Mahasiswa
1 tahun lalu · 123 view · 5 min baca · Budaya 97105_55907.jpg
https://2.bp.blogspot.com

Memupus Terorisme dengan Keramahan

Terorisme adalah salah satu bentuk kejahatan yang tidak bisa dianggap main-main. Wakapolri Komjen Syafruddin menegaskan bahwa kejahatan kriminal tersebut adalah sebuah kejahatan luar biasa yang mengancam perdamaian dan keamanan, bukan sekedar kejahatan yang dibuat-buat untuk pengalihan isu.

Kinerja Kepolisian Republik Indonesia dan juga Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam menanggulangi terorisme perlu kita acungi jempol. Data menunjukkan hingga September 2015, sudah lebih dari 1000 teroris ditangkap dan ditindak oleh kedua badan tersebut. Belum termasuk aksi penangkapan lain yang sering kita jumpai di layar kaca akhir-akhir ini.

Banyaknya pemberitaan tentang penangkapan teroris yang menghiasi media massa Indonesia seakan tidak membuat teroris yang masih bebas mengisi amunisi jera sekaligus takut beraksi. Masih saja ada aksi teroris baru yang direkam kamera  dan naik tayang di media massa. Tentu saja, menimbulkan kegaduhan di masyarakat.

Dari premis di atas, kita mengetahui bahwa penanganan terorisme tidak cukup hanya dengan penangkapan dan penjatuhan hukuman kepada para pelaku terorisme dan orang-orang yang berpaham radikal.

Ada sebuah artikel menarik dari Stanislaus Riyanta, Analis Intelijen dan Terorisme Indonesia, Alumnus Pascasarjana Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia. Dikutip dari Detik.com, beliau mengatakan bahwa penindakan hukum dan penangkapan tidak mengubah pola pikir teroris.

 Penyebabnya adalah perilaku berbeda yang mereka terima selama di penjara, salah satunya dengan dipisahkan dengan tahanan tindak kriminal lain.

Kenyataannya, Masyarakat justru menanggapi orang-orang berpaham seperti ini dengan ekstrem. Mereka cenderung menjauhi dan tidak merangkul warga yang berpaham berbeda dengan kebanyakan. Mereka dianggap ancaman yang membahayakan layaknya bom nuklir dan bisa dikatakan sebagai pesakitan.

Dengan dipinggirkan seperti ini, kaum yang memiliki pemahaman radikal akan mudah terlecut emosinya. Mereka yang memiliki sifat eklusivitas alias suka memisahkan diri dari kelompok mayoritas akan merasa semakin panas melihat cemoohan masyarakat plus perilaku tidak sedap yang mengikuti.

Kondisi seperti itu akan membuat kaum radikal yang sudah panas memiliki alasan tambahan untuk melakukan gerakan revolusioner. Aksi kaum tersebut akan bertujuan untuk menghasilkan perubahan yang cepat dan cenderung destruktif.

Itulah yang menyebabkan bom dengan mudah diledakkan seperti anak kecil yang bermain kembang api di malam takbiran.

Masyarakat justru enggan mawas diri dengan fakta ini. Banyak yang meyakini bahwa rendahnya pendidikan dan ekonomi yang menyebabkan ISIS beserta kelompok teroris yang sudah terkenal kebanjiran relawan baru.

Jika ingin bukti nyat, tengok saja kasus Bahrul Naim. salah satu anggota ISIS yang saat ini berada di Suriah. Bahrun adalah sosok yang bependidikan tinggi dan memiliki taraf ekonomi yang baik. Bahkan Beliau adalah lulusan S2 dan berasal dari keluarga yang berkecukupan.

Alih-alih duduk di depan para mahasiswa dengan gelar dosen, Bahrum Naim malah duduk bersama ISIS dan merancang serangkaian aksi terror di Jakarta.

Yenny Wahid, anak Presiden Abdurrahman Wahid yang sekarang menjabat sebagai Presiden Wahid Institute, menyebut bahwa penyebab utama radikalisme adalah perasaan yang terasing. Ditambah dengan teralienisasi, terdeprivasi, dan kegelisah, anak-anak muda yg ingin melakukan sesuatu adalah penyebabnya. Lalu ISIS masuk dengan tawaran chance of heroism.

 Lahirlah satu aksi terorisme baru yang siap menghiasi media dan menimbulkan ketakutan.

