Kirana ♈ Azalea
4 hari lalu · 143 view · 4 min baca menit baca · Hiburan 11598_68171.jpg
Dok. Pribadi

Memuja Nita Thalia Sewajarnya

Buat orang yang tak suka Nita Thalia, tentu boleh tetap bernafas. Walakin hembusan nafasnya tak perlu disertai cibiran kelewat cemar, apalagi berperilaku beringas. 

Nama lengkapnya Nita Yulianti. Perempuan yang lahir pada 10 Oktober Agustus 1982 ini mulai menekuni karier sebagai penghibur sejak menyapa khalayak sebagai penyanyi. Sejak saat itu, namanya dikenal lebih luas oleh masyarakat hingga muncul ragam macam prestasi dan kontroversi.

Dikenal luas membuat Nita Thalia akrab dengan beragam semat terhadapnya. Nita Thalia begitu dipuja oleh sebagian kalangan seperti halnya dinista sebagian lainnya. Wajar saja, Nita Thalia memang kerap bersikap terbuka, sikap yang membuat sebagian manusia merasa dirisak karenanya.

Sebagai penghibur, Nita Thalia beberapa kali terlibat kontroversi. Namun itu hanya pandangan sekilas saja. Kalau ditelisik lebih dalam, banyak catatan mengesankan berhasil diukir oleh perempuan penyuka kucing ini. 

Jika catatan mengesankan Nita Thalia diwedarkan seluruhnya, maka catatan ini hanya akan penuh dengan daftar prestasi yang telah diukir perempuan berdarah Sunda ini. Namun prestasi yang paling asyik dielaborasi ialah cara Nita Thalia menata diri.

Nita Thalia pernah jatuh, kemudian bangkit lagi, berulang kali. Dalam setiap kesempatan yang membuatnya jatuh, ia senantiasa memanfaatkan sebagai titik epik dalam perjalanan selanjutnya; setitik perlintasan yang membuatnya makin tegar dalam mengayuh perjalanannya.

Kegagalan yang sempat dialami tak begitu saja membuat Nita Thalia langsir. Ia malahan berhasil untuk terus tetap mengalir, mengalir untuk menyedot perhatian kerumunan; perhatian yang turut membuatnya sanjungan dan cibiran akrab dengan perjalanannya. 


Satu sisi, diri irinya sangat dicinta laiknya Mûsâ saat berhasil menyelamatkan muruah bangsa Israel setelah diinjak bangsa Mesir. Perhatian yang juga membuatnya begitu dibenci seperti Firaun era Mûsâ sebagai pencetak catatan kelaliman luar biasa.

Apa pun semat yang diberikan padanya, yang jelas Nita Thalia bukanlah Mûsâ maupun Firaun era Mûsâ. Segala pujian dan kata sanjungan tak membuatnya melayang seperti halnya segala hinaan dan caci maki tak membuatnya tumbang begitu saja. 

Nita Thalia mengerti bahwa dampak mementaskan diri sebagai penghibur adalah segala perkara maupun peristiwa yang berkelindan dengannya tak bisa dilepaskan dari sorotan media.

Sorotan itu membuat Nita Thalia menjalani keseharian seperti ‘Alī bin Abī Thālib dan Ā’isha bint Abī Bakr. Mereka sama-sama menjadi sosok yang sangat dicintai oleh sekerumunan dan begitu dibenci oleh sekerumunan lainnya. Wajar, lantaran mata yang cinta selalu tumpul dari segala cemar. Begitu juga mata yang penuh amarah hanya mudah memandang segala yang nista.

Segala semat yang dialamatkan pada Nita Thalia tak membuatnya berhenti meniti tatanan dan menata titian. Nita Thalia tetap bahadur sebagai penghibur yang dicintai serta dibenci secara bersamaan. 

Sebagai sosok yang dipuja sedemikian rupa oleh sebagian orang serta dinista sedemikian rupa oleh selainnya, Nita Thalia sanggup membikin manusia saling menyapa lantaran sama-sama merasa sama sebagai manusia, entah memujanya atau menistanya.

