Beberapa hari terakhir ini wacana tentang pembangunan Disneyland di Yogyakarta sedang ramai diperbincangkan. Pro dan kontra muncul sebagai reaksi dari wacana pembangunan Disneyland yang diharapkan bisa membantu perkembangan pariwisata beserta industri penunjangnya di Indonesia tersebut.

Sebenarnya rencana pembangunan Disneyland bukan bertempat di pusat Kota Yogyakarta, namun di Kabupaten Kulonprogo. Lokasi detailnya yaitu di Desa Tuksono, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulonprogo.[1]

Pemilihan Kulonprogo sebagai tempat pembangunan Disneyland karena di Kulonprogo juga akan dibangun Bandara Internasional New Yogyakarta sebagai jalur tunggal pesawat komersial masuk ke Yogyakarta menggantikan Bandara Adi Sucipto yang dialih fungsikan.

Disneyland diharapkan bisa menjadi obyek wisata pilihan pengunjung Jogja yang menggunakan pesawat karena lokasinya tidak terlalu jauh dengan bandara.

Beberapa pihak mengatakan Disneyland akan mengangkat kesejahteraan masyarakat Kulonprogo. Beberapa pihak juga mengatakan Disneyland akan membantu kemajuan Kulonprogo. Tapi apakah semudah itu ?

Perlu diperhatikan bahwa dalam memutuskan sesuatu terkait pembangunan Disneyland jangan hanya mempertimbangkan dampak positifnya saja, akan tetapi dampak negatif juga harus dipertimbangkan agar kelak jika sudah terealisasikan tidak merugikan masyarakat.

Gambar 1. Disneyland
(Sumber : www.pinterest.com)

Dampak Positif Pembangunan Disneyland

Pemilihan lokasi pembangunan Disneyland di Kulonprogo tentunya akan menghadirkan dampak positif bagi Kulonprogo beserta masyarakatnya.

Adapun kemungkinan dampak positif pembangunan Disneyland jika memang direalisasikan adalah sebagai berikut :

1. Bertambahnya lapangan pekerjaan

Kehadiran Disneyland tentu akan menyedot tenaga kerja di wilayah DIY. Disneyland merupakan wahana wisata raksasa sehingga diprediksi akan membutuhkan banyak tenaga kerja.

Jumlah pengangguran di DIY hingga akhir Agustus 2016 lalu mencapai angka 57.040 orang dari sekitar 2.099 juta penduduk.[2] Jumlah pengangguran tersebut bisa ditekan dengan terbukanya lapangan pekerjaan di Disneyland.

2. Meningkatkan pendapatan daerah

Pendapatan asli daerah Kulonprogo bisa meningkat dari sektor pajak Disneyland. Peningkatan pendapatan daerah tersebut bisa digunakan untuk melakukan pembangunan atau perbaikan berbagai macam infrastruktur di Kulonprogo yang bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat.

Selain itu, UMK Kulonprogo setidaknya juga bisa naik dan tidak terus berada pada peringkat kedua dari bawah di Provinsi DIY.

3. Membuka lapangan wirausaha bagi masyarakat

Kehadiran Disneyland tentunya akan menarik wisatawan dari seluruh Indonesia atau mancanegara untuk datang mengunjunginya. Masyarakat bisa memanfaatkan moment tersebut salah satunya dengan berjualan berbagai macam kerajinan atau batik khas Kulonprogo di area dekat Disneyland.

Dengan seperti itu maka kesejahteraan masyarakat khususnya pengerajin atau pedagang bisa lebih terangkat.

4. Fasilitas umum menjadi lebih baik

Perbaikan fasilitas umum seperti jalan raya akan dilakukan oleh pemerintah guna menunjang kenyamanan wisatawan dalam wisatanya ke Disneyland. Jalan-jalan akan mengalami pelebaran untuk mengantisipasi membludaknya jumlah kendaraan yang melintasi Kulonprogo.

 5. Mengembangkan pariwisata Indonesia

Disneyland merupakan wahana wisata yang sudah mendunia. Kehadiran Disneyland di Indonesia tentu akan menjadi daya tarik tersendiri bagi turis asing untuk mengunjungi Indonesia. Selama ini mungkin obyek pariwisata Indonesia yang sudah terkenal di mancanegara hanyalah Pulau Bali.

Dengan adanya Disneyland maka akan bertambah lagi obyek pariwisata Indonesia yang terkenal di mancanegara. Kondisi tersebut diprediksi akan membuat turis asing semakin banyak yang mengunjungi Indonesia untuk berwisata.

Akibatnya tentu saja akan lebih mengembangkan sektor pariwisata beserta industri penunjangnya di Indonesia. Selain itu, pendapatan negara juga akan bertambah seiring semakin banyaknya turis asing yang masuk Indonesia.

