Peneliti
2 tahun lalu · 297 view · 4 min baca · Agama holiday.jpg
Foto: homeaway.co.id

Menafsir Liburan dan Radikalisme Agama

Liburan sekolah tahun ini terbilang lumayan cukup panjang. Liburan khusus yang diberikan pemerintah melalui Kemendikbud RI setelah ujian akhir semester ganjil, yang disusul dengan pelaksanaan bagi rapor—sebuah kegiatan seremonial di mana orang tua peserta didik mendapat laporan perkembangan akademik sekaligus perkembangan budi pekerti anaknya.

Pula ditambah dengan hadirnya tanggal merah di 25 Desember plus cuti bersama di tanggal 26. Maka sempurnalah masa liburan akhir tahun ini. Tanggal merah dalam kalender nasional adalah sebagai pertanda libur nasional bagi seluruh pekerja atau pegawai, baik yang berstatus negeri atau swasta.

Ia merupakan berkah tersendiri bagi setiap warga negara Indonesia, yang tentunya, merupakan hak individu bagi mereka untuk sejenak beristirahat, memberikan haknya kepada tubuh. Atau juga memberikan haknya kepada keluarga untuk sekedar bercengkrama, berbagi keceriaan dan keakraban  dengan orang-orang yang amat ia kasihi dan cintai selama ini.

Akhir tahun kali ini, bulan Desember 2016, berbarengan dengan hadirnya tanggal merah yang beruntun dan sangat berlimpah. Artinya, mereka sudah bersiap keluar dari rutinitas keseharian yang menjemukan menuju area santai, sebuah situasi yang sangat paradoks dengan kegiatan harian sebelumnya, selalu bergelut dan berjibaku dengan pekerjaan yang tak pernah tahu kapan selesainya.

Waktu yang tepat dan ideal untuk mengendurkan urat-urat yang sudah terlanjur tegang dan kaku. Waktu untuk leha-leha, memejamkan mata bisa dilakukan kapan saja, mau tengah malampun boleh karena besok bisa bangun kapan saja, atau mau jalan-jalan ke tempat hiburan sesuka hatipun sangat bisa. Simpelnya; lakukan apa yang kau mau, nikmatilah apa yang kau lakukan, dan bersenang-senanglah hingga kau merasa puas!

Sekelumit Soal Libur Nasional

Perlu diketahui bahwa jumlah dan jenis hari libur nasional di Indonesia seiring dengan berdirinya republik ini, tahun 1945. Artinya, kewenangan untuk menentukan jumlah dan jenis libur nasional tersebut ada di tangan pemerintah semenjak era Soekarno, yang sangat dipengaruhi oleh perubahan politik dan sosial bangsa ini.

Secara resminya, libur nasional ditetapkan pertama kali melalui Keppres nomor 24 tahun 1953. Menginjak tahun 1963, ada perubahan dalam strukturnya, sehingga libur nasional diubah menjadi dua kategori, yaitu libur nasional dan libur fakultatif. Hari libur fakultatif diperuntukan khusus bagi yang memeluk agama yang diakui oleh pemerintah.

Tahun 2003, jumlah hari libur nasional mencapai 15 hari setiap tahunnya. Tahun 2014 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menambah satu hari libur dengan menetapkan 1 Mei (May Day) Hari Buruh Sedunia sabagai hari libur nasional. Sejak itulah, setiap tahunnya kita mempunyai  16 hari libur nasional.

Adapun regulasi  yang berkaitan dengan cuti di hari libur mingguan dan hari libur nasional diatur dengan Undang–Undang No.13/2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 79-85 dan Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 1954 tentang Penetapan Peraturan Istirahat Buruh.

Antara Liburan dan Radikalisme Agama

Di antara hari libur nasional yang sudah ditetapkan pemerintah adalah hari raya keagamaan, seperti Idulfitri atau Iduladha. Seperti halnya Idulfitri, natal pun yang selalu dirayakan pemeluk kristiani setiap tanggal 25 Desember tersebut masuk hari libur nasional kategori fakultatif. Dengan demikian, masalahnya bukan lagi melulu soal agama, meski dari sini ia bermula, kini ia pun menjadi urusan negara.

