Nasionalisme merupakan sebuah kata yang tak pernah lekang oleh waktu. Sejarah telah melahirkannya untuk sesuatu yang baik dan terkadang juga untuk sesuatu yang jahat. Semangat kebangsaan yang berlebihan justru melahirkan manusia yang menindas orang lain hanya karena berbeda suku dan agama. Bahkan, nasionalisme sempit seperti itu digunakan dengan alasan memperkuat rasa persatuan nasional.

Goenawan Mohamad dalam Pagi dan Hal-Hal yang Dipungut Kembali; Sejumlah Epigram menulis, “Nasionalisme terkadang tampil represif: untuk persatuan, nasionalisme cenderung mendesak orang melupakan adat, nilai, keyakinan yang berbeda”.

Kita melihat hal yang sama terjadi di Rakhine State, Myanmar. Apa yang terjadi di sana adalah akumulasi dari dendam sejarah. Kekhawatiran politik dan sosial serta sentimen agama dibungkus dalam isu stateless bahwa Rohingya diusir karena bukan atau tidak diakui sebagai warga negara.

Isu nasionalisme yang dibumbui dengan agama justru lebih memperkeruh suasana karena beberapa elit agama yang ekstrim cenderung “mengizinkan” kekerasan terjadi. “Agama sering membenarkan kekerasan dan kekerasan memperkukuh agama, yang dalam kehidupan publik, memberikan mercusuar ke arah tatanan moral,” tulis GM (Goenawan Mohamad). Ya, sumber etis dan estetika moral justru menjadi sumber lahirnya kekerasan.

Di lain pihak, elit politik bungkam bahkan cenderung pasif. Padahal, menurut GM, “pada saat politik bersikap pasif, maka tak ada lagi tempat untuk mencari kenyamanan.” Apakah bungkamnya Aung San Suu Kyi membuat “ruang” itu lebih tidak nyaman lagi bagi Rohingya?

Pada saat yang bersamaan, rasa tak nyaman telah meluas ke belahan benua lain,termasuk tetangga di ASEAN. Pemerintah Indonesia menjadi sorotan masyarakatnya yang merasa menjadi “sesama” dengan warga Rohingya.

Rasa kemanusiaan tiba-tiba menjadi semangat yang membara dalam diri masyarakat kita. Rupanya fenomena ini juga tidak lepas dari perhatian para pengambil keuntungan politik untuk memanas-manaskan situasi dan mencoba membawa isu Rohingya menjadi kelambanan pemerintah dalam bersikap tentang penderitaan “saudara” mereka di Myanmar.

Kita sering mengaku sebagai “sesama manusia” pada mereka yang memiliki persamaan dengan kita. Tapi pada saat yang sama menganggap “manusia” yang berbeda dengan kita adalah “binatang”, “kafir”, dan segala istilah dunia hewan lainnya.

Kita harus bertanya kembali, apakah keprihatinan kita akan nasib orang lain adalah tulus karena iba dan empati atau hanya sebagai citra dan simpati? Teriakan dan makian kita terhadap Myanmar justru hanya akan membahayakan dan memperumit warga Rohingya yang sementara menjadi objek kekerasan.

GM menulis, “tampaknya dalam tiap peristiwa, kita harus mencoba mendengar gema suara lain di seberang sana.” Saya setuju dengan cuitan ini. Kita lebih suka didengarkan daripada mendengarkan. Kita juga perlu mendengar perspektif Myanmar mengapa mereka melakukan tindakan opresif di Rakhine.

Janganlah cepat menghakimi karena kita juga harus menyadari bahwa dalam beberapa peristiwa, kita juga mencerminkan sifat setan yang jauh dari kemanusiaan. Jangan mengeneralisir bahwa Myanmar sementara melaksanakan perang dengan kelompok agama tertentu.

Kita berteriak akan pelanggaran kemanusiaan di Rakhine, tetapi lupa bahwa masih banyak pelanggaran HAM yang terjadi di Negara ini yang tidak terekspose di media. Kita berteriak membela Tuhan dengan cara kekerasan. Jangan mengira bahwa dengan melakukan hal itu kita akan semakin akrab dan dikasihi oleh Tuhan. Pertanyaannya, Tuhan yang mana? Apakah Tuhan kita adalah KEBENCIAN?