Dampak Negatif Pembangunan Disneyland

Tidak adil rasanya jika melakukan pembangunan hanya mempertimbangkan dampak positifnya saja. Dampak negatif juga perlu untuk dipertimbangkan agar kelak jika memang Disneyland sudah direalisasikan tidak menyebabkan kerugian untuk masyarakat.

Adapun beberapa kemungkinan dampak negatif pembangunan Disneyland adalah sebagai berikut :

1. Invasi tenaga kerja dari luar daerah

Seperti yang telah diketahui, Disneyland merupakan wahana wisata raksasa yang membutuhkan banyak tenaga kerja. Jika kelak benar direalisasikan, bukan tidak mungkin tenaga kerja dari luar daerah akan berbondong-bondong untuk melamar pekerjaan di Disneyland.

Kondisi tersebut tentunya akan memperberat peluang tenaga kerja asli DIY untuk mengakhiri status penganggurannya. Kemudian, perlu diketahui juga bahwa Disneyland itu berasal dari luar negeri sehingga potensi untuk kedatangan tenaga kerja asing juga cukup besar.

2. Kemacetan

Tidak bisa dipungkiri bahwa Disneyland merupakan primadona tempat wisata di seluruh dunia. Kehadiran Disneyland di Kulonprogo akan membuat banyak wisatawan dari luar daerah mengunjungi Kulonprogo.

Kondisi tersebut tentunya rawan untuk menimbulkan kemacetan. Apalagi di Kulonprogo juga ada Bandara Internasional New Yogyakarta sebagai jalur tunggal pesawat komersial masuk ke Yogyakarta.

Untuk saat ini, waktu tempuh normal perjalanan dari Yogyakarta menuju Kulonprogo hanyalah sekitar 1 jam, namun beberapa tahun ke depan bukan tidak mungkin waktu tempuh itu akan semakin lama akibat banyaknya kendaraan yang datang ke Kulonprogo entah itu mau ke bandara ataupun ke Disneyland.

3. Tarif tiket masuk yang terlalu tinggi bagi sebagian masyarakat

Menurut surat kabar, harga tiket masuk Disneyland termurah sedunia yaitu ada di Disneyland Shanghai Tiongkok dengan nominal 370 Yuan (Rp 766.000,00) per orang dewasa normal. Sedangkan untuk anak-anak dengan tinggi badan hingga 140 cm, lansia usia 65 tahun ke atas, serta pengunjung dengan disabilitas akan mendapat diskon sebesar 25%.[3]

Harga seperti itu termasuk masih tinggi jika untuk sebagian masyarakat Kulonprogo. UMK Kulonprogo tahun 2017 ini menempati peringkat 2 dari bawah di Provinsi DIY dengan nominal Rp 1.373.600,00.[4] Nominal tersebut jelas sangat kurang jika harus digunakan untuk memenuhi kebuthuan sehari-hari serta untuk berlibur ke Disneyland.

Dampak positif pembangunan Disneyland akan cenderung dirasakan masyarakat golongan atas. Sedangkan masyarakat pribumi yang tingkat kesejahteraannya menengah ke bawah mungkin hanya bisa menjadi penonton. Akan sangat ironis jika masyarakat pribumi tidak bisa berwisata di wahana wisata yang dibangun di daerahnya sendiri.

4. Berkurangnya areal hijau

Pembangunan Disneyland tentunya akan memakan tempat yang cukup luas. Akibatnya, areal hijau di Kulonprogo seperti sawah ataupun kebun tempat tumbuh pepohonan akan berkurang. Desa Tuksono sebagai calon tempat pembangunan Disneyland memiliki areal persawahan seluas 192 ha.[5]

Pembangunan Disneyland juga berpotensi diikuti pembangunan infrastruktur penunjangnya seperti hotel, apartemen, mall, restoran, dll. Kondisi tersebut tentu akan lebih mengurangi lagi areal hijau di Kulonprogo. Tidak bisa dibayangkan jika kelak banyak kendaraan yang lalu lalang di Kulonprogo namun jumlah areal hijau sebagai penyerap polusi udara hanya sedikit.

5. Ditutupnya tempat mencari nafkah

Menurut Perda Kabupaten Kulonprogo No. 1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kulonprogo Tahun 2012 – 2032, Kecamatan Sentolo ditetapkan sebagai kawasan industri di Kulonprogo. Desa Tuksono sebagai calon tempat pembangunan Disneyland masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Sentolo.

Di Desa Tuksono saat ini juga telah berdiri pabrik traktor dengan merk yang sudah terkenal di Indonesia. Apabila dalam beberapa tahun ke depan Disneyland jadi direalisasikan, maka bukan tidak mungkin pabrik tersebut akan ditutup dan berakibat pada banyaknya pegawai yang di PHK.