Menurut peneliti muda terkenal dari LIPI asal Tasikmalaya, Amin Mudzakkir (24/12), hari libur nasional adalah simbol bagi pertautan antara agama, negara, dan pasar. Argumentasinya sangat brilian; agama menyumbang isi terhadap kerangka negara, tetapi saat yang sama negara menguniversalisasi ritual agama tertentu agar bermakna bagi semua. Dan semua proses ini dimungkinkan oleh adanya fasilitas liburan yang disediakan oleh pasar.

Beliau menambahkan: “Sejatinya kita memahami hari libur nasional tersebut seperti itu. Akan tetapi, hal di atas mungkin akan terlihat dan terkesan terlalu intelek bagi mayoritas orang.” Mereka tampaknya lebih suka mengkonsumsi berita-berita ringan soal gosip artis, hiburan dan sejenisnya ketimbang membaca buku-buku yang agak serius agar bisa belajar merefleksikan realitas sosial  negeri ini yang sangat kompleks dan plural.

Pertanyaan yang kemudian muncul setelah menganalisis persoalan di atas adalah : “Bisakah pasar atau kapitalisme mengatasi, selain menyebabkan, radikalisme agama?” Menurut Mudzakkir: “Sangat bisa, sebab pihak-pihak yang mengharamkan ucapan natalpun kemungkinan besar akan menikmati liburan dengan syarat yang sangat mudah, yaitu mempunyai uang.”

Gambarannya seperti ini;  seorang suami yang sangat fundamentalis sekalipun akan kesulitan menolak permintaan, bujukan dan rengekan anak istrinya untuk berlibur ke tempat-tempat wisata seperti yang lainnya. Karena menikmati liburan atau waktu luang adalah hak yang lahir dari kebutuhan eksistensial. Kini, liburan atau bahasa lainnya piknik tergolong ke dalam kebutuhan primer (neraca.co.id, 2015).

Sumber persoalannya adalah bertumpu pada uang (capital). Dengan demikian, bagi mereka  yang memiliki uang yang cukup atau berlebih, biasanya mereka selalu merencanakan travel, tamasya, piknik, melancong baik ke wilayah nusantara maupun ke mancanegara.

Rasionalnya, semakin mereka sibuk dengan agenda piknik, pariwisata dan travel keliling nusantara dan dunia, maka bisa diasumsikan mereka tidak akan tertarik dengan aksi-aksi  radikalisme, apalagi radikalisme yang mengatasnamakan agama.

Apa manfaat yang bisa diambil dengan meributkan tata cara ibadah agama lain, atau lebih ekstremnya mengganggu kekhidmatan ibadah agama lain jika mereka bisa bersantai ria di pinggir pantai, di puncak gunung, di hotel berbintang, di tempat-tempat serupa yang membuat hati gembira, rileks dan damai? Rasanya, tak sedikit pun manfaat yang bisa dipetik dari perbuatan tercela di atas.

Dengan berkaca pada persoalan yang sudah diurai jelas di atas, ada satu tugas yang harus ditunaikan negara dengan cepat, yaitu menyediakan fasilitas hiburan murah atau wisata murah sebanyak-banyaknya di seluruh pelosok tanah air agar bisa dinikmati oleh seluruh warga negaranya.

Banyaknya berpiknik dan berpariwisata, diasumsikan akan bisa meminimalisasi orang untuk terjebak pada rayuan-rayuan surga yang diperdagangkan para teroris (ISIS dan lain-lain) di mana-mana. Dan kini, korbannya semakin hari semakin membludak.

Selain itu, ada strategi yang kedua, yaitu pemerintah memperbanyak lagi hari libur nasionalnya dengan tujuan tersebut. Para pekerja atau pegawai tidak melulu bergelut dengan pekerjaannya. Mereka butuh lebih banyak hiburan untuk masa depan yang lebih sehat, damai dan sejahtera. Selamat berlibur, kawan!

Artikel Terkait