Beberapa bulan yang lalu, pernah iseng buka YouTube secara acak. Konten apa saja tidak peduli karena menghabiskan sisa kuota yang mau habis temponya.

Aku menemukan sebuah konten sangat bermanfaat dari Mbak Fany Sebayang. Konten itu menceritakan konsep hidup minimalis. Wah, sepertinya aku tertarik untuk memulai hidup dengan konsep seperti itu.

Yang kupahami dari konsep hidup minimalis adalah mengurangi perilaku konsumtif dan mencari yang benar-benar prioritas. Kebutuhan dulu, baru keinginan.

Jujur, aku dulu sangat konsumtif. Sampai dua tahun lalu, aku berniat untuk mengurangi kebiasaan burukku itu. Dan, sampailah sekarang baru menemukan arti dari mengurangi perilaku konsumtif ternyata erat kaitannya dengan konsep hidup minimalis.

Zaman masih Sekolah Menengah Atas, hampir tiap hari Minggu aku pasti beli kerudung segi empat paris. Kerudung yang digemari pada masanya. Sembari ikut ibu berbelanja sayuran, aku menyempatkan diri mengingat warna apa yang belum kupunya. Ya, seperti itulah kebiasaan burukku.

Sekarang baru sadar ketika membongkar lemari, alangkah warna-warninya lemariku. "Ini lemari atau pelangi?" Umpatku dalam hati.

Kesal saja melihat bertumpuk-tumpuk dan paling kupakai hanya sekali atau dua kali. Parahnya, ada yang belum pernah dipakai. Masih perawan banget tuh pokoknya kerudung.

Karena ruang dalam lemari sudah tak muat menampung, maka aku harus mencari cara bagaimana bisa ada spasi untuk meletakkan baju-baju yang lain. Solusinya aku memberikan kerudung-kerudung yang pernah kukoleksi itu kepada keponakan atau sepupu-sepupuku. Syukurnya mereka dengan senang hati mau menerima.

Ini pelajaran berharga dalam hidupku. Aku tak mau mengoleksi barang-barang yang sebenarnya tak kubutuhkan lagi. Aku mau menata ulang hidupku.

Dengan menerapkan konsep hidup minimalis, maka membantu mengurangi sampah-sampah. Coba saja tadi tak ada yang mau menerima kerudungku, betapa sayangnya jika aku membuangnya? Bukankah itu hanya akan menjadi sampah?

Sekarang aku tak pernah membeli kerudung lagi. Kerudung-kerudung lamaku masih bagus-bagus. Selain kerudung paris, aku punya beraneka model kerudung yang semuanya kusuka (maklumlah si mantan pengoleksi, hehe). Jadi, aku menggunakan apa yang sudah kupunya itu.

Jika melihat teman-teman lain membeli model kerudung terbaru, rasanya ingin beli juga. Tapi, sekarang aku sudah punya rem untuk mengontrol keinginan borosku tersebut.

Istilahnya, pakaian tidak terlalu penting-penting amat. Kenapa? Ya pasti kita sudah punya pakaian masing-masing. Meskipun bukan model terbaru. Jika kotor, ya tinggal dicuci, dikeringkan, dipakai lagi. Bukan cuma punya satu kan? Berbeda dengan makanan, jika sudah dimakan, ya pasti habis dan harus beli. Makanan termasuk prioritas.

Ibu pernah memberikan wejangan, sebagus dan seterbaru apapun model pakaian, sebenarnya tergantung yang memakai. Toh, muka kita juga tak berubah jika pakaiannya selalu ganti baru tiap harinya. Yang penting bersih, nyaman, dan rapi.

Itu adalah wejangan ketika anak gadisnya sedang sibuk koleksi baju terbaru (ups). Pasti ibu kesal setengah mati, aku saja mengingat kebiasaan burukku sendiri kesalnya minta amplop.

Berusaha mengubah kebiasaan buruk memang tak semudah mendengarkan kata-kata dari orang lain. Butuh merasakan sendiri kesulitan dan tantangannya. Karena teori-teori secanggih apapun, tiada berguna tanpa kita mencoba melakukannya sendiri.

Bukan hanya kerudung. Semua aku batasi menjadi yang benar-benar butuh saja. Semua ini kumulai dengan niat dan usaha yang luar biasa tertatih.

Pertama, ketika akan pergi berbelanja, jangan lupa dicatat dulu yang penting-penting. Takutnya nanti di tempat tujuan yang dibeli lain sama yang dibutuhkan (salah satu kebiasaan burukku yang lain, hehe).

Kedua, setelah dicatat yang benar-benar dibutuhkan, baru dihitung total uangnya. Jangan sampai membawa uang banyak. Diusahakan pas dengan barang-barang yang dicatat saja.

Ketiga, jangan tergiur diskon. Apalagi jika barang yang didiskonkan sudah ada di rumah hanya berbeda warna atau bentuk saja. Misalnya, beli dua puluh renteng minuman sachet ada gratisan gelas cantik. Nah, di rumah sudah ada gelas kan? Ya sudah, tidak perlu membeli minuman itu jika hanya demi dapat hadiahnya saja.

Pada dasarnya kesalahan dan kebiasaan buruk itu sifatnya baik jika kita mau berpikir dan membenahinya. So, jangan lelah untuk memperbaiki diri sesulit apapun godaannya (diskon misalnya, ups).

Kualitas akan selalu lebih baik daripada kuantitas. Lebih baik punya satu yang bagus daripada punya banyak tapi cepat rusak. Lebih baik punya satu pasangan tapi yang nyaman, daripada banyak tapi tiada yang pas di hati (eh, maaf curcol).

Jadi, untuk kasus tergiur gelas cantik tadi, di rumah pasti sudah ada gelas kan? Fungsinya tetap sama untuk minum. Untuk apa ingin hadiah itu, bukankah nanti hanya menambah sempit rak piringnya?

Nah, itulah sedikit tips dasar menuju konsep hidup minimalis ala diriku. Semoga bermanfaat, ya pembaca tercinta.