Tidak semua orang sanggup menarik perhatian kerumunan seperti dilakukan oleh Nita Thalia. Derap kehadirannya sanggup membuat tak sedikit orang merasa waktunya luang untuk menjadikannya sebagai bahan perbincangan; perbincangan yang membuat namanya turut hadir dalam berbagai suasana; perbincangan yang bisa meriuh-meriahkan lingkungan walakin tak membuat ia berhenti meniti tatanan dan menata titian.

Sebagian orang memandang puan ini bukanlah sosok tak pantas untuk dikagumi karena hanya manusia biasa. Memang Nita Thalia hanyalah manusia biasa, manusia biasa yang butuh makan, minum, maupun tidur serta bisa berpeluh lelah, berkeluh kesah, merasa bad mood menghadapi serbuan orang, dsb. dst.. 

Meski begitu, Nita tetaplah sah-sah saja menjadi sosok yang dikagumi. Bukankah salah satu perkara yang membuat sosok sebesar Muhammad asyik dikagumi adalah karena dirinya menjalani keseharian sepertihalnya dalam posisinya sebagai rasul dan nabi?

Nita Thalia senantiasa mementaskan kesungguhan untuk bisa menjadi manusia biasa seperti manusia lain yang biasa membincangkannya. Perempuan yang menyukai hard rock ini terus menyelami ruang rasa agar kehadirannya memberi rasa gembira disertai kepedulian merawat kepantasan penampilan raga.


Kesungguhan Nita Thalia untuk bisa menjadi manusia seutuhnya juga dilakukan dengan menumbuh-kembangkan sisi femininine dan masculinine. Sisi masculinine yang dipentaskannya dengan perilaku fearless selaras dengan perilaku kenes pementasan sisi femininine. Dua sisi berlawanan yang ada dalam setiap manusia ini sanggup dipadukan sekaligus dengan bagus untuk membentuk dirinya menjadi sosok queen.

Kesungguhan melakoni keseharian dengan mementaskan laku seperti itu membuat Nita Thalia tak salah mendapat semat sebagai manusia paripurna. Manusia yang petuahnya pantas di-gugu (memotivasi) dan rekam jejaknya layak di-tiru (menginspirasi). Manusia yang memiliki daya dorong luar biasa pada manusia lainnya.

Ketika Nita Thalia mapan berdiri di hadapan sanjung puja dan popularitas, dirinya tetap berusaha untuk bisa menjadi panutan yang laras. Seorang panutan yang tak hendak menjadikan popularitas sebagai Tuhan. Perjalanannya adalah ikhtiar dan takdir yang selaras. Ia terus bersyukur ikhtiar yang dilakukan selaras dengan takdir yang digariskan.

Gempuran cibiran terhadap Nita Thalia memang tak selalu bisa disirnakan. Namun dirinya tetap tegap berusaha untuk tampil menghibur yang papa dan mengingatkan yang mapan. Penampilan yang memudahkannya menjadi penyebar virus-virus cinta pada manusia lainnya. Virus yang membuat manusia saling mencintai manusia seperti mencintai Tuhannya sang Pencipta.

Sebagian orang boleh saja memandangnya dengan cemar dan rajin mencibir. Meski demikian, Nita Thalia tak langsir ungkapan nyinyir yang dialamatkan padanya dari para tukang pandir. Biar pun sebagian orang sirik tiada akhir, ia terus tetap mengalir.

Karena Nita Thalia adalah manusia biasa, maka tak sulit bagi manusia lainnya untuk menikam rekam jejak yang ia pahatkan. Tak harus menikam rekam jejaknya sebagai penghibur, walakin mengikuti semangatnya untuk sepenuh hati menghadapi cibiran.

Dengan segala ungkapan yang dialamatkan padanya maupun menyinggung namanya, Nita Thalia tetaplah Nita Thalia. Ia terus melangkah tanpa bisa dituturkan melalui kata dan aksara sepenuhnya, karena perempuan memang sulit dimengerti meski tetap bisa dinikmati.

Artikel Terkait