Aroma dan cita rasa makanan ternyata tidak berhenti di perkara selera, atau perkara nafsu untuk meningkatkan kolesterol dan berat badan. Semua jadi simpul-simpul yang secara batin yang sangat kokoh dalam menghubungkan kaum perantauan dengan tanah kelahiran.

Kalimat-kalimat ini saya temukan dalam esai yang berangkat dari pengalaman penulis ketika makan oseng-oseng jantung ayam di Australia. Makanan yang ketika di kampung halaman terasa biasa saja, tetapi di rantau seperti membawa aroma pulang.

Esai-esai semacam itu, yang ringan dibaca tapi sarat makna, bisa dibaca dalam buku ini. Ditulis oleh Iqbal Aji Daryono, seorang esais dan kolumnis di berbagai media daring. Pernah tinggal di Australia, dan sempat menjadi sopir angkutan barang.

Dan, untunglah di Australia mobil-mobil angkutan barang semacam itu, dari van kecil hingga truk gandeng ukuran jumbo, tak pernah ada kernetnya. Begitulah tutur penulis dalam pengantar bukunya. Dari situlah dia menemukan ruang hening untuk mengendapkan catatan dan merenungkan banyak hal. Ruang hening itu adalah ruang di balik kemudi van besar yang disetirnya setiap hari melalui jalanan Australia.

Sama seperti yang diungkapkan penulisnya, buku ini adalah semacam rest area di sela rutinitas dan air bah informasi. Cerita-cerita ringan dalam keseharian diulas dengan sudut pandang berbeda. Ringan tapi mengena. Lalu kita terbawa dalam suasana berpikir yang lebih luas, menyentuh problematika dan isu yang relate dengan informasi kekinian.

Di dunia yang banyak sekali dibanjiri arus informasi, kadang menjadikan kita terlalu serius menyikapi segala berita. Atau bahkan bisa terjadi hal sebaliknya. Terlalu banyak berita malah kita bersikap masa bodoh. Malas memikirkannya, atau bosan dengan pembicaraan yang itu-itu saja. Itulah perlunya sedikit berhenti sejenak untuk merenungkan hal-hal kecil dalam keseharian kita.

Dari renungan kecil itu kita bisa mengendapkan terlebih dulu segala macam keliaran ide, pikiran, dan tanggapan atas segala informasi yang kita dapatkan. Hal seperti inilah yang bisa kita baca dan pelajari dari buku ini.

Misalnya cerita tentang Mak'e (ibu penulis) yang tidak sengaja menemukan buah lemon yang jatuh di sebelah playground. Tetapi setelah dikantonginya, akhirnya buah lemon dikembalikan ke tempat semula. Lalu betapa hal ini sangat disyukuri penulis, di tengah arus informasi keagamaan yang gencar diakses Mak'e dari media daring, ternyata hal sederhana ini masih melekat.

Arus informasi relijius yang berpengaruh negatif bagi ketenangan batin, kedamaian hati, dan spiritualitas di usia senja sangat dikhawatirkan penulis. Lantas dengan sikap Mak'e yang mengembalikan lemon itu mengingatkan akan kesederhanaan sikap beragama yang diajarkan dahulu kala. Bukan melulu tentang marwah, ghiroh, dan istilah-istilah yang menimbulkan ketegangan tak henti-henti.

Ada lagi cerita tentang sikap rasis. Ketika ada seorang yang berasal dari Negeri Anu menyerobot antrean dan menabrak Hayun, anak penulis, hingga membentur tepi kereta mini lalu menjerit kesakitan. Identifikasi orang dari Negeri Anu sangat melekat setelah insiden itu, dan menimbulkan kecemasan tersendiri bagi anaknya.

Kesempatan untuk meruntuhkan imajinasi dan penilaian negatif itu datang ketika anaknya bermain di taman bermain dan terlihat akrab dengan seorang gadis kecil, yang ternyata berasal dari Negeri Anu. Lalu berangkat dari hal ini, penulis menceritakan tentang kesadaran akan keberagaman di negeri Australia.

Anak-anak sekolah di sana dikondisikan dengan segala perbedaan. Mereka diajarkan untuk menerima perbedaan dari orang lain dan diri sendiri, sehingga anak-anak pun bangga dengan identitasnya tanpa merendahkan identitas anak lainnya.

Salah satu hal unik dalam buku adalah judul yang singkat dalam setiap tulisannya. Misalnya, "Sensitif", "Bekerja", "Malu", "Kartu", "Lelah", dan lain-lain. Dan, sesuai dengan judulnya, dalam buku ini tak ada cerita berjudul "Kernet". Dari judul-judul tersebut banyak cerita yang berbau Australia.

Latar belakang Australia memang mendominasi buku ini. Kita bisa sedikit mengenal benua itu dari kumpulan tulisan ini. Di "Australia Day" misalnya, penulis memaparkan ada perdebatan tentang penetapan tanggal kemerdekaan Australia. 

Lalu penulis membawa kita pada renungan tentang pengakuan atas masa lalu. Bagi bangsa Indonesia, sejarah kelam juga pernah mewarnai. Namun sekelam apa pun segala upaya berdamai dengan masa lalu harus tetap dilakukan untuk bisa melangkah maju.

Memang tak ada data penting yang bisa dijadikan acuan dalam buku ini. Seperti lazimnya esai, tulisan dalam buku ini cenderung subjektif berdasarkan sudut pandang penulis. Tapi buku ini bisa membuka wawasan kita tentang beberapa isu kekinian. 

Namun jika kita baru membacanya dua atau lima tahun lagi, mungkin jadi kurang relate sehingga suasana emosi yang dibangun  kurang bisa dirasakan. Misalnya tentang video viral anak yang salah dalam pengucapan "ikan tongkol". Bagi yang tidak mengikuti atau pun yang sudah lupa dengan berita tersebut tentu harus berimajinasi sendiri. Kalau perlu mencari lagi beritanya di internet.

Buku ini layak dipertimbangkan bagi Anda yang menyukai tulisan esai yang dituturkan dengan gaya santai. Cerita-cerita dituliskan dengan renyah dan mengalir, dibumbui percakapan-percakapan di dalamnya. Cukup menghibur. Seolah-olah kita sedang duduk berbincang dan penulis berbicara banyak hal. 

Lantas kita seperti diingatkan akan sesuatu yang sudah lama terlupakan. Kadang juga seperti disadarkan bahwa ada hal-hal kecil yang seharusnya lebih direnungkan.

Merenung, berhenti sejenak, rileks barang sekejap memang cocok disematkan untuk  buku ini. Mengalihkan sejenak dari huru-hara berita di luaran sana. Menarik nafas jeda dari arus informasi yang silih berganti tak henti-henti. 

Seperti di rest area, berhenti sejenak untuk membaca buku ini lalu kembali meneruskan pemahamannya untuk merenungkan keseharian kita sendiri. Cukuplah jadi salah satu pengendali menyikapi dunia yang penuh dengan lalu lalang informasi.

____

  • Judul: Tak Ada Kernet di Australia
  • Penulis: Iqbal Aji Daryono
  • Penerbit: DIVA Press, 2020
  • Tebal: 200 halaman