Kita sering cepat mengutuk praktik kekerasan di luar sana padahal kadang kita lebih kejam dari mereka. Kita memiliki semua sifat kejam yang mereka punya. Seperti yang ditulis oleh GM, “kekerasan bermula dari intoleransi dan sikap a priori, tak jauh dari diri kita sendiri.” Memaki Aun Sang Su Kyi dan pemimpin ekstrim agama di sana, justru akan mengobarkan kemarahan dari mereka yang diam dan yang pura-pura diam.

Memang kita geram melihat penindasan dan santainya Myanmar menghadapi protes dunia. Mungkin benar apa kata GM, “dari tempat orang kuat dan kuasa, tak mudah ikut merasakan pedihnya orang-orang yang dipojokkan”. Para pejabat Myanmar yang diam saja dengan penganiayaan dan pelanggaran HAM itu karena mereka tidak merasakannya langsung.

Susah memang menjadi manusia yang harus mengalami dulu baru mengakui. Meski banyak yang pernah mengalami, tapi tetap keras kepala.

Jika isu Rohingnya adalah isu agama: mayoritas versus minoritas. Maka saya jadi tambah bingung, apa sebenarnya bumbu rahasia dalam agama yang mampu membuat orang rela mati bahkan untuk sebuah tindakan kejahatan? Meski agama selalu mendasarkan ajarannya pada kasih, namun mengapa selalu ada intoleransi atas nama agama?

Ini bukan hanya untuk Myanmar dan dunia, tapi kita juga perlu mengintrospeksi diri tentang situasi keagamaan di Indonesia. “Saya lelah, hampir putus asa di tengah cerita kebencian atas nama agama. Tapi, mungkin saya dihukum untuk selalu berharap bagi Indonesia.” Tulisan GM ini seakan mewakili perasaan manusia Indonesia yang rindu akan perdamaian.

GM mengutip kalimat W.H Auden, “we must love one another, or die.” Ya, kalau semuanya membenci, maka matilah peradaban dunia. Kasih adalah fondasi dunia yang diletakkan oleh para nabi dan rasul. Akankah manusia merusaknya dengan kebencian atas dasar prinsip yang diyakini oleh para nabi dan rasul?

Saya setuju dengan salah satu cuitan dalam epigram GM, “saya belum siap menerima pendapat bahwa semua diatur Tuhan. Sebab, jika begitu, kita akan terima kezaliman dan aniaya di dunia.”

Jika Tuhan telah merancang apa pun dalam dunia ini, maka segala tindakan anti kemanusiaan yang mengatasnamakan agama adalah atas izin Tuhan! Ini yang membuat saya tidak mengerti. Tuhan seharusnya tidak disamakan dengan agama.

Hanya ada satu cara menawarkan racun kejahatan dan kebencian dalam hati manusia: KASIH. Esensi dari kasih adalah membalas kejahatan dengan kebaikan.

Marilah membuka diri dengan mengampuni dan memaafkan. Tidak ada kebenaran mutlak. Kita harus mengakui bahwa kita bukanlah yang maha tahu dan maha benar! “Ajaran yang menganjurkan amal baik akan beruah ketika yang “baik” itu hanyalah untuk kalangan sendiri,” tulis GM.

Ia menambahkan, “agama dan ideologi selalu punya apologi: mereka yang memaafkan apa saja, bahkan yang terburuk, dalam keyakinan dan umat mereka.” Semoga krisis Rohingya mampu mengetuk para pengambil kebijakan untuk mencapai kebijakan yang mengedepankan kemanusiaan daripada aturan hukum yang kaku.

Jika Rohingya memang berstatus tak memiliki kewarganegaraan, bukan berarti mereka harus dibantai atau dihilangkan. Di manakah agama? Ataukah kebencian adalah agama baru yang membutakan kemanusiaan?

Kalau agama adalah kebenaran, janganlah menyalahartikan iman. Karena kebenaran yang disalahartikan dan iman yang disalahtafsirkan akan mudah digiring kepada fanatisme dan radikalisme. Iman yang berakar itu penting, tapi kebutaan rohani justru meracuni akar yang bagus itu.