Pelantan
2 bulan lalu · 115 view · 4 menit baca · Gaya Hidup 64137_80107.jpg
vegasnews

Memuja Selebritas

Manusia adalah makhluk berperasaan, sehingga rasa bagi manusia menjadi landasan yang kuat. Ketika ada seseorang yang memiliki satu set badan lengkap tanpa dapat merasakan rasanya sendiri, apalagi rasa manusia lainnya, dia seakan robot. Walaupun memiliki kepandaian melebihi para perancangnya, belum bisa memiliki rasa.

Segala perkara maupun peristiwa yang memberikan manfaat pada rasa manusia pasti berguna bagi keberlangsungan umat manusia. Rasa kasih sayang, misalnya, yang sanggup membawa manusia pada rasa sama. 

Rasa sama membuat segala yang dilakukan memberikan kegembiraan; sama-sama merasakan adanya kesamaan, kesetaraan, maupun keserupaan rasa antara dia sendiri dengan seluruh penghuni alam raya. Kosok balen dari rasa beda yang merasa berbeda dari orang lain. Rasa beda rentan memantik gairah pertikaian maupun ketidakpedulian yang membuahkan perilaku meresahkan.

Sebagai makhluk berperasaan, berunjuk rasa merupakan perilaku yang wajar dilakukan. Entah unjuk rasa melalui rupa, nada, gerakan, tulisan, dsb. dst., termasuk bergeming. Segala unjuk rasa yang bisa menggembirakan rasa ataupun menjadi sarana melepas rasa lara menimbulkan kekaguman pada pengunjuk rasa. Kekaguman menyebabkan manusia yang dikagumi mewujud sebagai panutan.

Semua orang tentu memiliki panutan. Mulai orang tua, keluarga, tetangga, sahabat, guru, teman, hingga sosok lainnya, termasuk sosok yang dikenal sebagai public figure


Panutan, baik seorangan atau sekerumunan, memberi semangat terhadap langkah yang dijalani dalam keseharian. Panutan memiliki peran psikis, yang dapat memengaruhi pandangan (cara, sudut, jarak, sisi, dan resolusi) terhadap sesuatu, bahkan bisa memengaruhi seseorang sepenuhnya. 

Seorang panutan biasanya menjelma sebagai sosok agung bagi pengagumnya. Sosok yang memiliki daya dorong luar biasa hingga sanggup membawa batin pengagumnya larut terhadap beberapa perkara. Saking hanyut batin itu sampai perilaku tak bisa dirunut dengan nalar biasa.

Setiap manusia layak menjadi panutan, entah manusia tersebut dipandang sebagai sosok besar karena banyak orang juga mengaguminya atau dipandang sebagai sosok kecil karena sedikit orang yang mengenalnya. 

Sepanjang orang menunjukkan kesungguhan, pasti ada orang yang menjadikannya sebagai panutan, meski diam-diam. Salah satunya ialah orang yang mendapat semat sebagai selebriti.

Siapa yang disebut selebriti?

Selebriti berarti orang terkenal karena terlalu diperhatikan oleh masyarakat sehingga menarik dunia pemberitaan untuk menayangkan setiap hal terkait.

Menurut Kamus Bahasa Indonesia dari Pusat Bahasa, selebriti diartikan sebagai orang yang terkenal atau masyhur (biasanya tentang artis). Kata selebriti dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari celebrity dalam bahasa Inggris. Celebrity berakar dari kata celebrate yang artinya 'rayakan', 'merayakan'. Setiap gerak langkahnya, selebriti tak pernah luput dari sorotan media massa.

Ada sebagian selebriti menjadi populer karena prestasi dan kiprahnya, ada pula selebriti yang populer karena kontroversi kehidupannya. Karier yang sukses dalam bidang olahraga dan hiburan juga berkaitan dengan status sebagai selebriti, sedangkan tokoh-tokoh politik sering kali menjadi selebriti atau sebaliknya, yakni selebriti merambah dunia politik.

Setiap orang dapat menjadi selebriti karena perhatian media massa tertuju pada gaya hidup, kekayaan, atau tindakan kontroversial seseorang, atau karena hubungannya dengan orang yang lebih dahulu terkenal. Namun, pemaknaan terhadap selebriti acap kali terpadu dengan penyebutan istilah artis, padahal secara esensi keduanya memiliki perbedaan.

Selebriti dan Perjuangan


Yang membuat kaum selebriti khas dan elite adalah karena sikap dan cara hidupnya berbeda atau bahkan bertentangan dibanding kebanyakan orang.

Kebanyakan orang cenderung melakukan apa yang ia senangi dan tidak melakukan apa yang ia tidak senangi. Sementara kaum selebriti sering kali sengaja tidak melakukan hal-hal yang ia senangi, dan justru melakukan apa-apa yang tidak ia senangi — dalam batas-batas bahwa itu semua tidak melanggar syariat agama dan hukum negara.

Kaum selebriti sengaja melatih mental untuk setiap saat siap mengerjakan suatu perjuangan sosial meskipun secara pribadi ia tak menyukainya, atau sewaktu-waktu ia meninggalkan kesenangan pribadinya untuk kepentingan yang lebih luas.

Itu yang dinamakan mental dan kepribadian pejuang.

Itu berbeda dibanding bayi dan anak-anak — berapa pun usia bayi-bayi itu dan apa pun jabatan anak-anak itu — yang hanya sanggup melakukan yang ia senangi dan selalu menghindar dari yang tak ia sukai.

Cara Makan Selebriti

Kaum selebriti itu mewah, ilmiah, elite, pokoknya berbeda dengan kebanyakan orang, termasuk dalam soal makan.

Kebanyakan orang pergi makan kapan ia ingin makan. Sedangkan selebriti hanya makan kalau sudah hampir tiba di titik ambang kelaparan. Sebab kalau ia membiarkan diri kelaparan, berarti ia melanggar amanat Tuhan untuk merawat kesehatan badan.

Kebanyakan orang makan sekenyang-kenyangnya. Sedangkan selebriti berhenti makan sebelum menyentuh keadaan kenyang, sebab pada batas itulah terletak optimalitas kesehatan dan kecerahan kreativitas hidup.

Kebanyakan orang memilih makanan yang disukainya. Sedangkan selebriti mengambil makanan yang menyehatkannya jasmani rohani, atau dengan kata lain yang halal dan thayyib.


Kebanyakan orang menghindarkan diri dari makanan yang tak disukainya. Sedangkan selebriti siap mengunyah dan menelan apa saja, meskipun pahit, amis dan tak disukainya — karena menyadari tanggung jawab sosial yang wajib dikerjakannya.

Dalam semua konteks yang saya sebutkan ini, kaum selebriti adalah pemimpin manusia. Masing-masing fans adalah kelompok yang dipimpin oleh selebriti tersebut. Dalam semua konteks ini pula Kim Kardashian adalah pemimpin kaum selebriti.

Artikel Terkait