Kondisi tersebut tentunya akan meningkatkan angka pengangguran di Kulonprogo. Di sisi lain, biaya hidup di Kulonprogo juga berpotensi naik akibat kehadiran Disneyland.

6. Ancaman lunturnya budaya Yogyakarta

Di dalam Undang-Undang Keistimewaan disebutkan bahwa Yogyakarta adalah kota budaya, wisata, dan pendidikan. Namun faktanya saat ini Yogyakarta lebih terkenal dengan budaya dan pendidikannya. Pembangunan Disneyland akan membuat wisata Yogyakarta lebih terkenal dan juga turut membantu perkembangan pariwisata Indonesia.

Akan tetapi, kehadiran Disneyland juga akan membawa pengaruh budaya barat yang mungkin tidak sejalan dengan budaya Yogyakarta. Budaya disini bukan hanya sebatas tarian, batik, atau bahasa, namun juga mencakup tata krama, kepribadian, sopan santun, dll.

Salah satu budaya Yogyakarta yang turun-temurun adalah penerapan “unggah-ungguh” atau tata krama Jawa kepada orang yang lebih tua.

Generasi muda sebagai penerus estafet kelangsungan kehidupan di Yogyakarta jangan sampai kehilangan budaya seperti itu hanya karena terpengaruh dengan gaya hidup pengunjung Disneyland dari luar daerah yang rata-rata dari kalangan kelas atas.

7. Menurunkan daya tarik terhadap wisata alam

Kehadiran Disneyland di Kulonprogo diprediksi bisa menurunkan daya tarik terhadap wisata alam yang ada di Kulonprogo. Saat ini ada banyak wisata alam yang dapat dijumpai di Kulonprogo mulai dari pantai di dataran rendah hingga kebun teh di dataran tinggi.

Wisatawan berpotensi lebih tertarik mengunjungi Disneyland yang sudah mendunia daripada mengunjungi wisata alam yang selama ini telah berusaha dikembangkan oleh pemkab ataupun masyarakat.

Pembangunan Disneyland sudah pasti akan menghadirkan dampak positif dan negatif. Pemerintah hendaknya mempertimbangkan berbagai macam dampak yang akan timbul dari pembangunan Disneyland sebelum melontarkan persetujuan ataupun penolakan.

Hal tersebut bertujuan agar kelak jika memang benar direalisasikan maka Disneyland tidak hanya menguntungkan kaum kalangan atas saja, namun juga bisa memberi efek positif bagi kaum kalangan menengah ke bawah.

Dalih ganti rugi yang tinggi akan diupayakan jika memang Disneyland positif untuk dibangun. Namun sekali lagi, pemerintah diharapkan benar-benar mengkaji dampak yang akan timbul dari pembangunan Disneyland sebelum memutuskan sesuatu.

Semua suara masyarakat tentang penolakan menjadi tidak ada gunanya jika pemerintah menyetujuinya. Begitu pula sebaliknya, semua suara masyarakat tentang persetujuan menjadi tidak ada gunanya jika pemerintah menolaknya.

Di dalam suatu proyek pembangunan pastilah ada pihak yang dirugikan, namun akan lebih bijaksana jika pihak yang dirugikan tersebut bukanlah masyarakat.

Memang nominal ganti rugi terlihat menggiurkan, akan tetapi berapapun besar nilai nominal tersebut tetap saja terlalu murah jika untuk membeli kelestarian lingkungan, kearifan lokal masyarakat, apalagi budaya yang selama ini mengakar di Yogyakarta.

[1] Disneyland Dikabarkan Akan Dibangun di Sentolo

http://www.harianjogja.com/baca/2017/01/10/proyek-di-kulonprogo-disneyland-dikabarkan-akan-dibangun-di-sentolo-783020

Diakses pada 14 Januari 2017

[2] Jumlah Pengangguran di Yogyakarta Menurun

http://ekbis.sindonews.com/read/1154149/33/jumlah-pengangguran-di-yogyakarta-menurun-1478709491

Diakses 15 Januari 2017

[3] Inikah Disneyland dengan Tiket Termurah Sedunia?

http://travel.detik.com/read/2016/02/05/173036/3136004/1382/inikah-disneyland-dengan-tiket-termurah-sedunia

Diakses pada 14 Januari 2017

[4] Soal Upah Rendah, Buruh Gugat Sri Sultan HB X https://nasional.tempo.co/read/news/2017/01/08/058833833/soal-upah-rendah-buruh-gugat-sri-sultan-hb-x

Diakses pada 14 Januari 2017

[5] Pemerintah Desa Tuksono

http://tuksono.sentolo.kulonprogokab.go.id/tuksono/index.php?pilih=hal&id=111

Diakses 15 Januari 2017