batu terjal. Karena boleh jadi besuk atau lusa terbongkar semuanya. Atau boleh jadi akan kita temui kabar tak sedap. Sebab di ujung dunia ini akan musnah, keadilan yang kita tagih tak kunjung kita terima. 

Namun dengan semangat tanpa kata mati untuk menagihnya itu, dengan sendirinya meneguhkan diri bahwa kita sudah bertugas dengan baik. Bahwa kita adalah pejuang keadilan di dunia ini.