Ahmed Fahour, perwakilan Australia dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI), juga mengatakan hal yang sama dengan Yenny Wahid. Menurut Fahour, makin banyaknya anak muda yang tergiur radikalisme - yang berujung terorisme - dikarenakan mereka merasa terasing, sehingga mudah tergoda bujuk rayu yang ditawarkan kelompok ekstrimis

Lebih parah lagi,, keterasingan dan perilaku tidak sedap tidak hanya ditunjukkan oleh masyarakat biasa. Bukan hanya kumpulan ibu-ibu yang membicarakan ustadz yang memberikan ceramah radikal saja yang melakukan hal tersebut. Pemerintah yang katanya adil terhadap semua warga negara Indonesia tanpa terkecuali juga ikut-ikutan.

Peristiwa tersebut terjadi di Sulawesi Selatan. Mantan narapidana yang sudah dideradikalisasi dipersulit dapat KTP (Kartu Tanda Penduduk.) Kasus itu sampai membuat kepala BNPT, Suhardi Alius, turun tangan untuk mengomentari hal tersebut.

Beliau mengatakan seharusnya tidak perlu terjadi dan membuat para teroris merasa kesulitan kembali ke masyarakat. Hal tersebut juga membuat mereka tidak nbisa move on dari paham radikal. Padahal mungkin mereka sudah berusaha untuk melupakannya

Seharusnya hal tersebut tidak perlu terjadi dalam pemerintahan. Sebagai pelayan publik nomor satu, aparatur sipil negara harus bisa memberikan yang terbaik bagi seluruh Rakyat Indonesia tanpa melihat paham atau agama mereka.

Namun penulis tidak akan membahas kesalahan pemerintah itu lebih lanjut. Di essay ini, fokus penulis ingin nyinyir terhadap ketidakpeduliaan masyarakat, bukan pada kesalahan pemerintah.

*******

Presiden Joko Widodo pernah mengatakan bahwa Indonesia butuh langkah terobosan untuk terus memerangi deradikalisasi. Hal itu menunjukkan bahwa selalu dibutuhkan langkah-langkah alternative untuk melawan terorisme dan radikalisasi. 

Tidak hanya lewat langkah hukum berupa penangkapan pelaku terorisme, namun melalui langkah-langkah pencegahan dan pendekatan yang baru.

Senada dengan Jokowi, kapolri Jenderal (Polisi) Tito Karnavian juga mengatakan bahwa penanganan terorisme tidak hanya bicara penangkapan pelakunya saja. Harus juga disertai tindakan pecegahan yang melibatkan semua lapisan masyarakat.

Dibutuhkan sebuah gerakan untuk mengajak semua lapisan masyarakat untuk mengubah sifat mereka terhadap orang-orang yang berbeda, baik berbeda paham, suku, ras, hingga agama. Harus ada perubahan perilaku masyarakat untuk mencegah maraknya perilaku terorisme yang diawali paham radikalisme tersebut.

Gerakan tersebut dikemas dalam sebuah kampenye sosial yang kreatif, inovatif, dan solutif. kampanye sosial sendiri menurut Prita Kemal Ghani, salah satu tokoh Public Relation di Indonesia, merupakan sebuah proses komunikasi yang dilakukan untuk menyebarluaskan pesan-pesan penting yang sangat diperlukan masyarakat.

Pesan utama yang disampaikan dalam kampanye ini berupa ajakan masyarakat Indonesia untuk kembali menunjukkan rasa kekeluargaan. Tersenyumlah kepada semua orang. Lupakan segala perbedaan dan kembali bercengkerama dengan keramahtamahan khas Indonesia.

Kampanye tentang merubah perilaku serta sikap dari masyarakat tentang perbedaan ini akan mempengaruhi kognitif, afektif, dan konasi masyarakat. Bagaimana ketidakramahan yang kita tunjukkan ternyata menjadi motivasi pihak tertentu untuk melakukan tindakan yang tak bertanggung jawab. 

Pesan tersebut akan dikemas untuk mengetuk pintu hati masyarakat untuk mulai sadar betapa pentingnya peduli dan bersikap baik dengan sesama. Semua itu akan mengarahkan masyarakat pada perubahan perilaku yang lebih baik.

Media sosial yang tak pernah lekang oleh waktu bisa dimanfaatkan untuk penyebaran nilai-nilai positif kampanye ini. Psikografis generasi muda yang narsistik dan tidak jarang mengumbar eksistensi diri dapat dimanfaatkan dengan cara mengajak mereka untuk menunjukkan aksi nyata dalam membagi keramahan dan kebaikan terhadap siapa saja, kapan saja, dan di mana saja.

Dengan begitu, akan ada ribuan senyum yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Ribuan senyum tersebut akan menciptakan ribuan alasan bagi para teroris untuk mengurungkan aksi mereka.

#LombaEsaiKonflik

Artikel Terkait