1pengemis2.jpg
[Foto: kokiers.com]
Keluarga · 3 menit baca

Memutus Generasi Yatim Piatu di Indonesia

Terungkapnya kasus eksploitasi anak di Jakarta Selatan beberapa waktu lalu, seakan membuka mata kita akan hadirnya fenomena generasi yatim piatu di Indonesia. Mereka yang tidak memiliki orangtua dan keluarga yang mengasihi, menyayangi dan melindungi. Bukan karena keduanya telah tiada tapi karena hati nurani mereka telah menguap entah ke mana.

Mereka memang lahir dari rahim para orangtua, namun bukan pengasuhan yang mereka dapat melainkan penderitaan dan mimpi buruk. Para orangtua tersebut sepertinya lupa bahwa anak merupakan karunia Tuhan yang lekat dengan hak dan kewajiban. Lalu lupa akan tugas dan tanggung jawab untuk merawat, mendidik dan mengasuh anak-anaknya, malah membiarkan kekerasan dan ekspoitasi menimpa anak-anak malang tersebut.

Dalam kasus di Jakarta Selatan, pelaku menyewakan bayinya untuk dibawa mengemis. Untuk yang lebih besar mereka dipaksa mengamen, menjadi joki 3 in 1, menjual koran dan menjadi peminta-minta di jalanan. Bahkan yang lebih miris, mereka mencokoki sang bayi sebanyak dua kali sehari dengan obat penenang Clonazepam agar tidak rewel ketika mengemis.

Parahnya hal tersebut dilakukan sejak bayi bon-bon masih merah berumur belum genap satu bulan. Padahal menurut Psikolog Akasandra Putranto, pemberian obat penenang kepada anak di bawah umur, terlebih untuk bayi, sangatlah berbahaya. Karena obat tersebut akan menurunkan daya ingat, kecerdasan dan ketangkasan anak.

Mungkin fenomena ini hanyalah satu kasus dari sekian banyak kasus lainnya. Berdasarkan data statistik, sekitar 6% anak Indonesia yang berusia 10-14 tahun, atau sekitar 1,6 juta anak menjadi bagian dari angkatan kerja. Sementara itu, data dari Organisasi Buruh Internasional (ILO) menyebutkan bahwa 4,2 juta anak terlibat dalam pekerjaan berbahaya atau beresiko tinggi.

Data-data tersebut membuat kita terhenyak, betapa jutaan aset bangsa ini menjadi generasi yatim piatu yang tanpa daya dan mengalami kesulitan keluar dari lingkaran tersebut. Terlebih ketika Menteri Sosial Khofifah Indar Parawangsa menyatakan bahwa di Indonesia ada 4,1 juta anak terlantar.

Beberapa faktor penyebab terjadinya eksploitasi anak menurut hasil penelitian Jaringan Penanggulangan Pekerja Anak (JARAK) di antaranya adalah karena faktor kemiskinan, urbanisasi, rendahnya pendidikan, perubahan proses produksi akibat kemajuan teknologi, lemahnya pengawasan,  terbatasnya institusi untuk rehabilitasi dan juga unsur sosial budaya, di mana anak adalah potensi yang wajib berbakti kepada kedua orangtua.

Dalam konteks kekinian, faktor mentalitas dan gaya hidup pun turut berpengaruh. Demi memenuhi tuntuntan gaya hidup hedonis, tidak sedikit yang menggunakan cara-cara instan, meskipun harus mengorbankan buah hati mereka. Pada kasus yang terjadi di Blok M, bayi bon-bon disewakan untuk mengemis dengan harga Rp. 200.000 per harinya.

Sejatinya, hak anak-anak dijamin oleh negara sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dan Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Namun, penerapannya belum terlalu optimal karena masih banyak yang menganggap bahwa urusan anak adalah urusan internal keluarga masing-masing, sehingga pelaporan masih minim.

Selain itu, hukuman pidana bagi para pelanggarnya pun dianggap masih terlalu ringan, yakni hukuman penjara maksimal 5-10 dan denda maksimal Rp. 100 juta hingga Rp. 200 juta (Benedhicta, 2014). Harga yang terlalu murah dibandingkan masa depan anak-anak korban eksploitasi.

Untuk memutus generasi yatim piatu, dibutuhkan sinergi dan kerjasama dari berbagai pihak. Di antaranya Pemerintah, Lembaga Keagamaan, Lembaga Pendidikan, LSM dan masyarakat. Semuanya memiliki peran berbeda dalam menangani permasalahan ini.

Pada satu sisi, merevitalisasi konsep keluarga besar dapat menjadi salah satu solusi. Realita pengaruh modernisasi saat ini menyebabkan keluarga besar menjadi terpisah sehingga menjadi unit-unit yang berdiri sendiri. Bukan berarti keluarga besar harus berkumpul kembali dalam satu rumah, melainkan revitalisasi ikatan kekeluargaan dan kekerabatan harus dibagun kembali agar kuat.

Rasa cinta, keakraban, saling mengasihi dan semangat saling memperhatikan antara satu sama lain harus terus berlangsung dan berkembang. Tidak hanya terkait warisan nilai-nilai moral dan keagamaan belaka, namun juga terkait masalah sosial dan ekonomi. Rumah dan keluarga akhirnya kembali menjadi unit sentral dalam masyarakat.

Konsolidasi lembaga keluarga pun menjadi penting. Ketika terjadi eksploitasi pada anak, maka kerabat terdekat adalah pihak yang pertama kali menjalankan mekanisme pencegahan dan perbaikan, sehingga generasi yatim piatu tidak tumbuh. Para tetua dalam keluarga ditekankan untuk menihilkan limbah sosial agar lebih banyak kemaslahatan yang disumbangkan kepada masyarakat.

Selain itu, masyarakat pun harus bersatu padu menjalankan tanggung jawab ini. Dalam terminologi Islam, Al-Quran menyatakan bahwa upaya tersebut merupakan instrument terbaik untuk membersihkan masyarakat dari kejahatan dan keburukan sosial. Hendaknya kita saling mengingatkan jika penyimpangan terjadi di sekitar kita. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

Demi Allah, engkau harus menegakkan kebaikan dan mencegah kejahatan; peganglah tangan mereka yang melakukan kesalahan dan ajaklah mereka berlaku adil; tetapkan ia di jalan yang benar dan kalau tidak Allah akan menyelimuti hati sebagian kamu dengan hati sebagian lainnya dan mengutuk kamu sebagaimana Dia telah mengutuk lainnya. (Abu Daud dan Tirmidhi, Riadhus Salihin 198 h.50).

Mari bersama kita memutus generasi yatim piatu!